Interaksi Hukum Islam Dan Budaya Lokal

0 comments
Pendahuluan

Kehidupan menusia tidak lepas dari norma-norma yang berlaku diling-kungannya, baik lingkungan masyarakat, negara, maupun agama. Tujuan dari norma-norma itu adalah untuk mensejahterakan dan mendamaikan semua yang ada dilingkungan tersebut. Secara umum kesemuanya mempunyai tujuan yang sama, namun pendekatan yang digunakan bisa berbeda. Oleh karena itu harus ada upaya sinkronisasi agar tujuan itu terwujud.
Hukum islam yang mempunyai sumber syar’i wahyu (al-Quran dan Hadis). Islam mempunyai pandangan sendiri tentang konsep baik dan tidak baik, yakni melalui ajaran yang terkandung didalamnya. Mayoritas umat islam menyepakati bahwa apa yang diajarkan oleh islam merupakan hal baik dan apa yang dilarang olehnya merupakan hal yang tidak baik. Jadi hukum islam sangat bergantung pada Nash (al-Qur’an dan Hadis). Seiring dengan meluasnya islam yang telah diterima masyarakat yang mempunyai kepercayaan berbeda sebelumnya, islam pun tertuntut untuk merespon masyarakat agar ajarannya bisa diterima . Untuk itu islam harus peka terhadap sosio-kultural masyarakatnya, apalagi menyangkut adat-istiadat masyarakat. Disinilah dibutuhkan sinkronisasi antara norma (baca hukum) agama dan adat.
Menkaji budaya lokal erat kaitannya dengan adat istiadat masyarakat. Landasan hukum adat tak lain hanyalah kebiasaan masyarakat didaerah tersebut yang dianggap baik, bukan wahyu ataupun hukum tertulis . Hanya dalam perkembangan saat ini hukum adat telah banyak dipengaruhi oleh norma-norma agama, karena hampir seluruh masyarakat adat telah memeluk agama. Norma adat kemudian disesuaikan dengan norma agama. Jadilah intraksi antara norma agama dan norma adat. Islam sebagai agama universal pun demikian, menyesuaikan adat-istiadat masyarakat kepada norma-norma yang berlaku dalam islam.

A. Syari’ah, Fiqh dan Hukum Islam
Syari’ah merupakan hukum-hukum dan aturan-aturan yang Allah syari’atkan bagi hambanya untuk diikuti. Istilah syari’ah dikhususkan untuk hukum ‘amaliyah . Sedangkan fiqh adalah mengetahui hukum-hukum syara’ yang bersifat ‘amaliyah yang dikaji dari dalil-dalil secara terperinci. Singkatnya, fiqh lebih merupakan dugaan kuat yang dicapai oleh seorang mujtahid dalam usaha menemukan hukum Tuhan.
Hukum Allah (syari’at) yang terdapat dalam nash (al-Qur’an dan hadis) merupakan wahyu yang sebagian menerangkan tentang hukum-hukum secara terperinci dan sebagain yang lain bersifat global. Oleh karena itu, fiqh berperan memperjelas dari maksud yang terkandung dalam syari’at. Fiqh tidaklah membahas pokok-pokok syari’ah, melainkan bersifat furu’iyah yang didapati dari penaralan dan pengkajian dari (sumber) syari’ah .
Istilah hukum islam dimunculkan oleh sarjana-sarjana Barat dalam mengkaji islam. Hukum islam adalah totalitas perintah Allah yang mengatur prilaku kehidupan umat islam dalam keseluruhan aspeknya. Sedangakan menurut Hasbi asy-Siddiqy memberikan definisi hukum islam dengan koleksi daya upaya fuqaha dalam menerapkan syaria’at Islam sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Menurut Dr. Fathurrahman Djamil, hukum islam berarti seperangkat peraturan berdasarkan wahyu Allah dan Sunnah Rasul tentang tingkah laku manusia mukallaf yang diakui dan diyakini berlaku dan mengikat untuk semua umat islam. Lebih lanjut ia berkomentar bahwa definisi hukum islam lebih mencakup hukum Syari’ah dan hukum fiqh.
Dalam kajian ini, istilah yang digunakan ialah hukum islam karena lebih mewakili dari kedua istilah yang telah kami jelaskan diatas. Artinya antara syari’ah dan fiqh mempunyai korelasi dalam produk hukum, sebab hukum senantiasa berubah sesuai dengan waktu dan tempatnya, sedangkan sumber hukum tidak akan berubah (qath’i). Terbentuknya hukum islam bukan karena dorongan-dorongan kebutuhan praktis, tidak juga karena kebutuhan tehnik peradilan, akan tetapi karena kebutuhan akan gagasan-gagasan keagamaan dan etika . Fiqh lebih dinamis dan kreatif.

B. Adat, Hukum Adat dan Kebudayaan Lokal
Untuk mempermudah kajian ini, sebaiknya kita mengetahui makna adat, hukum adat dan budaya lokal. Hukum adat ialah hukum yang dijumpai dalam adat sebagai bagian integralnya, sebagai kelengapannya. Sedangkan adat selengkapnya ialah seluruh kebudayaan yang berkaedah sebagaimana tumbuh dan dikenal dalam masyarakat hukum adat. Yang dimaksud dengan hukum adat ialah aturan-aturan kehidupan masyarakat adat, akan tetapi disini istilah aturan diartikan sebagai aturan yang tidak tertulis. Jadi hukum adat membuat aturan-aturan yang tidak tertulis didalam kitab-kitab aturan, melainkan hanya aturan yang hidup dikarenakan kesadaran masyarakatnya. Mereka bertindak serta berbuat segala sesuatu berdasarkan norma adat, karena menurut kesadaran pendapat mereka, bertindak dan berbuat menurut norma adat itulah yang merupakan cara yang paling baik dilakukan agar timbul tata dan ketentraman didalam pergaulan hidup. Hal ini senada juga dengan pendapat Soepomo seperti yang dikutip oleh Suryono Sukanto bahwa sistem hukum adat bedasarkan pada suatu kebutuhan yang berdasarkan atas kesatuan alam fikiran.
Sedangkan kebudayaan, menurut Hazairin adalah sesuatu yang dihasilkan oleh pikiran dan perbuatan manusia dari kontak kerohaniannya dengan segala yang ada di alam ini . E.B. Tylor mendefinisikan kebudayaan adalah kompleks yang mencangkup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat dan kemampuan-kemampuan lain serta kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai masyarakat . Umumnya kebudayaan dikatakan sebagai proses hasil krida, cipta, rasa, dan karsa manusia dalam upaya menjawab tantangan kehidupan yang berasal dari alam sekelilingnya . Dapat disimpulkan bahwa kebudayaan merupakan tingkah laku masyarakat sebagai apresiasi diri. Maka antara adat dan kebudayaan lokal tidak jauh beda dalam kajian antropologis.
Kajian adat dan budaya ini sebenarnya lebih pada kajian antropologi, tetapi untuk suatu kemudahan dalam sosiologi hukum maka perlu juga mengatahuinya, sebab masyarakat tidak lepas dari adat dan budayanya masing-masing. Dalam kaitannya dengan itu penulis mencoba mentelaah intraksi hukum islam terhadap budaya lokal. Karena perkembangan islam di nusantara lebih pada terjadinya sinkretisme terhadap ajaran (baca hukum) islam sebagai akibat pengaruh kebudayaan masyarakat sebelum islam.

C. Interaksi Antara Hukum Islam dan Hukum Adat
Sebagai masyarakat sosial manusia harus saling berinteraksi antar sesama tanpa melihat agama, adat, ras, gologan serta beberapa bentuk strata sosialnya lainnya, sebab manusia adalah mahluk sosial yang saling membutuhkan. Dalam kaitannya dengan kajian hukum islam maka hal tersebut harus dibedakan, bukan karena ingin membagi masysrakat dalazm kelas-kelas tersebut tepapi kita lebih pada pendekatan sosoilogi hukum, bukan sosiologi secara umum. Oleh karena itu, kajian ini lebih mendekati pada sosiologi hukum islam dalam beradaptasi dengan lingkungan msyarakat lokal yang mempunyai budaya sendiri dilain pihak.
Islam sebagai agama yang sesuai dengan waktu dan zaman (likulli waktin wa zamanin) harus berintekrasi dengan masyarakat yang sebelumnya mempuanyai tata adat sendiri. Untuk menemukan benang merah antar keduanya perlu kita ketahui maksud dan tujuan hukum islam yang terkenal dengan istilah maqashid as-syari’ah. Secara umum maksud dan tujuan dari hukum islam (maqashid as-syari’ah) adalah untuk kemashlahatan manusia di dunia. Hal ini harus di artikan secara luas, maksudnya, pada dasarnya hukum islam hendak mewujudkan kebaikan kehidupan hakiki bagi manusia, bbaik secara individual maupun sosial.
Para ulama mengklasifikasikan maqashid as-syari’ah menjadi lima bagian aspek pokok (al-kulliyat al-khamsah), yakni (1) untuk kemashlahatan agama, (2) jiwa, (3) akal, (4) keturunan/kehormatan atau harga diri, (5) harta. Lima hal inilah yang secara umum harus dipelihara oleh hukum islam, memelihara dan menjaga lima hal ini akan mendatangkan mashlahat, sebaliknya mengabaikan lima ini akan mendatangkan mafsadat.
Sebelum agama-agama besar di dunia memasuki Indonesia, kususnya islam, adat di Indonesia dipengaruhi oleh kepercayaan asli bangsa Indonesia, yakni animesme. Kepercayaan masyarakat adat terhadap hal-hal gaib dan mistis sangat kental, tak heran bila mereka banyak melakukan ritual-ritual yang tidak ajarkan oleh agama. Bila dikaitkan dengan prilaku hidup masyarakat adat, maka yang harus menjadi patokan dalam adalah lima hal tersebut. Selama adat-istiadat dari masyarakat tidak bertentangan, ia dapat diterima oleh islam.
Namun, karakteristik dari masyarakat adat tradional adalah mempercayai hal-hal ghaib dan supranatural. Berbeda dengan masyarakat adat saat ini yang sebagian besar telah memeluk agama, kehidupan sosial lebih terbuka dan menerima perkembangan zaman. Namun, keterbukaan terhadap budaya lain bisa mengandung unsur positif dan negatif. Positifnya adalah budaya dari luar bisa mendorong dinamika sosial. Negatifnya, sebagai akibat, dapat merentankan hal-hal yang tidak sesuai dengan pola pikir dan paradigma serta adat-istiadat. Begitu juga dengan interaksi islam dan budaya lokal, tentu terdapat kemungkinan islam mewarnai, mengubah, mengolah, dan memperbaharui budaya lokal, tetapi mungkin juga islam yang justru diwarnai oleh berbagai budaya lokal .
Dalam hukum adat, ada ketentuan-ketentuan khusus sebagai hukuman yang diberikan kepada mereka yang melanggar. Pengucilan, misalnya, adalah hal yang paling gampang ditemui dimasyarakat adat saat ini, dilakuakan kepada mereka yang melanggar norma adat, seperti besikap curang saat melakukan transaksi jual beli atau melakukan hal-hal yang amoral seperti tidak hormat pada orang tua. Disini hukum adat lebih bersifat individual atau prifat. Sebenarnya, tidak ada aturan yang mewajibkan untuk mengucilkan mereka yang melanggar norma adat tersebut, karena, seperti telah disinggung diatas, hukum ada bukanlah hukum tertulis, melainkan merupakan aturan yang dikerenakan persamaan persepsi atau pola pikir. Secara tidak langsung adat dan budaya lebih pada kesepatan umum dari masyarakat adat.
Konsekuensi tersebut terdapat juga dalam hukum islam. Islam misalnya mengajarkan agar tidak melakukan riba atau mengurangi timbangan. Tidak ada ketentuan yang hukum yang pasti terhadap pelaku riba dan pengurang timbangan, hanya saja hukum yang akan diterima oleh pelaku adalah kelak diakhirat. Atau tidak hormat pada orang tua, dalam islam tidak ada ketentuan pasti yang mengharuskan hukuman bagi pelaku, namun hukuman itu akan diterima kelak diakhirat.
Inilah yang membedakan antra hukum adat dan hukum islam. Hukum adat tidak mempunyai dasar normatif, sedang hukum islam mempunyai dasar normatif yang menjadi rujukan seluruh umat islam. Jika kita melihat perkembangan hukum adat saat ini, banyak sekali unsur-unsur norma-norma agama kemudian dijadikan sebagai hukum adat itu sendiri. Banyak para pemerhati hukum adat terkini kurang memperhatikan hukum murni dari adat tersebut, mereka lebih pada perkembangan hukum adat setelah mengalami akulturasi dengan hukum atau budaya lain. Hal ini dikarenakan pergeseran budaya masyarakat yang semakin pesat, sehingga sulit menemukan antara norma asli adat dan norma hasil akulturasi. Misalnya akulturasi pemikiran terjadi di minangkabau, bahwa pergesaran kehidupan sosial masyarakat dalam bidang keilmuaan dan pendidikan semenjak hadirnya sekolah-sekolah formal agama merentankan citra surau yang dianggap jelek karena melambangkan keterbe-lakanngan.
Di minangkabau sendiri proses akulturasi mengalami tarik ulur, misalnya tentang masuknya ajaran islam yang memposisikan suami sebagai kepala rumah tangga, sedang adat minangkabau bersifat matrineal (garis ibu). Salah satu yang melakukan kritikan itu adalh Hamka. Sebagaimana yuang dikutip Dr. Chairul Anwal bahwa menurut Hamka, susunan menurut adat (sistem susunan mamak) itu sudah merupakan fosil, sudah tidak laku lagi. Revolusi adat tawaran Hamka kemudian mengalami keberhasilan meski samar-samar . Namun hal ini menunjukkan bahwa semakin dewasa pola pikir masyarakat semakin keluar dari tradisi lama mereka. Perubahan progresif selalu menjadi harapan, meski itu tidak serta merta.
Meski adat minangkabau seperti diatas awalnya bukan merupakan kesadaran masyarakat menuju perubahan, namun kesadaran beragama mereka sangat kental, ini dibuktikan dengan berubahnya corak masyarakat bersamaan perkembangan pemikiran islam. Begitu juga dengan adat-istiadat di masyarakat adat lainnya. Dalam masalah mu’amalah, norma adat dan ajaran (baca hukum) islam mengalami perseteruan yang drastis, berbeda dengan masalah ubudiyah yang sering terjadi tarik ulur antara praktik adat dan ajaran islam. Sehingga terjadi banyak istilah menyangkut keislaman masyarakat adat. Di Jawa ada istilah santri dan abagan sebagai islam jawa. Hal ini, menurut MB. Hooker, disebabkan islam di Jawa kususnya dan indonesia umumnya mempunyai karakteristik yang berbeda dengan islam di Timur Tengah. Karena agama merupakan gejala budaya dan sosial , sangat bergantung pada sosio-grafis masyarakatnya.
Intraksi antara hukum adat dan hukum islam, baik mu’amalah dan ubudiyah, lebih disebabkan oleh faktor sosio-kultural dan sosio-geografis, islam tidak menolak adat selama itu tidak bertentangna denganya. Karena masyarakat sebelum memeluk islam mempunyai adat-istiadat sendiri, sehingga adat yang ada disesuai dengan ajaran islam. Untuk itu, perlu sinkronisasi diantara keduanya. Apalagi dalam ranah hukum, selama hukum adat tidak bertentangan dengan hukum islam, maka hukum adat dapat diterima, terutama dalam masalah mu’amalah. Karena adat di Indonesia, sebagaimana pendapat Hazairin, lebih banyak menganut animesme, perlu pengkajian khusus dalam mengupas tentang praktik-praktik adat yang berhubungan ubudiyah atau tauhid.






















Daftar Pustaka

Azyumardi Azra, Islam Substantif, Mizan, Bandung, 2000
Ainurrafiq Dawam (editor), Madzhab Jogaja: Menggagas Paradigma Ushul Fiqh
Dr. Chairul Anwar, Hukum Adat Indonesia: Meninjau Hukum Adat Munangkabau, Rineka Cipta, 1997
Fathurrahman Djamil, Filsafat Hukum Islam, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1999
Hazairin, Tujuh Serangkai Tentang Hukum, Tintasmas, jakarta, 1974
MB. Hooker, Islam Mazhad Indonesia, penterj. Iding Rosyidin Hasan, Teraju (kelompok Mizan), 2003
Suryono Sukamto, Poko-pokok Sosiologi hukum, Rajawali, Jakarta, 1988
Soekamto, Meninjau Hukum Adat Indonesia, Raja Grafika Persada, Jakarta, 1996 Kontemporer, Ar-Ruzz, 2002

0 comments:

Post a Comment

Copyright 2011 Share and Care.
Blogger Template by Noct. Free Download Blogger Template