ABDUR RAUF SINGKEL SYEKH

0 comments
ABDUR RAUF SINGKEL SYEKH
Atau Abdur Rauf as-Singkili (Singkel, 1035 H/1615 M – Banda Aceh, 1105 H/1693 M). Ulama besar dan tokoh tasawuf dari Aceh yang pertama kali membawa dan mengembangkan Tarekat *Syattariah di Indonesia. Nama aslinya adalah Abdur Rauf al-Funsuri.
Pada sekitar tahun 1604 H/1643 M, ketika kesultanan *Aceh berada dalam pemerintahan Sultanah (Ratu) Safiatuddin Tajul Alam (1641 – 1675), Abdur Rauf berangkat ke tanah Arab dengan tujuan mempelajari agama. Ia mengunjungi pusat-pusat pendidikan dan pengajaran agama di sepanjang jalur perjalanan haji antara Yaman dan Mekah. Ia kemudian bermukim di Mekah dan Madinah untuk menambah pengetahuan tentang ilmu Al-Qur’an, Hadis, Fikih, dan Tafsir, serta mempelajari tasawuf.
Ia mempelajari Tarekat Syattariyah pada Ahmad Qusasi (1583 – 1661), Syekh tarekat tersebut, dan Ibrahim al-Qur’ani, pengganti Qusasi. Ia memperoleh ijazah hingga memiliki hak untuk mengajarkan tarekat tersebut kepada orang lain.
Ia kembali ke aceh sekitar tahun 1083 H/1662 M dan segera mengajarkan serta mengembangkan tarekat ini. Tarekat yang diajarkanya bertujuan untuk membangkitkan kesadaran akan Allah SWT dalam batin manusia. Hal ini dicapai melalui pengamalan beberapa macam *zikir.
Murid yang berguru kepadanya amat banyak dan berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Saat itu Aceh merupakan tempat persinggahan para jemaah haji. Ketika di Banda Aceh, tidak sedikit jemaah haji yang kemudian belajar agama dan tasawuf. Di antara murid-muridnya yang banyak kemudian menjadi ulama terkenal, seperti Syekh Burhanuddin dari Ulakan (Pariaman, Sumatra Barat). Ia juga banyak berkunjung ke berbagai daerah di Sumatra dan Jawa.
Syekh Abdur Rauf menjadi mufti Kerajaan aceh yang ketika itu masih diperintah oleh Sultanah Safiatuddin Tajul Alam. Dengan dukungan kerajaan ia berhasil menghapus ajaran Salik Buta tarekat yang sudah ada sebelumnya dalam masyarakat Aceh. Para salik (pengikut tarekat) yang tidak mau bertobat dibunuh.
Abdur Rauf memiliki sekitar 21 karya tertulis, yang terdiri dari 1 kitab tafsir, 2 kitab hadis, 3 kitab fikih, dan sisanya kitab tasawwuf. Kitab tafsirnya yang berjudul Tarjuman al-Mustafid (Terjemah Pemberi Faedah) merupakan kitab tafsir pertama yang dihasilkan di Indonesia dan berbahasa Melayu.
Salah satu kitab fikihnya berjudul Mir’at at-Tullab fi Tahsil Ma’rifat Ahkam asy-Syar’iyah li al-Malik al-Wahhab (Cermin bagi Penuntut Ilmu Fikih Pada Memudahkan Mengenal Segala Hukum Syarak Allah). Didalamnya dimuat berbagai masalah fikih mazhab *Syafi’i yang merupakan panduan bagi seorang kadi. Kitab ini ditulis atas perintah Sultanah.
Di bidang tasawwuf, karyanya antara lain ‘Umdat al-Muhtajin (Tiang orang-orang yang memerlukan), Kifayat al-Muhtajin (Pencukup Para Pengemban Hajat), Daqaiq al-Huruf (Detail-Detail Huruf), dan Bayan Tajalli (Keterangan tentang Tajalli). ‘Umdat al-Muhtajin ila Suluk Maslak al-Mufridin merupakan karya Abdur Rauf yang terpenting. Buku ini terdiri atas tujuh bab, memuat antara lain mengenai zikir, sifat-sifat Allah SWT dan Rasulnya, dan asal-usul ajaran mistik. Di akhir bukunya Abdur Rauf menceritakan riwayat hidupnya dan guru-gurunya. Diantara gurunya itu ia sangat memuji Ahmad Qusasi. Gurunya ini disebutnya sebagai “Pembisik Spiritual dan Guru di Jalan Allah)”.
Abdur Rauf singkel penganut paham bahwa satu-satunya wujud hakiki adalah Allah SWT. Alam ciptaanya adalah wujud bayangan, yakni bayangan dari wujud hakiki. Walaupun wujud hakiki (Tuhan) berbeda dengan wujud bayangan (alam), terdapat keserupaan antara kedua wujud ini. Tuhan melakukan *Tajali (merupakan diri dalam bentuk alam). Sifat-sifat Tuhan secara tidak langsung tampak pada manusia, dan secara relatif paling sempurna pada insan kamil.
Terkait dengan pemikiran mengenai wujud Allah SWT, dalam beberapa tulisanya mengenai tasawuf, terlihat bahwa Abdur Rauf tidak setuju dengan tindakan pengafiran yang dilakukan oleh *Nuruddin ar-Raniri terhadap para pengikut Hamzah Fansuri dan *Syamsuddin as-Sumatrani yang berpaham wahdatul wujud atau wujudiyah. Menurutnya jika tuduhan pengafiran itu tidak benar, maka orang yang menuduh bisa disebut kafir.
Pandanganya terhadap paham wahdatul wujud dinyatakan dalam buku yang berjudul Bayan Tajalli. Buku ini juga merupakan usahanya dalam meneruskan keyakinan terhadap ajaran Islam. Ia mengatakan bahwa betapapun asyiknya seorang hamba terhadap Allah SWT, Khalik dan Makhluk tetap memiliki arti sendiri.
Karena Syekh Abdur Rauf Singkel mengajar dan kemudian dimakamkan di Kuala (muara) Kr.Aceh atau Banda Aceh, ia kemudianjuga terkenal dengan nama Teungku Syiah Kuala. Namun ini diabadikan pada perguruan tinggi yang didirikan di Banda Aceh pada Tahun 1961, Universitas Syiah Kuala. Ia juga sering disebut sebagai Wali Tanah Aceh. Makamnya dianggap tempat suci dan ramai dikunjungi para peziarah.

0 comments:

Post a Comment

Copyright 2011 Share and Care.
Blogger Template by Noct. Free Download Blogger Template