ABDURRAHMAN AD-DAKHIL

ABDURRAHMAN AD-DAKHIL
(731 – Cordoba, Spanyol, 788). Pendiri Dinasti *Umayyah di Spanyol setelah dinasti ini di Damascus ditaklukkan Bani *Abbasiyah. Nama lengkapnya Abdurrahman bin Mu’awiyah bin Hisyam bin Abdul Malik. Ia adalah cucu Hisyam bin Abdul Malik, khalifah ke-10 Dinasti Umayyah di Damascus. Ia lebih terkenal dengan nama Abdurrahman ad-Dakhil atau Abdurrahman I. Sebutan “ad-Dakhil” (penakluk; yang masuk) dikaitkan dengan keberhasilanya menaklukkan dan memasuki Spanyol setelah memulai perjuangan berat.
Ketika *Abu Abbas as-Saffah berhasil meruntuhkan Dinasti Umayyah di Damascus tahun 750 dan naik takhta menjadi khalifah dengan terbentuknya Dinasti Abbasiyah, ia mengadakan pengejaran dan pembunuhan terhadap seluruh keluarga Bani Umayyah. Namun salah seorang anggota keluarga Bani Umayyah, Abdurrahman bin Mu’awiyah bin Hisyam meloloskan diri sampai ke Spanyol.
Keberhasilan pemuda berusia 21 tahun itu merupakan suatu drama yang sangat menarik dalam sejarah Islam. Dalam suatu pengepungan secara ketat terhadap keluarganya oleh para pengikut Abbasiyah, ia berhasil lolos dan bersembunyi di suatu rumah seorang Arab Badui di tepi sungai Efrat. Pada suatu hari kelompok panji hitam Abbasiyah yang memburu keluarga Umayyah muncul dekat tempat persembunyianya itu. Abdurrahman, yang ditemani saudaranya yang berusia 13 tahun, menceburkan diri ke sungai. Ia selamat sampai ke seberang, tetapi saudaranya yang masih kecil itu gagal karena tidak pandai berenang. Abdurrahman mengira bahwa pengikut Abbasiyah akan mengampuni saudaranya itu, mengingat usianya masih muda. Ternyata ia pun, seperti keluarganya yang lain, mengalami nasib yang sama, dihukum mati.
Lolos dari pengejaran itu, Abdurrahman sampai ke Spanyol setelah melewati Palestina, Mesir, dan Afrika Utara selama 5 tahun. Tetapi ketika tiba di Afrika Utara ia hampir dibunuh oleh gubernur setempat. Dalam perjalanan tersebut, ia ditemani seorang pengikut yang setia bernama Badr.
Setelah berkelana dari satu daerah ke daerah lain, akhirnya ia sampai di Ceuta (pantai Selat Gibraltar, Afrika Utara) pada tahun 775. di sini ia diterima dengan baik karena ia mempunyai paman-paman dari kaum Barbar, yang masih punya hubungan keluarga dengan ibunya. Walaupun demikian, ia belum puas. Ia punya hasrat pergi ke Spanyol. Maka ia mengutus Badr menyeberangi Selat Gibraltar untuk mengadakan perundingan dengan satuan-satuan pasuka Suriah di Elvira dan Jaen.
Para pemimpin pasukan tersebut memberi jaminan kepada Badr bahwa mereka menyambut baik keinginan Abdurrahman untuk datang ke Spanyol. Malahan mereka menjadikanya pemimpin mereka, karena kebanyakan pemimpin pasukan tersebut sebelumnya adalah pengawal kelurga bani Umayyah. Sebagai bukti sambutan baik tersebut, mereka mengirimkan sebuah kapal ke Cueta untuk menjemput Abdurrahman.
Kedatangan Abdurrahman di bumi Spanyol disambut dengan baik oleh penduduk kota bagian selatan, yang menjadikanya sebagai penguasa mereka. Misalnya di daerah Archidona, yang sudah lama ditempati satuan Yordan; kemudian Propinsi Sidona, tempat pasukan Palestina; dan Sevilla.
Akan tetapi ada juga penguasa yang tidak menyukai kedatangan Abdurrahman, yaitu Yusuf al-Fihri, gubernur Andalusia (Spanyol) waktu itu. Ketika Abdurrahman dan para pengikutnya menuju ke Cordoba, Yusuf al-Fihri mempersiapkan pasukan untuk menghadang Abdurrahman. Kedua pasukan ini bertemu di tepi Wadi Bakkah, dan pertempuran antara kedua pasukan terjadi di tempat itu pada 14 Mei 756. pertempuran dimenangkan oleh Abdurrahman; ia berhasil menduduki kota Cordoba. Kemudian ia memberlakukan amnesti umum. Sejak itu menjadi Amir pemerintahan Islam di Spanyol. Ia memerintah tahun 756 – 788 M.
Dalam menegakkan Dinasti Umayyah di Spanyol, Abdurrahman banyak menghadapi pemberontakan dari dalam negeri maupun percobaan serangan dari luar. Untuk menghadapinya ia membentuk pasukan yang terlatih baik dan berdisiplin tinggi sejumlah 40 ribu personil, sebagian besar diantaranya berasal dari kaum muslim suku Barbar yang ia datangkan dari Afrika Utara. Untuk menumbuhkan kesetiaan pasukanya, ia memberi mereka gaji yang tinggi. Dengan pasukan tersebut ia mampu memadamkan pemberontakan dari dalam negeri dan serangan dari luar, seperti manaklukkan Yusuf al-Fihri yang telah diampuni tetapi kembali mengadakan perlawanan di sebelah Utara sehingga ia mati terbunuh di Toledo, memadamkan pemberontakan kaum Syiah dan kabilah-kabilah Arab yang didalangi pengikut Abbasiyah, dan memukul mundur Karel Agung.
Ketika Abu Ja’far al-*Mansur, khalifah ke-2 Abbasiyah, mengangkat al-A’la bin al-Mughirah menjadi gubernur Andalusia pada tahun 761, gubernur itu di tangkap oleh Abdurrahman. Dua tahun kemudian lehernya dipenggal, kepalanya diawetkan dengan kamper dan garam, lalu di bungkus dengan bendera hitam. Surat pengangkatanya dimasukkan ke dalam bungkusan tersebut, selanjutnya dikirim kepada khalifah al-Mansur, yang waktu itu sedang menunaikan ibadah haji ke Mekah.
Menerima kenyataan tersebut, khalifah al-Mansur memuji Allah karena ia dan Abdurrahman dipisahkan oleh laut; jika tidak tentu akan terjadi pertemputan yang dahsyat. Ia menjuluki Abdurrahman sebagai “Rajawali Kuraisy”.
Menurut sebuah riwayat Abdurrahman pernah mempersiapkan pasukan angkatan laut untuk merebut Suriah dari dinasti Abbasiyah. Tetapi rencana itu gagal karena di dalam negerinya timbul keributan dan pemberontakan.
Keberhasilan Abdurrahman memadamkan setiap pemberontakan dan gangguan musuh membuktikan dirinya sebagai penguasa yang mempunyai kedudukan yang sama baik dengan penguasa-penguasa Abbasiyah. Ahli sejarah menilainya sebagai arsitek dalam perang dan perdamaian. Tentang kecakapanya memerintah, ia disamakan orang dengan khalifah al-Mansur, karena ia mampu mempersatukan dan memakmurkan kehidupan rakyatnya yang berasal dari berbagai suku bangsa, seperti Arab, Suriah, Numidia, Arab-Spanyol dan Goth.
Selama Abdurrahman memerintah, disamping berhasil memadamkan pemberontakan dan serangan musuh-musuhnya sehingga negaranya menjadi stabil, ia juga berhasil membengun kepentingan rakyat, seperti pertanian, perdagangan dan perekonomian. Ia memperindah kota-kota; membengun saluran air minum yang bebas dari kotoran; membengun istana Munyatur Rusyafah di luar kota Cordoba dengan bentuk menyerupai istana yang di bangun kakeknya, Hisyam di timur laut Suriah; membuat dinding disekitar kota; dan mendirikan Masjid Agung *Cordoba yang kemudian terkenal sebagai pusat untuk wilayah Islam di Barat. Ia memprakarsai dan mendorong kegiatan-kegiatan intelektual, seni dan budaya, sehingga Spanyol dari abad ke-9 sampai abad ke-11 merupakan salah satu pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan dunia di Barat, yang mempunyai kedudukan sama dengan kota Baghdad di Timur.

About the Author

RIZAL RIZLA

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Post a Comment


iklan

 

Copyright © Berbagi Menuju Lebih Baik. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com