ABU BAKAR AL-KALABAZI

ABU BAKAR AL-KALABAZI
(w. Bukhara, 380 H/990 M). Nama lengkapnya adalah Abu Bakar bin Abi Ishaq Muhammad bin Ibrahim bin Ya’qub al-Bukhari al-Kalabazi. Ia diberi nama-nama yang hampir sama dengan nama bapaknya: (1) Muhammad bin Ishaq; (2) Muhammad bin Ishaq bin Ibrahim; (3) Muhammad bin Ibrahim; dan (4) Muhammad bin Ibrahim bin Ya’qub. A.J. Arberry menyimpulkan bahwa nama terakhir dari daftar tersebut yang paling tepat (Arberry, dalam terjemahan at-Ta’ruf al-Kalabazi, The Doctrin of the Sufis). Namanya dinisbahkan pada Kalabaz, suatu kota dari bagian Bukhara, kota kelahiranya. Di kota ini pula ia dikebumikan. Al-Kalabazi digolongkan ke dalam daftar nama-nama para ahli hukm Hambali, ahli Hadis, dan teoritikus ilmu tasawuf. Al-Kalabazi mempelajari ilmu fikih dibawah bimbingan seorang ahli hukum Mazhab *Hambali, Muhammad bin Fadl.
Karyanya yang terkenal adalah Kitab at-Ta’arruf li-Mazhab Ahl-Tasawwuf (Pengantar ke Arah Mazhab-mazhab Ahli Tasawwuf), berisi 75 fasal yang menjelaskan ajaran-ajaran dan pengalaman-pengalaman rohaniah para sufi. Buku ini telah diterjemahkan oleh Rahmani Astuti ke bahasa Indonesia dari edisi bahasa Inggris (A.J. Arberry, The Doctrine of The Sufis, S.H. Ashraf, Lahore, 1976). Edisi pertama dalam bahasa Indonesia, Ajaran Kaum Sufi, diterbitkan oleh Penerbit Mizan, Bandung, pada tahun 1985. karya al-Kalabazi lainya adalah Bahr al-Fawa’id fi Ma’ani al-Akhbar (Lautan Faedah dari Makna-Makna Sunnah) yang merupakan uraian 222 hadis pilihan.
Al-Kalabazi menjadi masyhur karena Kitab at-Ta’arruf. Risalah ini menjadi buku pegangan tentang ajaran-ajaran tasawwuf. Atas risalah ini Suhrawardi Maqtul (w. 587 H/11991 M), seorang pelopor filsafat keagamaan dalam Islam, mengatakan “Kalau bukan karena Kitab at-Ta’arruf kita tidak akan mmengenal tasawwuf.”
Ada empat catatan tentang Kitab at-Ta’arruf, yakni oleh: (1) al-Kalabazi sendiri dengan judul Husn at-Tasarruf; (2) Abdullah bin Muhammad al-Ansari al-Hurawi (w. 481 H/1088 M); (3) Alaudin Ali bin Ismail al-Qanawi (w. 729 H/1329 M); (4) Ismail bin Muhammad bin Abdillah al-Mustamli. Uraian Mustamli yang ditulis dalam bahasa Persia disertai teks asli al-Kalabazi dan diterjemahkan ke dalam bahasa Persia.
Setelah Risalah yang ditulis oleh Abu Qasim Abdul Karim al-*Quraisy (w. 465 H/1074 M) dan Qutl al-Qulub (Pembekalan Hati) yang ditulis Abu Talib al-Makki (w. 386 H/996 M), Kitab at-Ta’arruf al-Kalabazi dihargai terutama oleh orang-orang sufi sendiri sebagai ikhtisar tasawuf yang paling bernilai. Hal tersebut disebabkan, pertama, karya ini merupakan karya pendek bila dibandingkan dengan kedua kitab lainya; dan kedua, pengarang dalam menulis ini bermaksud untuk menunjukkan ortodoksi esensial kedudukan sufi. Untuk menilai pentingnya bagian ini perlu dibuat perbandingan secara cermat dengan Kitab Fiqh al-Akbar II yang telah dikatakan sebagai buah karya ahli teologi Mazhab Hambali dari abad ke-10. Al-Kalabazi mengikuti urutan-urutan artikel “akidah” bahkan hubungan verbal keduanya sangat mencolok, sehingga tidak diragukan bahwa kitab ini mengutip dokumen tersebut secara langsung. Pada masa hidupnya, tasawuf sedang dalam krisis yang hampir dianggap berbahaya namun belum sampai diharamkan, terutama setelah pelaksanaan hukuman mati al-*Hallaj pada tahun 922. Maka al-Kalabazi mengerahkan segala tenaga untuk membuktikan bahwa ajaran sufi sangat sesuai dengan jiwa syari’at Islam. Dorongan secara sadar inilah yang menjadikan karyanya bernilai tinggi. Dalam pengertian ini, al-Kalabazi membuka jalan yang selanjutnya diikuti seorang tokoh sufi yang juga ahli teologi terkenal yaitu, al*Gazali, yang akhirnya mendamaikan paham skolastik dan mistik.
Kitab at-Ta’arruf diberi nilai tinggi sebagai hasil karya seorang ahli sufi.

About the Author

RIZAL RIZLA

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Post a Comment


iklan

 

Copyright © Berbagi Menuju Lebih Baik. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com