AHMAD KHAN, SIR SAYID

AHMAD KHAN, SIR SAYID
(Delhi, India, 17 Oktober 1817 – Delhi, 27 Maret 1898). Tokoh pembaru di kalangan umat Islam *India pada abad ke-19. nenek moyangnya berasal dari Semenanjung Arabia dan kemudia hijrah ke Herat, Persia (Iran), karena tekanan politik pada zaman dinasti bani *Umayyah (41 – 133 H/661 – 750 M). Dari Herat mereka hijrah ke Hindustan (India) dan menetap di sana.
Kakek Ahmad Khan pernah menjabat komandan militer pada masa pemerintahan Alamgir II (1754 – 1759). Sedangkan ayahnya, al-Muttaqi, adalah seorang pertapa yang saleh. Ia mempunyai pengaruh besar di Kerajaan *Mogul pada masa pemerintahan Akbar Syah II (1806 – 1837). Ahmad Khan mempunyai pertalian darah dengan Nabi Muhammad SAW melalui cucu beliau dari keturunan *Fatimah az-Zahra dan Ali bin Abi Talib. Karena itulah ia bergelar Sayid. Ibunya adalah seorang wanita cerdas dan pandai mendidik anak-anaknya.
Ahmad Khan melalui pendidikanya dalam pengetahuan agama secara tradisional. Disamping itu juga mempelajari bahasa Persia dan bahasa Arab, Matematika, dan Sejarah. Ia banyak membaca buku-buku ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang ilmu. Hal ini menjadikanya seorang yang luas ilmu pengetahuanya, berpikiran maju, dan dapat menerima ilmu pengetahuan modern.
Pada tahun 1838, ayah Ahmad Khan meninggal dunia. Sejak itu ia mulai bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya karena ibunya enggan menerima tunjangan pensiun dari istana. Mula-mula ia bekerja pada Serikat India Timur (The East India Company-EIC), kemudian ia pindah bekerja sebagai hakim di Fatehpur (1841). Selanutnya ia dipindahkan ke Bignaur. Pada tahun 1846 ia kembali ke Delhi. Masa delapan tahun di Delhi merupakan masa yang paling berharga dalam hidupnya karena ia dapat melanjutkan pelajaranya.
Ketika terjadi pemberotakan umat Hindu dan umat Islam terhadap penguasa Inggris pada tanggal 10 Mei 1857, Ahmad Khan berada di Bignaur sebagai salah seorang pegawai peradilan. Dalam peristiwa ini ia tidak ikut memberontak, bahkan ia banyak membentu melepaskan orang-orang Inggris yang teraniaya di Bignaur. Atas jasa-jasanya, pemerintah Inggris menganugerahkan gelar Sir dan memberikan berbagai hadiah kepadanya. Ahmad Khan menerima gelar tersebut, tetapi ia menolak hadiah-hadiah itu, kecuali kesempatan untuk berkunjung ke Inggris pada tahun 1869. kesempatan ini dipergunakanya untuk mengamati dan meneliti lebih jauh sistem pendidikan serta ilmu pengetahuan dan tekhnologi di Inggris.
Pada peristiwa pemberontakan 1857, Ahmad Khan berusaha menjelaskan kepada pemerintah Inggris bahwa umat Islam tidak memainkan peran utama dalam pemberontakan tersebut. Ia kemudian menulis dua buah buku yang memuat hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa itu. Buku pertama berjudul Tarikhi Sarkhasi Bijnaur (1858) yang berisi catatan kronologis pemberontakan 1857 di Bignaur. Buku kedua berjudul Asbab Baghwat-i Hind (1858) yang kemudian di terjemahkan ke dalam bahasa Inggris, The Causes of the Indian Revolt (Sebab-Sebab Revolusi India).
Di samping itu Ahmad Khan juga berusaha meyakinkan umat Islam India bahwa untuk kemajuan Islam mereka harus bekerja sama dengan pemerintah Inggris. Inggris memiliki kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menguntungkan umat Islam, dan umat Islam tidak akan mampu melawan pemerintah Inggris yang telah kuat. Karena itu ia menulis beberapa buku, diantaranya adalah Risalat Khair Khawaman Musulman (Risalah Tentang Orang-orang yang Setia) dan Ahkam Ta’am Ahl al-Kitab (Hukum Memakan Makanan Ahli Kitab).
Ahmad Khan berhasil mendamaikan umat Islam dan pemerintah Inggris, sehingga rasa curiga diantara keduanya hilang. Sejak saat itu Ahmad Khan berusaha mencurahkan perhatianya untuk kemajuan umat Islam India. Loyalitas ditunjukkanya kepada pemerintah Inggris dengan harapan kehidupan dan status sosial umat Islam dapat lebih maju. Ia berkeyakinan bahwa bekerjasama dengan Inggris akan lebih menguntungkan dibandingkan dengan umat Hindu. Dalam rangka ini ia menasihati umat Islam agar tidak ikiut campur dalam agitasi politik yang dilakukan umat Hindu, khususnya setelah Partai Kongres Nasional India terbentuk pada tahun 1885.
Setelah berhasil mendamaikan umat Islam dan pemerintah Inggris, Ahmad Khan mulai memunculkan ide-idenya dalam rangka memajukan umat Islam. Menurut Ahmad Khan, umat Islam terbelakang, bodoh, dan miskin, karena mereka tidak memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi modern sebagaimana yang dimiliki negara-negara Eropa. Ia berpendapat bahwa Ilmu pengetahuan modern dan teknologi adalah hasil pendayaguaan akal yang maksimal. Sejalan dengan itu, Al-Qur’an sangat mendorong umat Islam untuk mempergunakan akal dalam bidang-bidang yang sangat luas, qalaupun jangkauan akal tersebut terbatas ia berkeyakinan bahwa kala manusia mempunyai kemampuan yang kuat dalam meraih kesejahteraan hidup. Ia juga berpendirian bahwa manusia bebas berkehendak dan berbuat sesuai dengan *sunatullah yang tidak berubah. Gabungan kemampuan akal, kebebasan manusia berkehendak dan berbuat, serta hukum alam inilah yang menjadi sumber kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang terdapat di Barat. Dia berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang terdapat di alam ini terjadi menurut hukum kausalitas (sebab-akibat), sedang sebab pertama itu adalah Tuhan.
Karena kepercayaanya yang kuat dan kegigihan mempertahankan konsep hukum alam ini, ia di juluki Nechari oleh masyarakat di lingkunganya yang belum mau menerima konsep yang berasal dari nature (alam) dan laws of nature (hukum alam) tersebut. *Jamaluddin al-Afgani ketika berkunjung ke India tahun 1869 berkesempatan menulis sebuah buku yang berjudul ar-Raad ‘ala ad-Dahriyyin (Jawaban Bagi Kaum Materialis). Buku ini berisi serangan terhadap pendirian Ahmad Khan tentang hukum alam. Ada kemungkinan hal ini dilakukan al-Afgani karena ia hanya menerima pengertian yang salah tentang konsep hukum alam Ahmad Khan.
Sejalan dengan prinsip-prinsip tersebut Ahmad Khan berpendapat bahwa pinti *ijtihad tetap terbuka, sehingga umat Islam dapat berkembang seiring dengan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan teknologi modern. Dengan prinsip-prinsip ini, Ahmad Khan berusaha memajukan umat Islam India. Ia meliahat bahwa prinsip-prinsip ini jugalah yang membuat umat Islam mencapai puncak kemajuanya pada masa lampau.
Menurut Ahmad Khan, satu-satunya cara untuk mengubah pola berpikir umat Islam India dari keterbelakanganya adalah pendidikan. Ia mencurahkan perhatianya pada bidang ini hingga akhkir hayatnya. Lembaga pendidikan yang pertama kali didirikanya adalah Sekolah Inggris di Mudarabad pada tahun 1861. untuk menunjang lembaga pendidikan tersebut, Ahmad Khan pada tahun 1864 mendirikan The Scientific Society (Translatiaon Society) sebagai lemabaga ilmu penerjemahan modern ke dalam bahasa Urdu. Ia juga membentuk Panitia Peningkatan Pendidikan Umat Islam dan Panitia Dana Pembentukan Perguruan Tinggi Islam.
Berdasarkan pengalaman yang diperolehnya di Inggris (1869), Akhmad Khan mendirikan sekolah Muhammedan Anglo-Oriental College (MAOC) pada tahun 1878, yang kemudian berkembang menjadi Muslim University of Aligarh. Dua tahun sebelumnya ia mengundurkan diri dari kepegawian pemerintah Inggris untuk mencurahkan perhatian pada lembaga pendidikan ini. Sekolah ini merupakan karya yang sangat bersejarah dan berpengaruh dalam memajukan umat Islam India. Di sekolah ini bukan hanya ilmu pengetahuan umum yang diajarkan, tetapi pendidikan dan pelajaran agama juga sangat dipentingkan. Di samping orang-orang Islam, siswa-siswanya juga terdiri dari orang-orang Kristen, Hindu, dan Parsi (Persia). Pada tahun 1886 ia membentuk Muhammaden Educational Conference dalam usaha mewujudkan pendidikan nasional yang seragam untuk Umat Islam India.
Untuk menyebarkan ide-ide pembaruanya, Ahmad Khan menerbitkan majalah bulanan Tahzib al-Akhlaq (penyempurnaan akhlaq) pada tahun 1870. di samping itu ia juga banyak menulis buku. Di bidang sejarah, ia menulis buku Asar as-Sanadid (1874) yang berisi Arkeologi di Delhi, Jami-i Jam (1840) yang berisi sejarah ringkas raja-raja di Mogul, dan Essays on The Life of Muhammad (1870). Di bidang agama, antara lain ia menulis tafsir Al-Qur’an (6 jilid; 1882, 1885, 1888, 1892, dan 1895), Ibtal al-Gulam (1890) yang berisi penghapusan perbudakan dalam Islam, dan Tabyin al-Kalam (1862) tentang Bibel.
Secara politis Ahmad Khan melihat bahwa umat Islam tidak mungkin bersatu dengan umat Hindu dalam satu negara. Umat Islam merupakan komunitas yang berbeda. Ia berpendapat bahwa umat Islam India harus mempunyai negara sendiri, terpisah dengan umat Hindu. Dari pemikiran-pemikiran dan usaha-usaha yang dilakukan Ahmad Khan inilah muncul bibit-bibit ide pendirian pakistan yang timbul pada abad ke-20.

About the Author

RIZAL RIZLA

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Post a Comment


iklan

 

Copyright © Berbagi Menuju Lebih Baik. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com