AHMAD KHATIB MINANGKABAU, SYEKH

0 comments
AHMAD KHATIB MINANGKABAU, SYEKH
(SYEKH AHMAD KHATIB MINANGKABAU)
(w. Mekah, 8 Jumadilawal 1334/1916 M). Ahli fikih dan hukum Islam, ulama besar Minangkabau yang menghasilkan sejumlah buku mengenai masalah agama dan kemasyarakatan. Ahmad Khatib dilahirkan di kota Bukittinggi, Sumatra Barat. Terdapat dua pendapat mengenai tahun kelahiranya. Menurut Prof. Dr. *HAMKA, Ahmad Khatib lahir tahun 1276 H/1860 M, sedangkan menurut Deliar Noer, seorang cendekiawan Isalam tahun 1855.
Ayahnya bernama Abdul Latif. Dari pihak ayah, Ahamad Khatib bersepupu dengan KH *Agus Salim, seorang cendekiawan dan pemimpin Islam yang berpengaruh. Ibu Ahamad Khatib adalah Limbak Urai, anak Tuanku Nan Renceh, seorang Ulama Paderi terkemuka. Dari pihak ibu, Ahmad Khatib adalah saudara sepupu Syekh Taher Jalaluddin, seorang ulama besar Minangkabau lainya. Dilihat dari keturunan ayah dan ibu, Ahmad Khatib terhitung datang dari keluarga yang terpandang di Minagkabau pada zamanya.
Setelah menyelesaikans sekolah rendah, Ahmad Khatib diduga sempat belajar di sekolah Raja di Bukittinggi. Kemudian dia melanjutkan pelajaranya ke Mekah (menurut HAMKA pada tahun 1871, sedangkan menurut Deliar Noer tahun 1876). Berkat kecerdasan dan ketekunanya dalam mendalami ilmu agama, ia berhasil mencapai kedudukan sebagai Imam Besar *Masjidil Haram dalam mazhab Syafi’i. Ahmad Khatib adalah murid kesayangan Syekh Saleh Kurdi, seorang hartawan keturunan Kurdi. Setelah sepuluh tahun bermukim di Mekah, Ahmad Khatib menikah dengan putri Saleh Kurdi yang bernama Khadijah.
Sepanjang hayatnya dihabiskanya di Mekah sebagai guru. Walaupun demikian hubungan Ahmad Khatib dengan daerah asalnya tetap berjalan baik melalui orang-orang yang menunaikan ibadah haji dan yang belajar kepaanya. Di antara murid-muridnya yang terkenal di bidang agama adalah Syekh Muhammad Nur (Mufti Kerajaan Langkat), Syekh Hasan Maksum (Mufti Kerajan Deli yang bergelar Imam Paduka Tuan), Syekh Muhammad Saleh (Mufti Kerajaan Selangor), Syekh Muhammad Zain (Mufti Kerajaan Perak), H Muhammad Nur Ismail (Kadi Kerajaan Langkat), Syekh Jamil Jaho (Pemimpin *Persatuan Tarbiyah Islamiyah atau Perti), Syekh Muhammad Jamil *Jambek, Syekh Ibrahim Musa, H Abbas Abdullah, Dr. Abdullah Ahmad, Dr. H Abdul *Karim Amrullah, dan Syekh *Sulaiman ar-Rasuli. Keemuanya itu adalah ulama-ulama terkemuka dari Minangkabau. Kemudian muridnya yang lain adalah Syekh Mustafa Husain dari Purba (Pandailing), KH *Ahmad Dahlan (pendiri *Muhammadiyah) dari Yogyakarta, dan KH *Hasyim Asy’ari (pendiri Pondok Pesantren Tebuireng dan kemudian menjadi pemimpin *Nahdlatul Ulama).
Sebagai seorang yang ahli di bidang fikih dan hukum Islam, Ahmad Khatib banyak mengarang buku yang paa umumnya berisikan permasalahan yang sedang dihadapinya. Khusus terhadap Minangkabau, Ahmad Khatib melihat ada dua masalah yang sangat bertentangan dengan Islam, yaitu yang berkenaan dengan perkembangan Tarekat *Naksyabandiyah di waktu itu dan masalah pembagian harta pusaka serta sistem keturunan matrilineal.
Untuk masalah pertama, ia menulis tiga buku antara tahun 1324 H dan 1326 H. Buku-buku tersebut adalah Izhar Zagli al-Kazibin fi Tasyabbuhihim bi as-Sadiqin, al-Ayat al-Bayyinah li al Munsifin fi Izalah Khurafat ba’da al-Muta’assibin, dan as-Saif al-Battar fi Mahq Kalimah ba’da Ahli al-Igtirar.
Buku pertama yan berjudul Izhar Zagli al-Kazibin fi Tasyabbuhihim bi as-Sadiqin diterbitkan pertama kali di padang pada tahun 1324 H/1906 M, kemudian dicetak ulang pada tahun 1326 H/1908 M. Buku ini merupakan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya sekitar Tarekat Naksyabandiyah yang berkembang di Minangkabau. Pertanyaan-pertanyaan tersebut terdiri dari: (1) apakah Tarekat Naksyabandiyah mempunyai dasar dalam Syari’at Islam; (2) apakah Tarekat Naksyabandiyah mempunyai silsilah kepada Rasulullah SAW; (3) apakah ada dasar hukum dalam Syarak (Hukum Islam) untuk meninggalkan makan daging; (4) apakah *suluk 40 hari, 20 hari, dan 10 hari mempunyai dasar dalam syari’at; dan (5) apakah rabitab (tempat perguruan kaum sufi) itu ada dasarnya dalam syari’at Islam. Buku kedua, al-Ayat al-Bayyinah li al-Munsifin fi Izalah Khurafat Ba’da al-Muta’assibin, mempertahankan fatwanya tentang Tarekat Naksyabandiyah dan menolak segala bantahan terhadap buku pertama di atas. Pada tahun terbitnya buku itu, datang surat dari Syekh Abdullah bin Abdullah al-Khalidi dari tanah datar yang isinya menyalahkan Ahmad Khatib dan mempertahankan Tarekat Naksyabndiyah. Sebagai jawaban atas surat itu, Ahmad Khatib menulis bukunya yang ketiga, as-Saif al-Battar fi Mahq Kalimah Ba’da Ahli al-Igtirar. Ketiga buku itu pada tahun 1344 H dicetak dalam jilid.
Dalam menentang pembagian harta pusaka di Minagkabau, Ahmad Khatib menulis sebuah buku dalam bahasa Arab pada tahun 1309 H/1891 M dengan judul ad-Da’i al-Masmu’ fi ar-Raad ‘alaman Yurisu al-Ikhwan wa Aulad al-Akhyat ma’a wujud al-Usul wa al-Furu’. Pada tahun 1893 buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dengan judul al-Manhaj al-Masyru’. Buku ini membahas soal pembagian harta pusaka sebagaimana yang terdapat dalam buku-buku fikih atau fara’id (hukum waris Islam) lainya. Dalam buku tersebut Ahmad Khatib menyatakan bahwa seluruh harta pusaka yang diwarisi kemenakan adalah sama dengan harta rampasan. Perbutan itu sendiri merupakan dosa besar karena berarti merampas harta benda anak yatim piatu. Menurutnya, mereka yang melaksanakan hukum warisan dengan cara yang berlaku di Minagkabau telah menjadi *fasik dan harus bertobat, jika tidak ia akan menjadi *murtad. Lebih jauh Ahmad Khatib mengatakan bahwa orang-orang yang mempertahankan sistem ini tidak dapat dijadikan saksi dalam perkwinan dan tidak berhak mendapatkan pemakaman secara Islam.
Pendapat Ahmad Khatib ini mendapat tantangan dari kalangan kaum adat dan ulama Minangkabau. Di antara penentangnya dari kalangan kaum adat adalah Datuk Sutan Marajo yang menuliskan seranganya dalam majalah Pelita Kecil (1894). Serangan dari kalangan kaum ulama datang dari Syekh Muhammad Sa’ad Mungkar dalam bukunya Tanbih al-Awam.
Sekalipun mendapat tantangan, Ahmad Khatib tidak bosan-bosanya meyakinkan orang-orang sedaerahnya yang datang menunaikan Ibadah Haji bahwa pembagian harta pusaka itu tidak sesuai dengan ajaran Islam. Kemudian orang membedakan antara harta pusaka itu tidak sesuai dengan ajaran Islam. Kemudian orang membedakan antara harta pusaka dan harta pencaharian, atau yang disebut harta pusaka tinggi dan harta pusaka rendah. Terhadap kelompok pertama, tetap diberlakukan pembagian menurut adat, dan dianggap sebagai harta wakaf. Sedangkan yang kedua, yakni harta pencaharian atau harta pusaka rendah, dibagi menurut hukum warisan Islam. Peraturan semacam ini antara lain ditetapkan di Muara Labuh oleh Syekh Kahatib Ali, yang dianggap pengikut kuat Ahmad Khatib. Dari berbagai keputusan, seperti pada *Persatuan Tarbiyah Ialamiyah (1938) dan seminar “tungku tiga sejarawan” (ulama, penghulu adat, dan cerdik pandai; 1952), diptuskan bahwa antara harta pusaka dan harta pencaharian berbeda cara membaginya. Harta pusaka dibagi menurut adat, sedangkan harta pencaharian dibagi menurut fara’id.
Disamping buku-buku yang disebutkan diatas, Ahamad Khatib menulis sejumlah buku lain dalam bidang ilmu yang berbeda. Buku-bukunya adalah an-Nafahat (dalam ilmu ushul fikih), al-Khutat al-mardiyyah (tentang niat), Sulh al-Jama’atain (tentang Salat Jum’at), Iqna’ an-Nufus (tentang zakat), Raudah al-Husab fi ‘Ilmi al-Hisab (tentang hisab) pada tahun 1310 H/1892 M, dan al-Jawhir an-Naqiyyah fi al-‘Amal al-Jaibiyyah (tentang ilmu hitung dan hisab) pada tahun 1309 H/1891 M.
Bukunya yang lain berjudul Tanbih al-Anam fi ar-Raad ‘ala Risalah Kaffi al-‘Awam ‘an al-Khaud fi Syarekat Islam yang diterbitkan di Mesir pada tahun 1332 H. Buku ini ditulis untuk membela pendirian *Sarekat Islam dan membantah segala tuduhan Syekh Hasyim Muhammad Asy’ari al-Jumbany. Syekh Hasyim menulis buku Kaffu al-‘Awam ‘an al-Khaud fi Syarekat Islam yang isinya menghalangi masyarakat untuk masuk Sarekat Islam. Sarekat Islam oleh Syekh Hasyim dianggap *bidah dan tidak sesuai dengan ajaran Islam. Buku Ahmad Khatib ini dilengkapi dengan kata sambutan dari beberapa ulama Masjidilharam pada waktu itu. Akhirnya Syekh Hasyim mengirim surat kepada Syekh Ahmad Khatib yang isinya menyatakan kekeliruan pandanganya terhadap Sarekat Islam.
Tulisan Ahmad Khatib yang lain berjudul Irsyad al-Hayara fi Izalah ba’d Syibh an-Nasara (1332 H). Buku ini berisi penolakan terhadap tuduhan orang-orang nasrani atas Islam. Buku ini berawal dari adanya permintaan dari tanah Jawi (Indonesia). Ketika itu orang-orang Nasrani mengecam ajaran Islam tentang poligami, talak, jihad, perbudakan, dan lain sebagainya. Buku yang senada juga ditulis oleh Ahmad Khatib dengan judul Dau’ as-Siraj (1312 H). Buku ini sebenarnya membahas peristiwa *isra mikraj Nabi Muhammad SAW, namun didalamnya terdapat juga sikap Ahmad Khatib yang tidak menyenangi penjajah kulit putih. Di samping itu dibidang fikih dan akidah ia mengarang buku Riyadu al-Wardiyyah fi Usul at-Tauhid wa Furu’ al-Fiqih (1311 H). Menurut Zainal Abidin Ahmad (penulis sejarah Islam dari Sumatra Barat), Syekh Ahmad Khatib menulis 49 buku yang berkaitan dengan berbagai masalah agama dan kemasyarakatan. Tulisan Ahamd Khatib ini bukan saja tersebar di Indonesia, tetapi juga beredar di daerah-daerah Timur Tengah.

0 comments:

Post a Comment

Copyright 2011 Share and Care.
Blogger Template by Noct. Free Download Blogger Template