AL-ASY’ARI, ABU MUSA

AL-ASY’ARI, ABU MUSA
Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Qais bin Sulaym bin Hadar bin Harb bin Amir bin Ganam. Al-Asy’ari berasal dari Yaman. Tahun kelahiranya tidak diketahui dan tahun wafatnya diperkirakan antara tahun 42 H, 44 H, 50 H, 51 H, dan 53 H di Kufah. Ibunya bernama Tayyibah binti Wahhab yang masuk Islam dan meninggal di Madinah. Sahabat Nabi Muhammad yang berperan sebagai hakam (juru damai) dari pihak *Ali bin Abi Talib pada perang Siffin (peperangan yang terjadi antara Khalifah Ali bin Abi Talib dan *Mu’awiyah bin Abu Sufyan, gubernur syam (Suriah), pada bulan Safar 37/657 M). Pada mulanya al-Asy’ari bertempat tinggal di Ramalah, Palestian, lalu pindah ke Mekah setelah masuk Islam.
Ketika umat Islam di Mekah ditindas dan dianiaya orang-orang kafir *Kuraisy, al-Asy’ari berhijrah ke *Abessinia (sekarang Ethiopia). Ada yang berpendapat bahwa ia kembali ke negeri kaumnya dan tidak ikut berhijrah ke Abessinia, karena namanya tidak tercantum dalam daftar nama orang yang berhijrah ke Abessenia yang ditulis oleh Musa bin Uqbah, bin Ishaq, dan al-Waqidi.
Setelah penaklukan Khaibar (perkampungan Yahudi yang terletak tidak jauh dari Madinah), al-Asy’ari kembali menemui Nabi SAW di Madinah dan ditunjuk sebagai gubernur di sebagian daerah Yaman yang meliputi Zabid, Aden, dan daerah pesisirnya. Jabatan ini tetap dipangkunya semasa pemerintahan *Abu Bakar as-Siddiq. Pada tahun 17 H/638 M, atas perintah Khalifah *Umar bin Khattab, al-Asy’ari dijadikan gubernur Basra, menggantikan Gubernur Mugirah bin Syu’bah. Di masa jabatanya ini ia menaklukkan Ahwaz dan Isfahan. Pada tahun 22 H/642 M ia dijadikan gubernur di Kufah. Hal ini untuk memenuhi permintaan penduduk Kufah yang tidak puas dengan gubernur-gubernur sebelumnya. Mereka mengajukan permohonan kepada Umar bin Khattab agar al-Asy’ari ditunjuk sebagai gubernur mereka. Namun penduduk Kufah tidak juga merasa puas dengan usahanya, karena itu, ia dikembalikan ke jabatanya di Basra (setelah setahun menjadi gubernur Kufah). Ketika *Usman bin Affan menjabat Khalifah, ia masih tetap menjadi gubernur Basra selama tiga tahun. Kemudian ia diberhentikan dan digantikan oleh Abdullah bin Amir dan selanjutnya ia menetap di Kufah.
Pada tahun 34 H/654 M al-Asy’ari kembali ditunjuk sebagai gubernur Kufah menggantikan Sa’id bin As yang diberhentika khalifah Usman atas tuntutan penduduk Kufah. Pada tahun 36 H/656 M, ia menyatakan *baiat kepada Ali bin Abi Talib sebagai khalifah setelah terbunuhnya Usman bin Affan. Ketika terjadi perang unta (Harb al-Jamal) antara Ali dan *Aisyah binti Abu Bakar, ia menyerukan penduduk Kufah untuk bersikap netral. Oleh karena itu, al-Asy’ari dipecat dari jabatanya oleh Ali bin Abi Talib. Kemudian ia meninggalkan Kufah selama berbulan-bulan karena mendapat ancaman dari pasukan Ali. Al-Asy’ari kembali ke Kufah setelah Ali menjamin keselamatan jiwanya.
Dalam Perang Siffin al-asy’ari ditunjuk untuk memimpin delegasi Ali setelah tercapai gencatan senjata. Di pihak lain, Ali tidak menyetujuinya sebagai hakim dan memilih Abdullah bin Abbas tau al-Asytar. Kedua orang ini ditolak oleh pimpinan pasukan Ali, al-Asy’as. Kemudian Ali menyerahkan keputusan kepada pimpinan pasukanya tersebut untuk memilih hakim yang mereka senangi. Akhirnya terpilihlah Abu Musa al-Asy’ari.
Pada hari tahkim (Arbitrase), ramadan 37 H/657 M di Daumat al-Jandal (antara Madinah dan Irak), al-Asy’ari berhadapan dengan *Amr bin As dari pihak Mu’awiyah. Kemudian ia diperdaya oleh Amr bin As. Semula keduanya setuju untuk memberhentikan Ali bin Abi Talib dan Mu’awiyah dari jabatan Khalifah. Kemudian menyerahkan pemilihan khalifah kepada kesepakatan umat Islam. Al-Asy’ari mengiginkan *Abdullah bin Umar bin Khattab sebagai khalifah yang baru, tetapi ditolak oleh Amr bin As. Al-Asy’ari diminta untuk menyampaikan pidato dan menurunkan Ali bin Abi Talib dan setelah itu giliran Amr bin As untuk memecat Mu’awiyah. Ternyata Amr bin As dalam pidatonya menguatkan pemecatan Ali, kemudian menetapkan pengangkatan Mu’awiyah sebagai khalifah. Setelah kegagalan tahkim ini, al-Asy’ri lalu meninggalkan aktivitas politik dan pindah ke Mekah. Beberapa tahun sebelum meninggal, ia kembali ke Kufah.
Abu Musa al-Asy’ari memiliki suara merdu dalam membaca Al-Qur’an. Karena itu Nabi SAW menyebutnya dikaruniai seruling Nabi Daud. Pada suatu malam, Nabi SAW dan istrinya, Aisyah, lewat dimuka rumahnya. Keduanya berhenti ketika mendengar al-Asy’ari membaca Al-Qur’an. Nabi SAW dan Aisyah baru beranjak dari tempatnya setelah al-Asy’ari berhenti mengaji.
Sebagai sahabat Nabi SAW, al-Asy’ari banyak menerima ayat dan hadis dari Nabi SAW. Ia juga menerima penyampaian hadis Nabi SAW dari al-Khulafa’ ar-Rasyidin (empat sahabat Nabi SAW) dan dari sahabat, *Mu’az bin Jabal, *Ibnu Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, dan Ammar. Kemudian putra-putranya (Musa, Ibrahim, Abu Bardah, dan Abu Bakar) dan istrinya (Fatimah) juga meriwayatkan hadis darinya. Di antara sahabat yang meriwayatkan hadis dari al-Asy’ari adalah Abu Sa’id, *Anas bin Malik, dan Tariq bin Syihab. Sedangkan dari *tabiin dan generasi sesudahnya adalah Zaid bin Wahhab, Abu Abdurrahman as-Sulma, Ubaid bin Umair, dan Qais bin Abi Hazim.
Al-Asy’ari bersama Mu’az pernah diutus Nabi SAW ke Yaman untuk mengajarkan Al-Qur’an dan agama Islam kepada penduduk yang baru masuk Islam. Ia bersama Umar bin Khattab, Ali bin Abi Talib, dan *Zaid bin Sabit dijuluki qadi al-Ummah (kadi umat). Di masa Umar dan Usman, ia mengajarkan agama kepada penduduk Basra dan Kufah.
Kesalehan dan ketakwaan al-Asy’ari di gambarkan dalam Hilyah al-Awliya (Permata Para Wali). Pada suatu hari ia mengumpulkan sekitar 300 orang kadi di Masjid Basra, lalu ia mengingatkan bahwa Al-Qur’an dapat mendtangkan pahala dan dapat menimbulkan dosa. Ia berpesan, “Ikutilah Al-Qur’an, jangan Al-Qur’an mengikuti anda. Barang siapa mengikuti Al-Qur’an, ia akan dibawa ketaman surga dan barang siapa yang diikuti Al-Qur’an ia akan dicampakkan ke dalam neraka.”
Anas bin Malik menceritakan bahwa ia dan al-Asy’ari pernah bepergian bersama. Ketika mendengar orang-orang lain sibuk bercakap-cakap, ia mengajak Anas untuk mengingat Allah SWT. Ia bertanya kepada Anas mengapa orang melupakan Allah SWT. Anas menjawab itu disebabkan oleh syahwat dan setan. Ia membantah jawaban Anas dengan menjelaskan bahwa penyebabnya adalah karena dunia disegerakan pada manusia dan dapat dilihat oleh mereka, sedangkan akhirat tidak dapat terlihat. Ia berkata, “Seandainya akhirat dapat dilihat oleh manusia, niscaya mereka tidak akan berpaling dari akhirat.”

About the Author

RIZAL RIZLA

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Post a Comment


iklan

 

Copyright © Berbagi Menuju Lebih Baik. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com