AL-JUWAINI, ABDUL MA’ALI

AL-JUWAINI, ABDUL MA’ALI
(Bustanikan, Nisabur, 18 Muharram 419/12 Februari 1058 – Bustanikan, 23 Rabiulkhir 478/20 Agustus 1085). Ahli fikih, ahli usul fikih, dan ahli ilmu kalam (teologi), guru besar dari Marasah Nizamiah, di mana Imam Gazali pernah belajar. Nama lengkapnya ialah Abdul Malik bin Abdullah bin Yusuf bin Muhammad al-Juwaini an-Nisaburi, terkenal dengan julukan Imam Haramain, karena pernah tinggal di dua tanah suci (Mekah dan Madinah). Pertama kali ia belajar pada ayahnya, asy-Syaikh Abdullah, seorang keturunan Arab yang berdarah bangsawan. Untuk memperdalam ilmu pengetahuan, al-Juwaini kemudian meninggalkan Nisabur dan pergi ke Baghdad. Setelah itu ia pindah ke Mekah dan Madinah. Ia menetp disana selama empat tahun sambil belajar.
Atas permintaan Perdana Menteri Nizam al-Mulk, penguasa dan pendiri Madrasah Nizamiah di Nisabur, al-Juwaini kembali ke negerinya dan mengajar di madrasah tersebut sampai akhir hayatnya. Imam al-Gazali, yang mendapat julukan Hujjah al-Islam (Pendekar Islam), adalah lulusan perguruan Nizamiah yang diasuh al-Juwaini. Pemuka ulama ahlusunnah wal jamaah dan pengikut Imam Abu Hasan al-Asy’ari ini juga dsiebut Abdul Ma’ali untuk menunjukkannya sebagai ilmuwan, agamawan, dan pemuka masyarakat. Diya’ ad-Din, yang berarti cahaya agama, merupakan gelar lain yang diberikan kepada al-Juwaini karena kelebihannya dalam meneragi hati dan pikiran para pembela akidah Islam, yang karenannya menangkis serangan para pengikut golongan “sesat” yang telah terjerumus ke dalam kegelapan.
Al-Juwaini menonjol di kalangan ulama Asy’ariyah karena kekhasan metodenya dalam membela paham Suni. Menurutnya, akidah yang benar ialah yang didasarkan atas akal dan naql serta kombinasi antara keduanya. Akal itu cahaya Tuhan yang sifatnya fitrawi sebagai tanda kecintaan Tuhan kepada manusia dan untuk menjadi media (wasilah) bagi ilmu pengetahuan. Sedangkan an-Naql adalah semata-mata perkara daya serap pendengaran yang wajib diyakini kebenarannya tanpa memerlukan pembuktian akal atasnya. Karena pendirian ini, ia disebut sebagai generasi keempat dari pemuka dan ulama Asy’ariyah, sejajar dengan al-Baghdadi dan Abu Qasim Abdul Karim Al-Qusyairi. Pandangannya bahwa akal dan penalaran akan sanggup mengantar manusia kepada keyakinan mantap membawanya kepada pendirian bahwa penggunaan penalaran dalam soal agama adalah wajib menurut syarak. Karena kekhasan metodenya itu pulalah maka ia tidak selalu mengikuti pendapat para pendahulunya, sampai Imam Abu Hasan al-Asy’ari sekalipun.
Al-Juwaini juga merupkan seorang pengarang yang produktif sebagaimana dapat dilihat dari belasan atau bahkan puluhan karya ilmiahnya yang meliputi beberapa cabang keilmuan terutama dalam bidang usul fikih, seperti al-Burhan fi Usul al-Fiqh (Argumentasi dalam Usul Fikih); dan al-Waraqat (Sehelai Kertas); dalam bidang fikih, misalnya Nihayat al-Matlab fi Dirayat al-Mazhab (Rujukan Yang Tuntas Dalam Ilmu Mazhab); dan dalam bidang ilmu kalam seperti al-Kamil fi Ikhtisar asy-Syamil (Kitab Yang Sempurna Dalam Ikhtisar Yang Mencakup), Risalah fi Usul ad-Din (Rialah Tentang Dasar Agama), Nizamiyyah fi al-Arkan al-Islamiyyah (Sistemtika Rukun-Rukun Islam), dan lain-lain.

About the Author

RIZAL RIZLA

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Post a Comment


iklan

 

Copyright © Berbagi Menuju Lebih Baik. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com