ALI BIN HUSEIN ZAENAL ABIDIN

ALI BIN HUSEIN ZAENAL ABIDIN
(Madinah, 36 – 95 H). Salah seorang diantara sembilan fuqaha salaf (ahli hukum Islam terdahulu) terkemuka di Madinah; keturunan Rasulullah SAW. Nama aslinya Ali bin Husein bin Ali bin Abi Talib; terkenal dengan nama Zaenal Abidin karena gemar sangat gemar beribadah (Ar: Zaen al-Abidin = panutan/penghulu para ahli ibadah); juga dikenal dengan nama as-Sajjad karena sangat rajin sujud (salat). Menurut Abu Kasim az-*Zamakhsyari dalam bukunya Rabi’ al-Abrar, ibunya (Syahzaman atau Syahbanu, putri Yazdajird bin Anusyirwan) adalah keturunan Kisra, raja Persia. Ayahnya, Husein bin Ali bin Abi Talib, adalah keturunan Rasulullah SAW melalui nasab *Fatimah az-Zahra. Ia adalah anak tunggal karena ibunya tutup usia sesaat setelah melahirkanya.
Ali bin Husein Zaenal Abidin dibesarkan dan dididik di lingkungan keluarga Rasulullah SAW, diasuh oleh ayahandanya. Ia satu-satunya putra Husein bin Ali yang selamat dari pembantaian yang dilakukan tentara Yazid bin Mu’awiyah (khalifah kedua Umayyah, 61 – 64 H/680 -683 M) di *Karbala pada 10 Muharram 61 H. Pada waktu itu ia sedang sakit sehingga tidak ikut berperang membela ayahandanya dan 72 orang pengikutnya yang gugur sebagai syuhada bermandi darah di depan matanya. Ia sempat ditawan dibawa ke Kufah untuk dihadapkan kepada Ubaidullah bin Ziyad, gubernur yang dijadikan Yazid sebagai penguasa disana, kemudian dibawa ke Damsyik (Damascus) untuk dihadapkan Khalifah Yazid bin Mu’awiyah, namun akhirnya ia dibebaskan dan diantarkan pulang ke Madinah.
Pengalamanya pada peristiwa Karbala yang tragis tampak berkesan pada dirinya. Dijauhinya cara hidup yang penuh kezaliman dan kesesetan. Ia memilih jalan beribadah (mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Anaknya Imam Muhammad al-Baqir, bercerita tentang ayahnya, “...setiap kali mendapatkan nikmat Allah ia langsung bersujud, setiap kali ia membaca Al-Qur’an tentang sujud ia pun selalu bersujud, setiap selesai dilaksanakanya salat fardu, ia bersujud, setiap kali ia mendamaikan orang yang berselisih ia pun melakukan sujud. Disebabkan seringnya ia bersujud, tampak bekas sujud di wajahnya, karena itu pula ia dijuluki as-Sajjad (orang yang senang Sujud)...”
Ali bin Husein Zaenal Abidin adalah seorang sufi, wali Allah SWT yang telah mencapai tingkat mukasyafah (penyingkapan hal-hal gaib secara spiritual). Hal ini terbukti, ketika *Abdul Malik bin Marwan mengirim surat kepada Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi (w.714), panglima yang mewakili dinasti Umayyah di Irak pada masa Marwan bin Hakam. Surat itu antara lain berisi, “...jauhkanlah diriku dari lumuran darah Bani Abdul Muttalib sebab kulihat keluarga Abu Sufyan, setelah bergelimang di dalam dosa, tidak lagi mampu bertahan kecuali dalam waktu yang tidak lama...” surat itu dikirimkan kepada Hajjaj dengan pesan agar merahasiakanya. Namun hal ini telah dibukakan atau di kasyaf-kan Allah SWT kepada Ali bin Husein Zaenal Abidin, yang kemudian segera menulis surat kepada Abdul Malik bin Marwan, yang berisi, “Bismillah ar-Rahman ar-Rahim. Dari Ali bin Husein kepada Abdul Malik bin Marwan. Amma ba’ad. Anda telah menulis surat hari “ini”, “bulan ini”, kepada Hajjaj mengenai keamanan kami, Bani Abdul Muttalib. Semoga Allah SWT memberi balasan sebaik-baiknya untuk anda. Wassalam”.
Surat dikirim melalui seorang pelayanya ke Syam (kini suriah), tempat Abdul Malik bin Marwan. Khalifah itu mengetahui melalui surat itu, bahwa tanggal pengirimanya persis sama dengan tanggal suratnya untuk Hajjaj. Setelah diselidiki, ternyata keberangkatan utusan Ali bin Husein dari kota Madinah bertepatan dengan jam dan hari keberangkatan utusanya sendiri menuju kediaman Hajjaj. Ia akhirnya menyadari bahwa Allah SWT telah meng-kasyaf-kan peristiwa itu pada Ali bin Husein. Ia pun mengirimkan hadiah dan sepucuk surat pada Ali bin Husein, agara ia berkenan untuk mendoakan kebaikan baginya.
Walaupun Ali bin Husein Zaenal Abidin banyak beribadah untuk mendekatkan dirinya kepada Allah SWT, ia tidak pernah mengabaikan masyarakat di sekitarnya. Ia selalu tampil sebagai pemimpin spiritual bagi masyarakat dimana pun ia berada. Ia selalu memanfaatkan dirinya sebagai sumber ilmu dan panutan akhlak mulia, demikian komentar dari Zuhri, Ibnu Khallikan, Ibnu Hajar, al-Gazali, dan para ulama sufi lainya.
Peristiwa Karbala dengan segala akibatnya memberikan pelajaran penting baginya, betapa sebagian besar masyarakat Islam pada waktu itu telah dilipiti kebingungan, kebekuan pikiran, serba salah dalam bertindak, dan selalu terbentur dalam menghadapi teror dan kezaliman para penguasa. Sebagian lagi bersikap acuh tak acuh, menghindari protes, dan membiarkan apa saja yang terjadi, walaupun hal itu diketahui akan membawa ke arah kehancuran.
Ali bin Husein bertindak sangat hati-hati membenahi keadaan masyarakat, menyadarkan mereka dengan nilai-nilai luhur ajaran Islam. Ia mengupayakan perbaikan secara menyeluruh, membebaskan mereka dari sifat apatis dan larut dalam kemerosotan moral.
Di sisi lain, ia selalu menghindari keterlibatan dalam pemberontakan terhadap pemerintahan pada masanya. Menurut pendapatnya, tindakan itu tidak banyak menguntungkan umat, tetapi justru akan menambah banyak darah yang tertumpah, sedang keadilan pemerintah yang didambakan tidak bisa terwujud dalam kenyataan.
Ali bin Husein Zaenal Abidin menyadari bahwa dirinya berhadapan dengan tirani dan kekuatan sewenang-wenang yang menempatkan dirinya pada posisi yang sulit untuk mengembangkan potensi umat. Namun, ia selalu berusaha mencari jalan untuk menghidupkan kembali ajaran Islam dengan penuh kearifan. Salah satu jalan yang ditempuhnya ialah menyusun doa-doa munajat, yang diabadikanya dengan bentuk tulisan yang berjudul as-Sahifah as-Sajjadiyah. Tujuan tulisanya ini adalah untuk mengobati penyakit-penyakit rohani, sekaligus menyingkapkan hikmah dan etika pengabdian kepada Allah SWT. Dengan doa-doa itu seorang mukmin dapat memanjatkan permohonan kepada Tuhanya, terutama dalam situasi yang mengimpit, kala cobaan hidup selalu datang menerjang. Dengan doa-doa tersebut, diharapkanya manusia dapat mengadukan segala sesuatu kepada Tuhanya, sekaligus ber-Taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah.
Setelah posisinya semakin membaik, ia melangkah lebih jauh, berupaya menegakkan hak-hak asasi manusia, sebagaimana tercermin dalam bukunya Risalah al-Huquq. Dalam risalah ini dinugkapkanya hak dan kewajiban manusia terhadap Allah SWT, terhadap dirinya sendiri, terhadap sesama insani, dan terhadap makhluk Allah SWT lainya. Mengenai hak dan kewajiban sesama manusia, dijelaskan antara lain hak dan kewajiban rakyat kepada pemerintah, dan sebaliknya hak dan kewajiban pemerintah kepada rakyat yang dipimpinya. Risalah ini ditulis pada abad ke-7, jauh sebelum adanya Magna Carta yang dipaksakan oleh para kaun ksatria Inggris terhadap raja mereka pada tahun 1215 dan kemudian dikembangkan menjadi “Deklarasi Tentang Hak-Hak Asasi Manusia” yang disepakati secara internasional pada tahun 1948.
Pada tahun 86 H, Khalifah Abdul Malik bin Marwan meninggal dunia. Kedudukanya digantikan oleh anaknya, Walid bin Abdul Malik. Timbul kecemburuan pada diri Khalifah Walid melihat kedudukan Ali bin Husein Zaenal Abidin yang semakin tinggi pribadinya dan semakin dikagumi serta diataati oleh rakyat. Ia khawatir akan kelestarian kursi kekhalifahnya. Maka pada tahun 95 H, khalifah itu, melalui saudaranya Sulaiman bin Abdul Malik bin Marwan, mengirim seseorang untuk mendekati Ali bin Husein Zaenal Abidin, kemudian meracunya secara diam-diam. Ia meninggal dan dimakamkan di Baqi (Madinah), dekat pusara pamanya, *Hasan bin Ali bin Abi Talib.

About the Author

RIZAL RIZLA

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Post a Comment


iklan

 

Copyright © Berbagi Menuju Lebih Baik. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com