ALI SYARI’ATI

ALI SYARI’ATI
(Khurasan, Iran, 1933 – Damascus, Suriah, Juni 1977). Sosiolog, ahli politik, dan ahli *syari’at.
Ayahnya Muhammad Taqi Syari’ati, adalah seorang sarjana yang mengajar di sekolah lanjutan atas dan ahli dalam ilmu keislaman (islamologi). Ia pendiri Gerakan Sosialis Penyembah Tuhan, sebuah organisasi yang bergerak dibidang dakwah Islamiah. Intelektualitas dan semangat juang ayahnya diwarisi dengan baik oleh Ali Syari’ati.
Pada usia 17 tahun, Ali Syari’ati telah belajar pada sebuah lembaga pendidikan, Primary Teacher’s Training College. Masa belajar tersebut dimanfaatkanya pula untuk mengajar. Pada usia 20 tahun, ia mendirikan organisasi Persatuan Pelajar Islam di Mashad, Iran. Karena aktivitas politiknya, Ali Syari’ati sudah harus menjalani kehidupan di belakang terali besi dalam usia muda.
Pada tahun 1958 (keika berusia 25 tahun) Ali Syari’ati meraih gelar sarjana muda dalam ilmu bahasa Arab dan Perancis. Kemudian ia melanjutkan pendidikanya di Sorbonne, Paris, setelah berhasil memenagkan beasiswa untuk belajar dinegara itu. Ia belajar di Perancis sampai meraih gelar doktor pada tahun 1963.
Setahun kemudian Ali Syari’ati pulang ke negara kelahiranya. Ia sempat ditahan di perjalanan selama enam bulan. Setibanya di Iran, Ali Syari’ati mengawali langkahnya dengan menyampaikan ilmu yang diperolehnya dari berbagai sekolah dan akademi. Kemudian ia melakukan perjalanan keliling dalam rangka mendirikan Husyaimiah Irsyad, sebuah lembaga pendidikan pengkajian Islam yang kelak menjadi wadah pembinaan kader militan pemuda-pemuda revolusioner.
Periode kedua tahun 1960-an, Ali Syari’ati bergabung dengan Universitas Mashad. Kuliah-kuliahnya di Masjid kampus ini sangat diminati oleh sejumlah besar mahasisiwa. Karena ada kekhawatiran akan meningkatnya pengaruh Ali Syari’ati, pada tahun 1968 pemerintah Iran memaksanya menjalani masa pensiun pada usia yang relatif masih muda (35 tahun).
Setelah pensiun Ali Syari’ati giat mengajar di Husyaimiah Irsyad (1969). Aktivitas-aktivitasnya di Husyaimiah Irsyad ini dinilai membahayakan penguasa, sehingga lembaga tersebut ditutup oleh pemerintah (1972). Walaupun demikian, ia tetap sering ceramah diberbagai perguruan tinggi dan masjid di kota-kota besar Iran. Kuliah-kulihnya yang simpatik dan berbobot menimbulkan kepercayaan diri bagi jutaan muslimin di Iran. Sejumlah intelektual Islam, para mahasiswa, dan masyarakat Iran tertarik kembali untuk mengakaji Islam yang memberikan potensi besar dalam upaya memberi makna bagi kehidupan pribadi dan nasib bangsa. Ali syari’ati adalah seorang orator luar biasa, lidahnya setajam penanya. Dengan keliahaianya kampus dan masjid-masjid di Iran menjadi pusat kegiatan organisasi revolusioner. Oleh karena aktivitas politiknya, pada tahun 1974 Ali Syari’ati ditangkap. Ia kemudian menjalani tahanan rumah sampai tahun 1977. Pada bulan Mei 1977, ia terpaksa meninggalkan Iran menuju Inggris untuk menghindarkan diri dari kejaran penguasa. Sebulan kemudian Ali Syari’ati tutup usia secara misterius dirumah kerabatnya. Jenazajnya dikebumikan di Damascus Suriah. Setahun kemudian Dinasti Pahlevi runtuh dan lahirlah Republik Islam Iran (16 Januari 1979).
Ali Syari’ati merupakan tokoh besar Iran sesudah Ayatullah Ruhollah *Khomeini. Walaupun kurang menguasai kitab-kitab klasik, namun ia mampu menggunakan teori-teori Barat sebagai pijakan bagi kajian doktrin-doktrin keagamaan.
Ali Syari’ati berpendapat bahwa para Nabi selalu berpihak kepada kaum lemah dalam upaya menghancurkan kekuasaan lalim yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai kaum mutrafin. Ia menggunakan istilah mustad’afin (lemah) sebagai pengganti istilah proletar dalam teori Karl Marx dan istilah mutrafin sebagai pengganti istilah borjuis, meskipun ia menentang paham moralisme.
Dalam bukunya Marxisme and Other Western Fallacies (Marxisme dan Kekeliruan Pemikiran Barat Lainya), Ali Syari’ati menyatakan bahwa baik Marxisme maupun Islam adalah dua ideologi yang mencakup seluruh dimensi kehidupan dan pemikiran manusia. Ia juga secara tegas mengatakan bahwa antara Islam dan Marxisme terdapat kontradiksi (pertentangan). Marxisme berdasarkan filsafat materialisme, sedangkan Islam, walaupun melihat dunia materi sebagai kenyataan eksistensial, percaya pada ada-Nya dan memiliki konsep “yang gaib”.
Pernyataan yang disampaikan Ali Syari’ati selalu didukung oleh pendapat-pendapat atau teori-teori para pemikir Barat, ayat-ayat Al-Qur’an, dan sunah Nabi Muhammad SAW. Ia berbuat demikian dengan maksud agar para *mullah berkenan mendukungnya.
Ali Syari’ati menganut paham Syi’ah Dua Belas (*Syiah). Dalam banyak hal ia memegang prinsip-prinsip keyakinan Syiah, kecuali dalam masalah imamah, ia berbeda dengan pendapat umum kalangan Syiah. Dalam hal imamah, ia berupaya memadukan teori musyawarah *Suni dan wasiat Syiah dalam pengangkatan pemimpin. Ia mencoba menghapus kesan bahwa *khalifah Suni telah merampas hak *Ali bin Abi Talib dalam Imamah. Pemikiranya ini di dukung dengan teori sosiologi politik yang memang merupakan keahlianya. Pemikiranya selalu diarahkan untuk menggalang ukhuwah islamiah (persaudaraan dalam Islam). Disamping ingin menumbuhkan kesatuan dikalangan umat Islam, ia juga bermaksud agar pemikiranya dapat diterima semua pihak, baik yang berpaham Suni maupun Syiah.
Ceramah-ceramah Ali Syari’ati yang dibukukan adalah Marxism and Other Western Fallacies, What Is To Be Done (Apa yang Harus Dilakukan), On The Sociology of Islam (Sosiologi Islam), al-Ummah wa al-Imamah (Umat dan Kepemimpinan), Intizar Madab-I’tiraz (Menunggu Kritik), The Role of Intellectual in Society (Peranan Cendekiawan dalam Masyarakat).































AMINAH BINTI WAHHAB
(w. 575/577). Ibunda Rasulullah SAW. Nama lengkapnya Aminah binti Wahhab bin Abdul Manaf bin Zuhrah. Ibunya bernama Barrah binti Abdul Uzza bin Usman bin Abdul Dar bin Qusay bin Kilab. Dari silsilah tersebut, terlihat bahwa Aminah adalah keturunan Kuraisy yang terhormat. Ia putri kepala Bani Zuhrah yang tinggi martabatnya.
Aminah tumbuh menjadi gdis Kuraisy yang cantik. Tetapi sebagai putri bangsawan, ia berada dalam pingitan, hingga kemudian dipersunting oleh Abdullah (ayah Rasulullah SAW), putra Abdul Muttalib.
Aminah telah mengenal Abdullah sejak masa kanak-kanak. Mereka sering bermain bersama di halaman Masjidilharam. Akrabnya mereka ditunjang oleh keakraban antara orang tua mereka, Abdul Muttalib dan Wahab, karena keduanya adalah pemimpin masyarakat Mekah.
Suatu ketika Abdul Muttalib datang ke rumah Wahhab bin Abdul Manaf untuk meminang Aminah buat putranya. Barrah, ibu Aminah, menghampiri anaknya dan mengatakan bahwa Abdullah telah selamat dari penyembelihan; ibunya menunggu reaksi Aminah yang ternyta berusaha bersikap tenang walaupun merasakan bahwa ibunya menyimpan sesuatu dalam hatinya. Kemudian, ayahnya datang dan berkata, “Tokoh dari Bani *Hasyim datang untuk meminangmu untuk putranya Abdullah”.
Setelah berita itu tersiar, datanglah seluruh kerabat dari Bani Zuhrah untuk memberikan ucapan selamat dan doa restu pada calon pengantin itu. Aminah merasa bahagia, tetapi juga terkejut, karena tidak menyangka akan dipinang oleh pemuda rupawan dan mulia, yang waktu itu menjadi idaman gadis-gadis Mekah. Aminah merasa bersyukur sebab Abdullah dapat terlepas dari penyembelihan dan meminang dirinya. Ia tidak menghiraukan banyaknya putri Kuraisy yang juga menaruh hati pada Abdullah.
Pesta perkawinan Aminah dan Abdullah berlangsung selama 3 hari 3 malam dengan penuh keramaian dan kebahagiaan di kedua belah pihak. Seusai pesta, sesuai dengan adat, pengantin pria tinggal di rumah mertuanya selama 3 hari, dan pada hari keempat pulang kerumahnya mendahului istrinya guna mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut istrinya.
Aminah merasa tentram dan bahagia tinggal di rumah suaminya, walaupun masih sedih meninggalkan keluarganya. Aminah dan Abdullah memulai hidup barunya dengan penuh kebahagiaan. Aminah sesekali menanyakan, kenapa banyak putri Kuraisy yang ingin diperistri oleh Abdullah. Abdullah menjawab, “mereka ingin diperistri karena mereka percaya ada cahaya di wajah saya”. Salah seorang wanita yang melihat cahaya itu adalah Binti Nawfal, adik dari Waraqah bin Nawfal, seorang pendeta Nasrani.
Akhirnya cahaya itu dimimpikan oleh Aminah sendiri di suatu malam menjelang subuh. Aminah seolah-olah melihat ada cahaya yang keluar dari tubuh Abdullah. Cahaya itu mampu menerangi seluruh jagad raya, dan ia seolah-olah mendengar suara yang berisik kepadanya, “Wahai, Aminah, engkau telah mengandung seorang pemimpin seluruh umat manusia”.
Setelah pengantin baru itu melewatu hari-hari bahagia selama sebulan, Abdullah harus meninggalkan istrinya untuk ikut bersama kafilah Kuraisy yang akan berdagang ke negeri Syam. Sebenarnya Abdullah dan aminah sama-sama merasa berat untuk berpisah. Abdullah sangat terharu melihat istrinya, maka dia berkata, “Sabarlah Aminah, saya pergi hanya dalam waktu yang tak lama. Percayalah! Malam-malammu akan dipenuhi dengan mimpi indah seperti yang pernah dikatakan adik Waraqah bin Nawfal.” Tetapi Aminah tetap saja merasa sedih; ia selalu termenung mengingat suaminya. Ia selalu dihibur oleh pembantunya yang setia, Ummu Aqman dan keluarganya.
Satu bulan sejak keberangkatan Abdullah, Aminah belum merasakan beratnya mengandung. Dia selalu memikirkan nasib suaminya. Memasuki bulan kedua, terdengar berita bahwa tak lama lagi rombongan akan tiba di Mekah. Aminah menunggu kedatangan suaminya dengan gembira. Ia ingin menceritakan mimpinya dan mendengar perjalanan suaminya.
Akhirnya rombongan sampai di Mekah. Aminah menanti kedatangan suaminya dengan cemas. Kecemasan itu memuncak tatkala semua kafilah telah sampai, sedang suaminya tak tampak. Ternyata Abdullah tidak ikut pulang bersama kafilah itu karena ia terserang penyakit batuk dalam perjalanan. Hal ini disampaikan mertua Aminah dengan hati-hati, agar ia bersabar dan mendoakan kesembuhan suaminya. Abdul muttalib mengutus kakak Abdullah yaitu Haris, untuk merawat dan membawanya pulang jika sudah sembuh.
Dua bulan sejak kedatangan kafilah itu, Abdullah belum pulang juga, tetapi Aminah tetap menunggu dengan sabar. Beberapa hari kemudian Haris membawa berita duka, bahwa Abdullah telah meninggal dan dikuburkan di Yastrib. Kesedihan dan kemurungan bercampur jadi satu pada diri Aminah, tetapi bayi dalam kandunganya membuat ia harus kuat menanti kelahiran anaknya itu, buah kasihnya dengan Abdullah. Pada tanggal 12 Rabiulawal malam senin tahun Gajah, bertepatan dengan 20 April 570, menjelang tengah malam, ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat, berwajah bersih, dan tampan, yang mengingatkanya pada suaminya.
Saat-saat menjelang kelahiran bayi itu, Aminah takut sekali. Namun hatinya terhibur karena merasakan seolah-olah banyak wanita (istri para rasul) duduk di sampingnya untuk memberikan semangat dalam perjuangan untuk melahirkan bayinya. Akhirnya bayinya lahir. Maka disuruhnya pembantunya untuk menyampaikan berita gembira ini pada mertuanya.
Abdul Muttalib juga sangat gembira memandang cucunya; ia teringat lagi pada anaknya, Abdullah. Ia kemudian mengambil cucunya dan menggendongnya ke Ka’bah sebagai pernyataan rasa syukurnya. Cucunya itu ia beri nama Muhammad. Seusai berdoa, cucunya itu dikembalikan kepada Aminah.
Sebagaimana tradisi orang Arab yang memberikan bayinya untuk disusui kepada wanita kampung, maka Aminah harus pula melepaskan anaknya untuk disusui orang lain. Namun, sebelum melepaskan anaknya kapada Halimah binti Abi Dua’ib as-Sa’diyah, ia tetap menyusui sendiri bayinya itu. Setelah 2 tahun, tugas Halimah selesai; Aminah menerima kembali anaknya.
Selanjutnya ia membawa anaknya ke Yastrib untuk berziarah ke kuburan suaminya, yang telah 7 tahun berbaring di sana. Untuk itu ia mempersiapkan segala sesuatu agar dia dan anaknya dapat ikut bersama kafilah yang akan membawa dagangan. Setelah tinggal di Yastrib sebulan lamanya, Aminah bersiap-siap untuk pulang bersama kafilah yang akan kembali ke Mekah. Namun di tengah perjalanan, sesampai di Abwa’, sebelum desa antara Madinah dan Mekah (kira-kira 37 km dari Madinah), Aminah, ibunda Rasulullah SAW, menderita sakit. Sakitnya itu membawa kematianya. Ia dikuburkan ditempat itu juga. Muhammad SAW ketika itu berumur sekitar 6 tahun.

















AMR BIN AS
(575 – Mesir, 42 H/663 M). Nama lengkapnya adalah Amr bin As bin Wail bin Hasyim bin Said bin Sahm bin Amr bin Hasis bin Ka’ab bin Lua’y bin Ghalib al-Qurasy. Salah seoran kerabat Nabi SAW, panglima perang pasukan muslim, dan pedagang yang sering melakukan perjalanan antara negeri Syam (Suriah) dan Mesir. Karena kecerdikanya, ia mempunyai kedudukan yang tinggi di kalangan kaum *Kuraisy. Amr bin As memeluk agama Islam pada 7 H/629 M atau sebelum penaklukan Mekah.
Amr bin As merupakan sahabat Rasulullah SAW yang setia dan terpercaya. Ia pernah ditunjuk sebagai petugas zakat di Amman dan diperintahkan untuk mengajak penduduk memeluk agama Islam.
Karena kemahiranya memimpin pasukan, maka ketiak *Abu Bakar as-Siddiq menadi khlaifah, Amr bin As termasuk salah seorang yang dipilih untuk memimpin pasukan yang akan menaklukkan negeri-negeri diluar tanah Arab.
Ketika *Umar bin Khattab menjadi khalifah, Amr bin As mengusulkan kepada khalifah agar Mesir ditaklukkan dan khalifah menyetujui usul tersebut. Untuk itu diangkatlah Amr bin As sebagai panglima perang penaklukan Mesir dari tangan bangsa Romawi. Pasukan ini bergerak menuju Mesir pada musim dingin tahun 18 H/639 M.
Dalam perjalananya ke Mesir hingga ke Arisy melalui padang pasir Sinai dengan jumlah pasukan 4000 orang, Amr bin As dapat menduduki Arisy dengan mudah. Dari Arisy, Amr bin As melanjutkan perjalanan ke Farama (Mesir) yang berhasil direbutnya dari bangsa Romawi dan kemudian melanjutkan ke Bulbais (Mesir). Kekuatan musuh dapat dipatahkan sehingga kota Bulbais dapat pula diduduki.
Dari Bulbais pasukan menuju ke Ummu Dunain (Mesir). Disini terjadi pertempuran yang hebat antara pasukan Islam dan bangsa Romawi. Pasukan Amr bin As tidak dapat mengalahkan musuh yang kuat dengan 20.000 tentara. Amr bin As meminta bantuan kepada khalifah Umar. Oleh khalifah dikirim 4000 tentara. Akhirnya psukanya berhasil memenangkan pertempuran ini berkat kemahiran Amr bin As mengatur siasat perang dengan menyerang musuh dari tiga jurusan. Banyak pasukan Romawi melarikan diri ke sebuah benteng yang bernama Babylon untuk berlindung. Tempat perkemahan Amr bin As diluar tembok Babylon itulah yang menjadi ibu kota Mesir yang diberi nama Fustat (dekat Cairo).
Sesudah penaklukan benteng Babylon itu (20 H/641 M); akhirnya dengan perjuangan yang cukup berat kota Iskandariyah yang ketika itu menjadi ibu kota Mesir dapat diduduki (21 H/642M). Pasukan Amr dapat merebut benteng-benteng pertahanan kota Iskandariyah. Setelah kemenanganya, Amr bin As diangkat menjadi Gubernur di Mesir. Pada masa pemerintahanya, Amr bin As mendirikan masjid jami yang sampai sekarang dikenal dengan nama Jami’ Amr atau Jami’ Fustat, yang merupakan masjid tertua di Afrika.
Amr bin As diberhentikan dari jabatanya sebagai gubernur Mesir pada masa khalifah *Usman bin Affan (646). Kemudian ia pergi ke Palestina untuk menetap disana.
Ketika *Ali bin Abi Talib menjadi khalifah, terjadi pertentangan antara pihak Ali dan kelompok *Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Amr bin As berada di pihak Mu’awiyah dan membantunya melawan Ali bin Abi Talib pada Perang Siffin (Safar 37/657 M). Keperkasaan pasukan Ali bin Abi Talib membuat tentara Mu’awiyah porak-poranda dan mereka telah bersiap-siap untuk melarikan diri. Melihat keadaan demikian, Mu’awiyah cemas dan meminta bantuan Amr bin As yang sudah diangkat menjadi penasehatnya. Lalu Amr bin As berseru kapada pasukan Mu’awiyah: “Barang siapa yang membawa mushaf (lembaran Al-Qur’an) supaya diangkat dengan ujung tombak ke atas!” mendengar seruan itu beberapa tentara Mu’awiyah mengangkat Al-Qur’an dengan ujung tombaknya. Kemudian Amr bin As balik berseru kepada pasukan Ali, “Inilah Kitabullah yang akan menjadi hakim antara kami dan kamu!”
Pengangkatan Al-Qur’an itu menimbulkan perpecahan dipihak Ali. Sebagian pasukanya menghendaki jalan damai dan mendesak Ali bin Abi Talib agar menerima pengangkatan Al-Qur’an itu. Sementara Ali sendiri dan sebagian pengikut lainya menginginkan agar perang dilanjutkan supaya terbukti siapa yang menang, apalagi mereka berkeyakinan bahwa pengangkatan Al-Qur’an itu tidak lebih dari siasat dan tipu daya Mu’awiyah. Akan tetapi, desakan yang kuat dari pengikut yang cinta damai menyebabkan Ali terpaksa menerima pengangkatan Al-Qur’an itu.
Perang Siffin berakhir dengan peristiwa tahkim (arbitrase). Dibentuklah suatu panitia dan kedua pihak sepakat untuk memilih seorang hakim yang akan merundingkan sebab-sebab perselisihan dan mencari cara penyelesaisnya. Pihak Ali bin Abi Talib diwakili oleh Abu Musa al-*Asy’ari, sedangkan pihak Mu’awiyah menunjuk Amr bin As. Kedua hakim ini bertemu pada bulan Ramadan 37/657 M di Daumat al-Jaudal.
Pada perundingan tersebut Amr bin As memperlihatkan kelihaianya dalam memperguanakan siasat dengan menetapkan bahwa Khalifah *Usman bin Affan telah teraniaya. Kemudian wali orang yang mati teraniaya berhak menuntut bela dan Mu’awiyah adalah orang yang paling berhak menuntut bela atas Usman. Selanjutnya para perunding mengusulkan pada kaum muslimin untuk memberhentikan Ali dan Mu’awiyah. Kemudian kaum muslimin ditugasakan untuk mencari pengganti mereka untuk menjabat sebagai khalifah. Untuk melaksanakan keputusan tersebut, Abu Musa al-Asy’ari, karena berusia lebih tua, dipersilahkan tampil lebih dulu ke hadapan khalayak dan menyatakan bahwa dia telah memakzulkan (menurunkan) Ali dari jabatanya sebagai khalifah dan menyerahkan urusan penggantinya pada kaum muslimin. Kemudian berdiri pula Amr bin As menyetujui pemberhentian Ali dan dia menetapkan Mu’awiyah sebagai khalifah. Pembicaraan Amr bin As ini melanggar kesepakatan semula yang telah dibuatnya bersama Abu Musa. Keputusan yang tentu saja merugikan pihak Ali ini tentu saja ditolak Ali. Ia menolak mengundurkan diri dan tetap menjabat sebagai khalifah hingga terbunuh tahu 661.
Atas jasa Amr bin As dalam perang Siffin, ketika menjadi khalifah, Mu’awiyah menepati janjinya untuk mengangkat kembali Amr bin As menjadi Gubernur Mesir pada tahun 659 hingga wafatnya. Ia meninggal dalam usia lebih dari 80 tahun dan dikebumikan di al-Muqattan (Mesir).

























ANAS BIN MALIK
Nama lengkapnya, Anas bin Malik bin an-Nadar bin Damdan bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amr bin Khanam bin Adi bin Najar al-Khazraji al-Ansari Abu Hamzah al-Madani. Anas bin Malik termasuk ke dalam golongan sahabat meskipun saat Rasulullah SAW hidup dia masih muda belia. Ketika Rasulullah SAW berada di Madinah, Anas bin Malik bertugas sebagai pembantu (khadim) Nabi SAW, karena itu orang memanggilnya dengan sebutan khadim Rasul; Anas sendiri bangga dengan panggilan itu. Riwayat yang menjelaskan bagaimana Anas bisa menempati kedudukan sebagai khadim Rasul ialah ketika Rasulullah SAW menetap di Madinah; ibunda Anas, Ummu Sulaim al-Ansariyah (dari golongan Ansar), mendatangi Rasulullah SAW dan memohon kepadanya agar putranya ini dapat diterima untuk mengabdi kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW langsung mengabulkan permintaan ibunda Anas tersebut, dan sejak itulah Anas selalu mendampingi Rasulullah SAW.
Menurut riwayat Abu Bakar bin Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Abdullah bin Syihal al-Quraisy az-Zuhri (51 H/670 M – 124 H/742 M), seorang ahli hadis, Anas bin Malik sendiri yang mengatakan bahwa ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, Anas berusia sepuluh tahun; dan ketika Rasulullah SAW wafat, usia Anas sudah mencapai dua puluh tahun. Ia dikenal dekat dengan Rasulullah SAW dan karenanya tidaklah mengherankan jika Anas memperoleh banyak kesempatan untuk menerima hadis dari Rasulullah SAW. Di samping itu, ia juga meriwayatkan sejumlah hadis dari para sahabat Nabi SAW, seperti Abu Bakar RA, Umar RA, Usman RA, Ali RA, dan lain-lain.
Dalam hal meriwayatkan hadis, Anas bin Malik menempati urutan ketiga dalam kelompok sahabat. Menurut riwayat, Anas bin Malik meriwayatkan sekitar dua ribu dua ratus enam puluh enam (2.266) buah hadis. Orang yang meriwayatkan hadis dari Anas bin Malik antara lain Ibnu Sirin, Abu Qatadah, dan Hasan Basri.
Anas sendiri termasuk sahabat yang kuat hafalanya dengan urutan sebagai berikut: *Abu Hurairah, *Abdullah bin Umar bin Khattab, Anas bin Malik, *Aisyah binti Abu Bakar, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdullah Al-Ansari (w. 78 H/698 M), dan Abu Sa’id al-Khudri (w. 84 H).
Anas bin Malik sudah pandai menulis ketika diserahkan ibunya kepada Nabi SAW, oleh karena itu ia banyak menulis hadis.demikian menurut riwayat yang diperoleh dari Yasir Abdul Wahhab bin Hibbatillah dari Abdullah bin Ahmad dari Yazid Humaid at-Tawil Anas bin Malik.
Ada bermacam-macam riwayat mengenai lamanya Anas berkhidmat pada Rasulullah SAW. Riwayat dari Ismail bin Ubaidullah, Abu Ya’qub Ibrahim bin Muhammad, dari Abi Isa dari Mahmud bin Gilan dari Abu Dawud dari Abu Khaldat menyatakan bahwa Anas bin Malik mengabdi kepada Rasulullah SAW selama delapan tahun, dan ada pula yang menyatakan selama tujuh tahun.
Rasulullah SAW sangat besar perhatianya kepada Anas bin Malik, sebagaimana riwayat dari Ja’far al-Faryabi dari Ibrahim bin Usman dari Mukhalid bin Hasan dari Hisyam bin Hasan dari Hafsah dari Anas sendiri menceritkan bahwa ketika Ummu Sulaim al-Ansariyah – ibunda Anas – menyerahkan anaknya kepada Rasulullah SAW, ia mengaharpkan agar Rasulullah SAW berkenan mendoakan anaknya. Rasulullah SAW mengabulkan permintaan ibunda Anas, seraya memanjatkan doa, “Allahumma aksir malahu wa waladahu wa adkhilhu al-jannata,” artinya, “Ya Allah, limpahkanlah harta dan anak keturunan yang banyak kepadanya (Anas) dan masukkanlah dalam surga.” Dalam riwayat lain, doa yang dibacakan Rasulullah SAW adalah demikian, “Allahumma aksir malahu wa waladahu wa barik lahu fihi,” artinya, “Ya Allah, limpahkanlah harta dan anak keturunan yang banyak kepadanya (Anas) dan berkatilah ia dengan harta dan ankanya itu.
Sebagai seorang pembantu Rasulullah SAW, Anas bin Malik sering menemani Rasulullah SAW ke medan perang sebagaimana diriwayatka Imam Bukhari dari Musa dan Ishaq bin Usman yang pernah menanyakan kepada anaknya, Musa bin Anas, katanya, “Berapa kali Anas mengikuti (peperangan) yang dipimpin Rasulullah SAW?” Musa bin Anas menjawab bahwa perang yang diikuti Anas bersama Rasulullah SAW sebanyak delapan kali.
Berkat dekatnya Anas dengan Rasulullah SAW, dan berkat doa Rasulullah SAW yang dikabulkan Allah SWT, Anas bin Malik memperoleh keberuntungan karena ia diberitakan memiliki dua bidang kebun yang subur yang dapat dipanen dua kali dalam setahun.
Berkat doa Rasulullah SAW, Allah SWT juga memberikan nikmat lain kepada Anas bin Malik, berupa anak keturunan yang banyak. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Anas bin Malik mempunyai cucu sebanyak seratus lima belas (115) orang. Riwayat lain menyebutkan bahwa Anas bin Malik dikaruniai anak sebanyak delapan puluh dua orang (82) orang, terdiri dari atas delapan puluh orang laki-laki dan dua orang perempuan.
Dalam pada itu tidak diperoleh data yang pasti tentang ibu para anaknya yang banyak itu, apakah Anas mempunyai istri banyak atau ia sering kali menikah. Namun yangsudah pasti, kekayaan dan keturunan yang banyak itu tidak menyebabkan ia lupa mengabdi kepada Tuhan. Ia tetap memperbanyak ibadahnya, seperti diungkapkan Abu Hurairah, “Saya tidak menyaksikan seseorang yang salatnya menyerupai Rasulullah SAW kecuali putra Ummu Sulaim (Anas).
Riwayat lain menggambarkan bahwa Anas bin Malik ibadahnya baik. Riwayat ini disampaikan oleh Ja’far dari sabit yang menceritakan secara singkat tentang kelebihan dari Anas bin Malik. Pada suatu ketika di musim kemarau, Sabit tengah bersama Anas, tiba-tiba seorang pembantu Anas mengahampiri mereka dan berkata, “Hai Abu Hamzah (gelar bagi Anas), betapa kering bumi kita.” Anas bin Malik segera berwudu, kemudian salat dua rakaat dan berdoa ke hadirat Allah SWT. Tidak lama kemudian sesudah itu konon awan hitam timbul di langit, lalu hujan pun turun. Setelah hujan reda, Anas mengajak para kerabatnya untuk menyaksikan langit yangsudah terang dan mengamati tanah yang sudah lembab di siram air hujan.
Anas bin Malik mempunyai kegemaran memanah, dan ia sering kali pergi memanah bersama anak-anaknya; Anas bin Malik banyak menempatkan bidikanya pada sasaran yang tepat. Kelebihan-kelebihan yang ada pada Anas bin Malik ini membuat banyak orang hormat kepadanya.
Di bidang pemerintahan, Anas bin Malik termasuk orang yang terpandang. Ia pernah mendapat kehormatan untuk mengurusi administrasi daerah Bahrein. Ketika Abu Bakar diangkat menjadi Khalifah, Anas yang usianya relatif masih muda dipilih Abu Bakar untuk menjadi petugas di daerah Bahrein. Berkat kerja keras dan kecakapanya dalam soal tulis menulis (administrasi) Anas dapat mengendalikan daerah Bahrein dengan sebaik-baiknya.
Anas bin Malik wafat dikota Basra dan ia merupakan sahabat terakhir yang meninggal disana. Ia dimakamkan di at-Taffi, suatu tempat yang dihormati bangsa Arab di Irak yang terletak sekitar 15 km dari Basra. Tidak diketahui secara pasti tahun wafat Anas dan berapa usianya yang sesungguhnya. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa usia Anas adalah Seratus tujuh (107) tahun, sementara riwayat lain menyebutkan sembilan puluh lima (95) tahun. Ada pula riwayat yang menyebutkan sembilan puluh satu (91) tahun, sembilan puluh dua (92) tahun, dan sembilan puluh tiga tahun (93).

About the Author

RIZAL RIZLA

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Post a Comment


iklan

 

Copyright © Berbagi Menuju Lebih Baik. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com