AMINAH BINTI WAHHAB

AMINAH BINTI WAHHAB
(w. 575/577). Ibunda Rasulullah SAW. Nama lengkapnya Aminah binti Wahhab bin Abdul Manaf bin Zuhrah. Ibunya bernama Barrah binti Abdul Uzza bin Usman bin Abdul Dar bin Qusay bin Kilab. Dari silsilah tersebut, terlihat bahwa Aminah adalah keturunan Kuraisy yang terhormat. Ia putri kepala Bani Zuhrah yang tinggi martabatnya.
Aminah tumbuh menjadi gdis Kuraisy yang cantik. Tetapi sebagai putri bangsawan, ia berada dalam pingitan, hingga kemudian dipersunting oleh Abdullah (ayah Rasulullah SAW), putra Abdul Muttalib.
Aminah telah mengenal Abdullah sejak masa kanak-kanak. Mereka sering bermain bersama di halaman Masjidilharam. Akrabnya mereka ditunjang oleh keakraban antara orang tua mereka, Abdul Muttalib dan Wahab, karena keduanya adalah pemimpin masyarakat Mekah.
Suatu ketika Abdul Muttalib datang ke rumah Wahhab bin Abdul Manaf untuk meminang Aminah buat putranya. Barrah, ibu Aminah, menghampiri anaknya dan mengatakan bahwa Abdullah telah selamat dari penyembelihan; ibunya menunggu reaksi Aminah yang ternyta berusaha bersikap tenang walaupun merasakan bahwa ibunya menyimpan sesuatu dalam hatinya. Kemudian, ayahnya datang dan berkata, “Tokoh dari Bani *Hasyim datang untuk meminangmu untuk putranya Abdullah”.
Setelah berita itu tersiar, datanglah seluruh kerabat dari Bani Zuhrah untuk memberikan ucapan selamat dan doa restu pada calon pengantin itu. Aminah merasa bahagia, tetapi juga terkejut, karena tidak menyangka akan dipinang oleh pemuda rupawan dan mulia, yang waktu itu menjadi idaman gadis-gadis Mekah. Aminah merasa bersyukur sebab Abdullah dapat terlepas dari penyembelihan dan meminang dirinya. Ia tidak menghiraukan banyaknya putri Kuraisy yang juga menaruh hati pada Abdullah.
Pesta perkawinan Aminah dan Abdullah berlangsung selama 3 hari 3 malam dengan penuh keramaian dan kebahagiaan di kedua belah pihak. Seusai pesta, sesuai dengan adat, pengantin pria tinggal di rumah mertuanya selama 3 hari, dan pada hari keempat pulang kerumahnya mendahului istrinya guna mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut istrinya.
Aminah merasa tentram dan bahagia tinggal di rumah suaminya, walaupun masih sedih meninggalkan keluarganya. Aminah dan Abdullah memulai hidup barunya dengan penuh kebahagiaan. Aminah sesekali menanyakan, kenapa banyak putri Kuraisy yang ingin diperistri oleh Abdullah. Abdullah menjawab, “mereka ingin diperistri karena mereka percaya ada cahaya di wajah saya”. Salah seorang wanita yang melihat cahaya itu adalah Binti Nawfal, adik dari Waraqah bin Nawfal, seorang pendeta Nasrani.
Akhirnya cahaya itu dimimpikan oleh Aminah sendiri di suatu malam menjelang subuh. Aminah seolah-olah melihat ada cahaya yang keluar dari tubuh Abdullah. Cahaya itu mampu menerangi seluruh jagad raya, dan ia seolah-olah mendengar suara yang berisik kepadanya, “Wahai, Aminah, engkau telah mengandung seorang pemimpin seluruh umat manusia”.
Setelah pengantin baru itu melewatu hari-hari bahagia selama sebulan, Abdullah harus meninggalkan istrinya untuk ikut bersama kafilah Kuraisy yang akan berdagang ke negeri Syam. Sebenarnya Abdullah dan aminah sama-sama merasa berat untuk berpisah. Abdullah sangat terharu melihat istrinya, maka dia berkata, “Sabarlah Aminah, saya pergi hanya dalam waktu yang tak lama. Percayalah! Malam-malammu akan dipenuhi dengan mimpi indah seperti yang pernah dikatakan adik Waraqah bin Nawfal.” Tetapi Aminah tetap saja merasa sedih; ia selalu termenung mengingat suaminya. Ia selalu dihibur oleh pembantunya yang setia, Ummu Aqman dan keluarganya.
Satu bulan sejak keberangkatan Abdullah, Aminah belum merasakan beratnya mengandung. Dia selalu memikirkan nasib suaminya. Memasuki bulan kedua, terdengar berita bahwa tak lama lagi rombongan akan tiba di Mekah. Aminah menunggu kedatangan suaminya dengan gembira. Ia ingin menceritakan mimpinya dan mendengar perjalanan suaminya.
Akhirnya rombongan sampai di Mekah. Aminah menanti kedatangan suaminya dengan cemas. Kecemasan itu memuncak tatkala semua kafilah telah sampai, sedang suaminya tak tampak. Ternyata Abdullah tidak ikut pulang bersama kafilah itu karena ia terserang penyakit batuk dalam perjalanan. Hal ini disampaikan mertua Aminah dengan hati-hati, agar ia bersabar dan mendoakan kesembuhan suaminya. Abdul muttalib mengutus kakak Abdullah yaitu Haris, untuk merawat dan membawanya pulang jika sudah sembuh.
Dua bulan sejak kedatangan kafilah itu, Abdullah belum pulang juga, tetapi Aminah tetap menunggu dengan sabar. Beberapa hari kemudian Haris membawa berita duka, bahwa Abdullah telah meninggal dan dikuburkan di Yastrib. Kesedihan dan kemurungan bercampur jadi satu pada diri Aminah, tetapi bayi dalam kandunganya membuat ia harus kuat menanti kelahiran anaknya itu, buah kasihnya dengan Abdullah. Pada tanggal 12 Rabiulawal malam senin tahun Gajah, bertepatan dengan 20 April 570, menjelang tengah malam, ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat, berwajah bersih, dan tampan, yang mengingatkanya pada suaminya.
Saat-saat menjelang kelahiran bayi itu, Aminah takut sekali. Namun hatinya terhibur karena merasakan seolah-olah banyak wanita (istri para rasul) duduk di sampingnya untuk memberikan semangat dalam perjuangan untuk melahirkan bayinya. Akhirnya bayinya lahir. Maka disuruhnya pembantunya untuk menyampaikan berita gembira ini pada mertuanya.
Abdul Muttalib juga sangat gembira memandang cucunya; ia teringat lagi pada anaknya, Abdullah. Ia kemudian mengambil cucunya dan menggendongnya ke Ka’bah sebagai pernyataan rasa syukurnya. Cucunya itu ia beri nama Muhammad. Seusai berdoa, cucunya itu dikembalikan kepada Aminah.
Sebagaimana tradisi orang Arab yang memberikan bayinya untuk disusui kepada wanita kampung, maka Aminah harus pula melepaskan anaknya untuk disusui orang lain. Namun, sebelum melepaskan anaknya kapada Halimah binti Abi Dua’ib as-Sa’diyah, ia tetap menyusui sendiri bayinya itu. Setelah 2 tahun, tugas Halimah selesai; Aminah menerima kembali anaknya.
Selanjutnya ia membawa anaknya ke Yastrib untuk berziarah ke kuburan suaminya, yang telah 7 tahun berbaring di sana. Untuk itu ia mempersiapkan segala sesuatu agar dia dan anaknya dapat ikut bersama kafilah yang akan membawa dagangan. Setelah tinggal di Yastrib sebulan lamanya, Aminah bersiap-siap untuk pulang bersama kafilah yang akan kembali ke Mekah. Namun di tengah perjalanan, sesampai di Abwa’, sebelum desa antara Madinah dan Mekah (kira-kira 37 km dari Madinah), Aminah, ibunda Rasulullah SAW, menderita sakit. Sakitnya itu membawa kematianya. Ia dikuburkan ditempat itu juga. Muhammad SAW ketika itu berumur sekitar 6 tahun.

About the Author

RIZAL RIZLA

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Post a Comment


iklan

 

Copyright © Berbagi Menuju Lebih Baik. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com