AMR BIN AS

AMR BIN AS
(575 – Mesir, 42 H/663 M). Nama lengkapnya adalah Amr bin As bin Wail bin Hasyim bin Said bin Sahm bin Amr bin Hasis bin Ka’ab bin Lua’y bin Ghalib al-Qurasy. Salah seoran kerabat Nabi SAW, panglima perang pasukan muslim, dan pedagang yang sering melakukan perjalanan antara negeri Syam (Suriah) dan Mesir. Karena kecerdikanya, ia mempunyai kedudukan yang tinggi di kalangan kaum *Kuraisy. Amr bin As memeluk agama Islam pada 7 H/629 M atau sebelum penaklukan Mekah.
Amr bin As merupakan sahabat Rasulullah SAW yang setia dan terpercaya. Ia pernah ditunjuk sebagai petugas zakat di Amman dan diperintahkan untuk mengajak penduduk memeluk agama Islam.
Karena kemahiranya memimpin pasukan, maka ketiak *Abu Bakar as-Siddiq menadi khlaifah, Amr bin As termasuk salah seorang yang dipilih untuk memimpin pasukan yang akan menaklukkan negeri-negeri diluar tanah Arab.
Ketika *Umar bin Khattab menjadi khalifah, Amr bin As mengusulkan kepada khalifah agar Mesir ditaklukkan dan khalifah menyetujui usul tersebut. Untuk itu diangkatlah Amr bin As sebagai panglima perang penaklukan Mesir dari tangan bangsa Romawi. Pasukan ini bergerak menuju Mesir pada musim dingin tahun 18 H/639 M.
Dalam perjalananya ke Mesir hingga ke Arisy melalui padang pasir Sinai dengan jumlah pasukan 4000 orang, Amr bin As dapat menduduki Arisy dengan mudah. Dari Arisy, Amr bin As melanjutkan perjalanan ke Farama (Mesir) yang berhasil direbutnya dari bangsa Romawi dan kemudian melanjutkan ke Bulbais (Mesir). Kekuatan musuh dapat dipatahkan sehingga kota Bulbais dapat pula diduduki.
Dari Bulbais pasukan menuju ke Ummu Dunain (Mesir). Disini terjadi pertempuran yang hebat antara pasukan Islam dan bangsa Romawi. Pasukan Amr bin As tidak dapat mengalahkan musuh yang kuat dengan 20.000 tentara. Amr bin As meminta bantuan kepada khalifah Umar. Oleh khalifah dikirim 4000 tentara. Akhirnya psukanya berhasil memenangkan pertempuran ini berkat kemahiran Amr bin As mengatur siasat perang dengan menyerang musuh dari tiga jurusan. Banyak pasukan Romawi melarikan diri ke sebuah benteng yang bernama Babylon untuk berlindung. Tempat perkemahan Amr bin As diluar tembok Babylon itulah yang menjadi ibu kota Mesir yang diberi nama Fustat (dekat Cairo).
Sesudah penaklukan benteng Babylon itu (20 H/641 M); akhirnya dengan perjuangan yang cukup berat kota Iskandariyah yang ketika itu menjadi ibu kota Mesir dapat diduduki (21 H/642M). Pasukan Amr dapat merebut benteng-benteng pertahanan kota Iskandariyah. Setelah kemenanganya, Amr bin As diangkat menjadi Gubernur di Mesir. Pada masa pemerintahanya, Amr bin As mendirikan masjid jami yang sampai sekarang dikenal dengan nama Jami’ Amr atau Jami’ Fustat, yang merupakan masjid tertua di Afrika.
Amr bin As diberhentikan dari jabatanya sebagai gubernur Mesir pada masa khalifah *Usman bin Affan (646). Kemudian ia pergi ke Palestina untuk menetap disana.
Ketika *Ali bin Abi Talib menjadi khalifah, terjadi pertentangan antara pihak Ali dan kelompok *Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Amr bin As berada di pihak Mu’awiyah dan membantunya melawan Ali bin Abi Talib pada Perang Siffin (Safar 37/657 M). Keperkasaan pasukan Ali bin Abi Talib membuat tentara Mu’awiyah porak-poranda dan mereka telah bersiap-siap untuk melarikan diri. Melihat keadaan demikian, Mu’awiyah cemas dan meminta bantuan Amr bin As yang sudah diangkat menjadi penasehatnya. Lalu Amr bin As berseru kapada pasukan Mu’awiyah: “Barang siapa yang membawa mushaf (lembaran Al-Qur’an) supaya diangkat dengan ujung tombak ke atas!” mendengar seruan itu beberapa tentara Mu’awiyah mengangkat Al-Qur’an dengan ujung tombaknya. Kemudian Amr bin As balik berseru kepada pasukan Ali, “Inilah Kitabullah yang akan menjadi hakim antara kami dan kamu!”
Pengangkatan Al-Qur’an itu menimbulkan perpecahan dipihak Ali. Sebagian pasukanya menghendaki jalan damai dan mendesak Ali bin Abi Talib agar menerima pengangkatan Al-Qur’an itu. Sementara Ali sendiri dan sebagian pengikut lainya menginginkan agar perang dilanjutkan supaya terbukti siapa yang menang, apalagi mereka berkeyakinan bahwa pengangkatan Al-Qur’an itu tidak lebih dari siasat dan tipu daya Mu’awiyah. Akan tetapi, desakan yang kuat dari pengikut yang cinta damai menyebabkan Ali terpaksa menerima pengangkatan Al-Qur’an itu.
Perang Siffin berakhir dengan peristiwa tahkim (arbitrase). Dibentuklah suatu panitia dan kedua pihak sepakat untuk memilih seorang hakim yang akan merundingkan sebab-sebab perselisihan dan mencari cara penyelesaisnya. Pihak Ali bin Abi Talib diwakili oleh Abu Musa al-*Asy’ari, sedangkan pihak Mu’awiyah menunjuk Amr bin As. Kedua hakim ini bertemu pada bulan Ramadan 37/657 M di Daumat al-Jaudal.
Pada perundingan tersebut Amr bin As memperlihatkan kelihaianya dalam memperguanakan siasat dengan menetapkan bahwa Khalifah *Usman bin Affan telah teraniaya. Kemudian wali orang yang mati teraniaya berhak menuntut bela dan Mu’awiyah adalah orang yang paling berhak menuntut bela atas Usman. Selanjutnya para perunding mengusulkan pada kaum muslimin untuk memberhentikan Ali dan Mu’awiyah. Kemudian kaum muslimin ditugasakan untuk mencari pengganti mereka untuk menjabat sebagai khalifah. Untuk melaksanakan keputusan tersebut, Abu Musa al-Asy’ari, karena berusia lebih tua, dipersilahkan tampil lebih dulu ke hadapan khalayak dan menyatakan bahwa dia telah memakzulkan (menurunkan) Ali dari jabatanya sebagai khalifah dan menyerahkan urusan penggantinya pada kaum muslimin. Kemudian berdiri pula Amr bin As menyetujui pemberhentian Ali dan dia menetapkan Mu’awiyah sebagai khalifah. Pembicaraan Amr bin As ini melanggar kesepakatan semula yang telah dibuatnya bersama Abu Musa. Keputusan yang tentu saja merugikan pihak Ali ini tentu saja ditolak Ali. Ia menolak mengundurkan diri dan tetap menjabat sebagai khalifah hingga terbunuh tahu 661.
Atas jasa Amr bin As dalam perang Siffin, ketika menjadi khalifah, Mu’awiyah menepati janjinya untuk mengangkat kembali Amr bin As menjadi Gubernur Mesir pada tahun 659 hingga wafatnya. Ia meninggal dalam usia lebih dari 80 tahun dan dikebumikan di al-Muqattan (Mesir).

About the Author

RIZAL RIZLA

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Post a Comment


iklan

 

Copyright © Berbagi Menuju Lebih Baik. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com