FAKHRUDDIN, KH ABDUR ROZZAQ

0 comments
FAKHRUDDIN, KH ABDUR ROZZAQ
(Yogyakarta, 14 Februari 1916). Sebutan akrabnya pak AR. Seorang ulama, dai, pendidik, dan salah seorang tokoh *Muhammadiyah yang memangku jabatan ketua pimpinan pusat selama 22 tahun. Ayahnya bernama Kiai Haji Fakhruddin, seorang lurah naib (penghulu) dari Istana Pakualaman. Ibunya Nyai Fakhruddin binti Kiai Haji Idris, putri seorang bekas penghulu Pakualaman. Fakhruddin adalah anak ketujuh dari sebelas bersaudara. Masa kanak-kanaknya dihabiskan di Pakualaman. Setalah tujuh tahun ia bersama orang tuanya pindah ke Purwangan dan disana ia memasuki sekolah Standard School Muhammadiyah, Bausasran, sampai kelas dua. Karena ayahnya tidak lagi menjadi penghulu (1923 – 1924) dan juga tidak berhasil dalam berdagang batik, maka orangtuanya pulang ke desa aslinya, Desa Bleberan, Kelurahan Banaran, Kecamatan Balur, Kabupaten Kulonprogo. Oleh karena itu Fakhruddin pindah ke SD Muhammadiyah Prenggan Kotagede, dan tinggal bersama kakak perempuannya.
Fakhruddin menamatkan pendidikan Sekolah Dasarnya (SD) tahun 1928. Kemudian ia melanjutkan ke Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta. Setelah dua tahun belajar di Madrasah Muallimin, ia dipanggil pulang ke desanya untuk mengaji pada ayahnya di pondok Desa Bleberan. Setelah dua tahun menimba ilmu pada orangtuanya, tahun 1932 ia melanutkan pendidikannya ke Sekolah Darul Ulum Muhammadiyah, Sewugalur, Kulonprogo, selama tiga tahun. Kemudian ia memasuki Tabligh School Muhammadiyah selama satu tahun.
Dengan bekal pendidikan tersebut, tahun 1936 ia dikirim oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah ke Palembang sebagai guru SD Muhammadiyah Cabang Talangbalai, Tanjungraja (sekarang Ogan Komering Ilir). Disana ia mendirikan Wustho Muallimin Muhammadiyah, setingkat dengan SMP. Tahun 1938 ia pindah ke Cabang Muhammadiyah Kulak Pajeh, Sekayu Musi Ilir (sekarang Kabupaten Musi Banyuasin). Tahun 1941 ia pindah ke kantor Muhammadiyah Sungaibatang, di Sungaigerong, Palembang; mengajar di HIS (Holladsche Inlandsche School) Muhammadiyah, setingkat dengan SD, hingga tahun 1942. Kemudian pindah lagi ke Cabang Muhammadiyah Muara Maranjat, Tanjungraja, Ogan Komering Ilir, dan mengajar disana sampai 1943.
Pada tahun 1944 kembali ke Bleberan dan atas permintaan kepala sekolah Darul Ulum ia mengajar disana dan menjadi anggota pengurus Muhammadiyah Sewugalur. Ketika Indonesia merdeka, 1945, ia ikut menjadi anggota Barisan Keamanan Rakyat (BKR) di kecamatan atau pasukan Hizbullah Yon 39 di bawah pimpinan H Dawam Rozi. Tahun 1947, ia menjadi penghulu (Kepala Kantor Urusan Agama) di Adikarto (Wates). Tidak lama kemudian pindah ke Kulonprogo, Sentalo, dalam jabatan yang sama. Beliau ikut bergerilya melawan Belanda tahun 1949. selama sembilan tahun (1950 – 1959) menjadi pegawai jaatan agama Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang berkantor di Kepatihan tahun 1959 pindah ke Semarang menjabat sebagai Kepala Kantor Penerangan Agama Propinsi Jawa Tengah sambil merangkap menjadi dosen luar biasa bidang Islamologi di Unissula, FKIP Undip dan STO, di Semarang. Tahun 1964 kembali ke Yogyakarta menjabat sebagai Kepala Kantor Penerangan Agama Propinsi DIY hingga pensiun tahun 1972.
Dalam organisasi Muhmmadiyah yang mula-mula dipercayakan kepadanya ialah Ketua Daerah Kota Madya Yogyakarta (1950 – 1951), ketua wilayah Propinsi DIY (1952 – 1953), dan menjadi pembantu PP Muhammadiyah. Sebagai pembantu PP Muhammadiyah ia pernah ditunjuk mewakili PP Muhammadiyah dalam Acara Musyawarah Wilayah Muhammadiyah Propinsi Aceh (1953). Tahun 1956 ia sudah menjadi anggota PP Muhammadiyah dan sebagai Wakil Ketua. Jabatan ini dipegangnya sampai tahun 1988. dalam setiap Muktamar, seperti Muktamar ke-35 (setengah abad Muhammadiyah) di Jakarta, Muktamar ke-36 di Bandung (1956), ia tetap dipercayakan untuk menduduki jabatan tersebut. Tahun 1968 KH. A.R. Fakhruddin menjabat Ketua PP Muhammadiyah menggantikan KH Fakih Usman (w. 1968) dari Surabaya yang terpilih sebagi Ketua PP Muhammadiyah dalam Muktamar ke-37 di Yogyakarta. Tahun 1969 dalam Sidang Tanwir Muhammadiyah di Kulonprogo KH A.R. Fakhruddin ditetapkan sebagai Ketua PP Muhammadiyah. Jabatan PP Muhammadiyah tetap di pegangnya karena ia selalu terpilih kembali dalam setiap mukamar, baik muktamar 1971 di Ujung Pandang, 1978 di Surabaya, maupun muktamar 1985 di Solo. Dalam muktamar ke-42 di Yogyakarta tahun 1990 KH A.R. Fakhruddin tidak bersedia dipilih lagi. Dengan demikian, genaplah 22 tahun menjadi ketua PP Muhammadiyah.
KH A.R. Fakhruddin berkali-kali ditawari untuk menjadi anggota DPR. Akan tetapi, karena khawatir tersita waktunya untuk mengurus Muhammadiyah yang telah dipercayakan kepadanya, ia menolak tawaran tersebut. Namun kemudian ia menerima menjadi anggota DPA dan dilantik pada tanggal 14 agustus 1988.
Sebagai seorang muslim, KH A.R Fakhruddin selalu berkecimpung dalam bidang keagamaan dan kemasyarakatan. Sebagai ketua PP Muhammadiyah, ia telah memberi contoh teladan yang baik untuk para pengikutnya. Sebagai contoh, dalam menjalankan tugas sebagai pimpinan ia selalu menempuh cara kolegial, yaitu memusyawarahkan segala tindakan yang akan ditempuh organisasi, sekalipun dalam hal yang kecil. Prinsip-prinsip musyawarah benar-benar dilaksanakanya, sehingga setiap anggota ikut bertanggung jawab terhadap suatu keputusan yang telah diputuskan bersama. Sikapnya yang merendah dan selalu optimis serta berserah diri kepada Allah SWT membuat ia lebih berwibawa.
Dalam bidang keagamaan ia telah melaksanakan suatu pembaruan, yaitu zakat yang telah terkumpul dibaginya pada saat paceklik dan ia sendiri terjun langsung ke desa-desa untuk melihat sendiri siapa saja yang sangat membutuhkan bantuan. Kegiatan-kegiatan keagamaan yangdilakukanya selain dikalangan Muhammadiyah adalah berdakwah, kuliah subuh di RRI dan TVRI Yogyakarta (1975 – 1985). Di samping itu ia juga mengasuh acara tanya jawab soal agama di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta dengan rubrik “Pak AR Menjawab”, setiap hari Kamis.
Tulisan-tulisanya yang berhubungan dengan kemuhammadiyahan antara lain: Semangat Islam dan Muhammadiyah, Wawasan Gerakan Pemikiran dan Amal Dalam Musyawarah, Peningkatan Kualitas Kepemimpinan dan Gerakan dalam Muhammadiyah, dan Pemimpin Muhammadiyah.
KH A.R. Fakhruddin menikah dengan Siti Qamariah binti Kiai Abu Amar pada tahun 1938 dan dikaruniai tujuh orang putra-putri.

0 comments:

Post a Comment

Copyright 2011 Share and Care.
Blogger Template by Noct. Free Download Blogger Template