FARID WAJDI, MUHAMMAD

FARID WAJDI, MUHAMMAD
(Iskandariyah, Mesir, 1875 – Cairo, Februari 1954). Nama lengkapnya adalah Muhammad Farid bin Mustafa wajdi. Ia adalah seorang wartawan, pengarang, ahli fikih, dan pembaru pemikiran kagamaan Islam.
Muhammad Farid Wajdi tumbuh dan besar di kota kelahirannya, Iskandariyah, dan memperoleh pendidikan di kota itu (tidak diperoleh keterangan tentang riwayat jenjang pendidikan yang ditempuhnya). Ia dikenal sebagai seorang remaja muslim yang gemar membaca berbagai buku ilmu pengetahuan, sehingga ia memiliki pengetahuan yang luas tentang Islam. Ia juga mendalami sosiologi, kebudayaan, dan filsafat. Karena itu, pemikiran dan pandangannya tentang Islam selalu dikaitkan dengan argumen sosiologis, budaya, filosofis, dan modern. Ia juga memiliki majelis pengajian sendiri yang dihadiri oleh para mahasiswa yang suka pada pemikiran modern.
Ia pernah menetap di propinsi Dimyat, Mesir, tempat ayahnya menjabat wakil gubernur. Kemudian bersama ayahnya ia ikut pindah ke Swiss. Di kota ini Farid Wajdi mulai membina karirnya dengan menerbitka majalah al-Hayah (Juni 1899), dan menerbitkan risalah yang berjudul al-Falsafah al-Haqqah fi Bada’i al-Akwan serta menulis buku yang berjudul Tatbiq ad-Diniyah al-Islam ala an-Nawamis al-Madaniyah, bukunya yang pertama dalam bahasa Perancis. Buku ini kemudian ia terjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul yang sama (1316 H). Dalam terbitan terakhir (1322 H), buku tersebut ia beri judul baru: al-Madaniyah wa al-Islam (Peradaban Modern dan Islam). Kemudian ia kembali ke Cairo, dan bekerja sebagai pegawai di Dewan Wakaf. Ia menulis sebuah ensiklopedi yang dimuat dalam surat kabar ad-Dustur (1907), kemudian dalam majalah al-Wujdiyat (1910). Ensiklopedi ini ia beri judul Da’irah Ma’rifah al-Qarn al-‘Isyrin (Ensilopedi Abad Kedua Puluh), sebanyak sepuluh jilid yang selesai ia tulis tahun 1918. Menurut pengakuannya, ensiklopedi ini, yang banyak mengandung ide-ide modern, ia tulis tanpa bantuan orang lain.
Sejak November 1921 ia menjadi redaktur sejumlah surat kabar dan majalah yang terbit di Mesir. Kemudian sejak tahun 1933 sampai tahun 1952 ia dipercaya menjadi pemimpin redaksi majalah Nur al-Islam yang diterbitkan oleh Universitas al-Azhar yang kemudian berubah nama menjadi majalah al-Azhar majalah ini bertujuan untuk membela kepentingan Islam dan kaum muslimin. Dalam kaitannya dengan Islam majalah ini dalam pimpinan Farid Wajdi menampilkan ketinggian asas-asas ajaran Islam, menunjukkan patokan-patokan dan kebenaran ajarannya, memelihara tauhid dan ibadahnya, serta membela Islam dari paham dan pandangan hidup kaum materialis. Majalah ini mendorong umat Islam agar memajukan kebudayaan dan peradaban Isalam dan mengahpus keragu-raguan umat Islam terhadap kebenaran ajaran Islam dan persesuaiannya dengan pendidikan yang sehat dan filsafat serta mengikuti pola pemikiran modern.
Dalam tulisan-tulisannya, Farid Wajdi berusaha membela Islam terhadap serangan-serangan dari luar dan menunjukkan kebenaran Islam. Ia mengritik para sarjana Barat yang menilai Islam dari praktek-praktek umat Islam yang berada dibawah kekuasaan mereka. Menurutnya, apa yang dipraktekkan umat dan dijadikan dasar oleh para sarjana Barat dalam menilai Islam tidaklah memberi gambaran yang sebenarnya tentang Islam. Sebab dalam praktek itu terdapat banyak bidah yang bertentangan dengan ajaran Islam sebagai terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW. Hal ini terjadi karena pemehaman umat Islam masih sangat dangkal terhadap ajaran agamanya, sehingga mereka tidak dapat membedakan mana yang sesuai atau bertentangan dengan Islam.
Dalam kedudukannya sebagai pembaru, Farid Wajdi, yang juga dikenal sebagai pengikut ide * Muhammad Abduh, mengemukakan pandangan bahwa Islam sebenarnya tidak bertentangan dengan peradaban modern. Karena Islam tidak hanya mementingkan hubungan langsung antara manusia dan Allah SWT, tetapi juga mengandung prinsip-prinsip ajaran bagi pengembangan kebudayaan dan peradaban manusia, yaitu prinsip persamaan dalam kemanusiaan, prinsip musyawarah dalam kehidupan bermasysrakat dan bernegara, prinsip kebebasan berpendapat, perasaan, dan keamuan, serta prinsip persatuan atas dasar toleransi dan penekanan pada pentingnya kesejahteraan manusia. Ia juga mengemukakan bahwa untuk mewujudkan perkembangan pemikiran dan kebudayaan dalam Islam diperlukan adanya kebebasan akal dan pengetahuan. Dalam menjelasakan ini semua ia mengaitkannya dengan aspek sosiologis dan budaya. Baginya “Islam sesuai dengan Peradaban”. Sedangkan bagi Muhammad Abduh, “peradaban yang sejati sesuai dengan ajaran-ajaran Islam”. Karena itu, menurutnya, umat Islam dalam membangun dan memajukan kebudayaan Islam jangan ragu untuk mengadakan asimilasi dengan pengetahuan dan peradaban modern. Ia juga berpandangan bahwa orang dibolehkan menerjemahkan makna Al-Qur’an ke dalam bahasa Non Arab. Dalam bidang kepercayaan ia tidak membenarkan orang yang mengaku dapat melihat dan berdialog dengan jin. Hal ini baginya tidak masuk akal. Karena jin adalah makhluk yang bukan berbentuk materi seperti manusia.
Pemikirannya mempengaruhi Hasan al-*Banna (1906 – 1949; tokoh pembaru Mesir), dan *Ikhwanul Muslimin, organisasi yang dipimpimnnya, karena Hasan al-Banna sering menghadiri majelis pengajiannya disamping mengunjungi majelis Muhammad *Rasyid Rida. Pemikirannya juga mempengaruhi tokoh-tokoh pembaru di India, seperti Halli dan Syibli, yang mengadakan kontak dengan Farid Wajdi dan Muhammad Rasyid Rida. Di Indonesia Soekarno sering mengutip pandangan Wajdi baik dalam tulisan maupun dalam pidatonya. Ia mengingatkan umat Islam Indonesia bahwa pemikiran Islam akan berkembang di Indonesia bila ada kebebasan semangat, akal, dan pengetahuan. Karena itu ketiga kebebasan ini harus dikembangkan dan membuang pemikiran tradisional.
Karya-karya farid Wajdi yang terpenting antara lain adalah: al-Falsafah al-Haqqah fi Bada’i al-Akwan (Filsafat yang Benar tentang Keindahan Alam); al-Madaniyah wa al-Islam (Peradaban modern dan Islam); Da’irah Ma’arif al-Qarn al-‘Isyrin (Ensiklopedi abad ke-20; 10 jilid, dicetak oleh maktabah al-‘Ilmiah al-Jadidah, Beirut, 1918); dan sejumlah tulisan dalam majalah al-Azhar.

About the Author

RIZAL RIZLA

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

1 komentar:

  1. alhamdulillah...
    ga salah orang tua gw kasih nama Farid Wajdi.
    ternyata gw memangku nama seorang yang besar...

    ReplyDelete


iklan

 

Copyright © Berbagi Menuju Lebih Baik. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com