HANBALI, IMAM

HANBALI, IMAM
(Baghdad, Rabiulakhir 164/780 M – Rabiulawal 241/855 M). Ulama mujtahid (*ahli ijtihad) dibidang fikih dan salah seorang diantara empat imam mazhab yang terkenal di dunia Islam. Nama lengkapnya Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Sering juga dipanggil dengan nama Abu Abdullah, karena salah seorang putranya bernama Abdullah. Seelah menjadi ulama besar yang mempunyai banyak pengikut, ia dikenal dengan panggilan Imam Hanbali dan mazhabnya disebut Mazhab Hanbali.
Ayahnya bernama Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asas bin Idris bin Abdullah bin Anas bin Auf bin Qasit bin Mazin bin Syaiban bin Dalal bin Aqabah bin Sya’ab bin Ali bin Baqa bin Qashid bin Aqsy bin Dami bin Jadlah bin As’ad bin Rabi’ah bin Nizar. Pada Nizar inilah bertemu silsilah Imam Hanbali dan Nabi Muhammad SAW. ibunya bernama Shahifah binti Maimunah bin Abdul Malik bin Sawadah bin Hindur asy-Syaibani, berasal dari bangsawan Bani Amir.
Karena ayahnya meninggal dalam usia muda, Hanbali diasuh dan dibesarkan oleh ibunya sendiri. Pendidikanya diawali dengan belajar Al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama pada ulama-ulama di Baghdad sampai usia 16 tahun. Kemudian ia memperdalam ilmu agama dengan mengunjungi ilama-ulama ternama di berbagai tempat, seperti Kufah, Basra, Syam (Suriah), Yaman, Mekah, dan Madinah. Di antara guru-gurunya adalah Hammad bin Khalid, Isma’il bin Aliyyah, Muzaffar bin Mudrik, Walid bin Muslim, Mu’tamar bin Sulaiman, Abu Yusuf al-Qadi, Yahya bin Zaidah, Ibrahim bin Sa’id, Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, Abdurrazaq bin Human, Musa bin Tariq, dan banyak lagi yang lainya. Dari mereklah Ibnu Hanbal mendalami ilmu fikih, ilmu hadis, ilmu tafsir, ilmu kalam, ilmu usul, dan ilmu bahasa Arab.
Ibnu Hanbal adalah seorang yang cerdas, rajin dan tekun, serta sangat cinta kepada ilmu pengetahuan. Begitu cintanya kepada ilmu pengetahuan, sehingga setiap kali ia mendengar ada seorang guru atau ulama terkemuka di suatu tempat, dengan serta merta ia berangkat kesana untuk berguru pada ulama tersebut, walaupun ia harus menempuh jarak yang jauh dan menghabiskan waktu yang lama.
Karena perhatianya yang besar kepada ilmu, Ibnu Hanbal baru menikah setelah berusia 40 tahun. Ia menikah pertama kali dengan Aisyah binti Fadl dan denganya dikaruniai seorang putra bernma Saleh. Setelah istri pertama wafat, ia menikah lagi dengan Raihanah dan dikaruniai pula seorang putra yang bernama Abdullah. Kemudian sepeninggal istri keduanya, ia menikah untuk yang ketiga kalinya dengan seorang jariyah (hamba perempuan) bernama Husinah, dan dianugerahi lima orang anak, yaitu Zainab, Hasan, Husain, Muhammad dan Sa’id.
Imam Hanbali dikenal sangat taat beribdah dan sangat zuhud. Im Ibrahim bin Hani (seorang imam fikih dan sahabat imam Hanbali) mengatakan bahwa ia berpuasa hampir setip hari dan tidurnya hanya sedikit pada malam hari. Kebanyakan waktunya dipakai untuk salat malam dan slat witir sampai masuk waktu subuh. Pengakun alain disampaikan oleh putranya, Imam Abdullah, “Ayah itu setiap harinya membaca sepertujuh Al-Qur’an. Salat isyanya seringkali bersambung dengan salat subuh.”
Selain itu jug masyhur dengan sifat kedermawananya. Ia tergolong orang kaya. Setiap kali memperoleh rezeki, ia selalu membaginya kepaada orang lain yang dianggap lebih membutuhkan. Tentang hal ini imam Yahya bin Hilal (seorang imam fikih dan sahabat imam Hanbali) mengemukakan, “Aku pernah datang kepada imam Hanbali, lalu aku diberinya ung sebanyak empat dirhm sambil berkata, ‘ini adalah rizqi yang aku peroleh hari ini dan semuanya kuberikan kepadamu.’”
Imam Hanbali mempunyai perhtian yang amat besar terhadap hadis-hadis Nabi SAW. dimana saja ia mendengar ulma ahli hadis, ia pun mendatanginya untuk mendapatkan hadis daripadanya. Ketekunanya belajar dan meneliti hadis itu pulalah yang kemudian mengantarkanya menjadi ulama hadis yang mengenal ratusan ribu hadis.
Imam Hanbali hidup pada masa pemerintahan Khalifah al-*Ma’mun dari Dinasti *Abbasiyah. Waktu itu aliran *Muktazilah sedang mengalami masa kejayaanya. Al-Ma’mun menjadikan aliran ini sebagai mazhab resmi negara dan selanjutnya dengan menggunakan kekuasaanya ia memaksakan aliran ini kepada pembesar kerajaan serta tokoh-tokoh masyarkat. Di antara ajaran Muktazilah yang dipaksakan itu adalah paham yang mengtakan bahwa Al-Qur’an itu adalah makhluk atau ciptaan Tuhan. Peristiwa ini disebut mihnah. Peristiwa ini menyebabkan terbunuhnya beberp ulama terkemuka yang mempertahankan pendirianya dengan tegas bahwa Al-Qur’an itu bukan makhluk melainkan sabda Allah.
Diantara ulama yang dengan tegas mempertahankan pendirianya adalah Imam Hanbali. Bahkan ia kemudian dipandang sebagai pemuka kelompok oposisi yang menentang keinginan penguasa untuk memaksakan paham Muktazilah ini. Karena membangkang terhadap penguaasa, Ibnu Hanbal ditangkap dan dikirim menghadap al-Ma’mun di Tarsus. Sebelum sampai ke kota itu, al-Ma’mun wafat dan digantikan oleh putranya al-Mu’tasim yang kemudian memenjarakan Imam Hanbali. Selama dalam penjra, Imam Hanbali mendapat perlakuan yang sangat kejam. Setiap hari ia dicmbuk dn dipukul. Walaupun sangat menderita, ia tetap teguh pada keykinanya. Penganiayaan terhadap Imam Hanbali terus berlangsung sampai pada masa pemerintahan al-Wasiq, putra al-Mu’tasim. Sikap Ibnu Hanbal yang tegas, teguh dalam memegang prinsip, dan tidak takut mati menimbulkan simpati umat kepadanya, sehingga ia mempunyai banyak pengikut di kalangan umat Islam yang tidak setuju dengan paham Muktazilah.
Setelah al-Wasiq meninggal, ia digantikan oleh al-Mutawakkil. Pada masanyalah Imam Hanbali memperoleh kebebasan. Pada masa al-Mutawakkil ia dihormati dan dimuliakan. Sebagai ulama namanya bertambah harum dan orang-orang pun berdatangan dari berbagai pelosok negeri untuk mendengarkan fatwa dan mendapatkan ilmu daripadanya. Dengan demikian, muridnya pun semakin banyak jumlahnya.
Diantara muridnya yang terkenal ialah Imam Hasan bin Musa, Imam *Bukhari, Imam*Muslim, Imam Abu Daud, Imam Abu Zur’ah ad-Dimasyqi, Imam Ibnu Abi ad-Dunia, Imam Abu Bakar al-Asram, Imam Hanbal bin Ishaq as-Syaibani , Imam Saleh, dan Imam Abdullah. Dua yang terakhir adalah putranya sendiri yang juga berhasil menjadi ulama besar pada masanya.
Dibidang fikih prinsip-prinsip yang digunakan Imam Hanbali dalam meng-istinbat-kan (menyimpulkan) suatu hukum adalah (1) nas Al-Qur’an dan Hadis sahih, (2) fatwa para sahabat, (3) hadis mursal (bersambung) dan hadis daif (lemah) yang bukan disebabkan kecurigaan akan kebohongan perawinya, dan (4) kias. Dalam menetapkan suatu hukum Imam Hanbali pertama-tama merujuk kepada nas Al-Qur’an dan, jika tidak ditemukanya, ia merujuk kepada hadis/sunah Nabi SAW yang sahih. Apabila dalam hadis/sunah sahih tidak ditemukan hukumnya, ia mencarinya dalam fatwa sahabat Nabi SAW yang disepakati. Kalau dalam fatwa itu tidak pula ditemukan hukumnya, ia mencarinya dalam fatwa sahabat yang masih dalam perselisihan. Jika belum juga ditemukan hukumnya, ia merujuk kepada hadis mursal dan hadis daif. Imam Hanbali lebih mengutamakan hadis daif daripada pemikiran akal (ra’yu). Bila sudah dicari hukumnya dalam hadis mursal dan hadis daif tetapi belum juga ditemukan, barulah ia memakai kias. Kias hanya dipakai dalam keadaan terpaksa (darurat). Prinsip-prinsip inilah yang kemudian dikenal dengan dasar-dasar mazhab Imam Hanbali.
Kemampuanya dalam bidang hadis terbukti dari kesanggupanya menyusun al-Musnad, yaitu suatu kitab hadis yang menghimpun kurang lebih 40.000 hadis, dan disusun berdasarkan tertib nama sahabat yang meriwayatkanya. Menurut Imam Abdullah bin Ahmad (putra sulung Imam Hanbali), 40.000 hadis yang termuat dalam kitab ini merupakan hadis seleksi dari 700.000 hadis yang dihafal oleh Imam Hanbali. Penelitian Muhammad Abdul Aziz al-Khuli (seorang ulama bahasa yang benyak menulis biografi tokoh-tokoh*sahabat dan*tabiin) menunjukkan bahwa ada 10.000 hadis yang berulang dalam Musnad Ahmad bin Hanbal. Jadi jumlah sebenarnya adalah 30.000 hadis. Umumnya hadis-hadis yang terdapat didalamnya mempunyai derajat sahih dan sedikit sekali yang berderajat daif. Pentingnya buku itu bagi para ulama hadis terlihat dari betapa banyak ulama yang mensyarah isinya, antara lain Imam Abu Amr Muhammad bin Abdul Wahid, Imam Sirajuddin bin Amr bin Ali, Imam Muhammad bin Muhammad al-jazari, Imam Ali bin Husain bin Urwah, dan Imam Abu Hasan Muhammad bin Abdul Hadi as-Sindi.
Dalam memahami Al-Qur’an Imam Hanbali lebih senang mengambil arti lafal daripada melakukan *takwil, terutama terhadap ayat-ayat yang menjelaskan sifat-sifat Tuhan atau ayat-ayat Mutasyabihat (mengandung penyerupaan Tuhan terhadap makhluk-Nya, seperti Tuhan mempunyai wajah, tangan, dan sebagainya). Imam Hanbali disamping hafal Al-Qur’an dengan fasih dan lancar, juga mengerti tafsirnya secara mendalam.
Imam Hanbali meninggalkan banyak karya tulis, terutama tentang Al-Qur’an, antara lain Tasir Al-Qur’an, Kitab an-Nasikh wa al-Mansukh (kitab mengenai Ayat-Ayat Yang Menghapuskan dan Dihapuskan Hukumnya), Kitab Jawaban Al-Qur’an, Kitab al-Muqaddam wa al-Mu’akhar fi Al-Qur’an (Buku Tentang Ayat-Ayat Yang Terdahulu dan Yang Kemudian Diturunkan), Kitab at-Tarikh (Buku Sejarah), Kitab al-Manasikh as-Saghir(Buku Kecil Tentang Ayat-Ayat Yang Dihapuskan), Kitab al-Manasikh al-Kabir (Buku Besar Tentang Ayat-Ayat Yang Dihapuskan), Kitab al-‘Illah (Buku Tentang Sebab-Sebab Hukum), Kitab Ta’at ar-Rasul (Buku Mengenai Ketaatan kepada Rasul), Kitab as-Salah, dan Kitab al-Wara’ (Buku Mengenai Ketakwaan).

About the Author

RIZAL RIZLA

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Post a Comment


iklan

 

Copyright © Berbagi Menuju Lebih Baik. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com