HARUN AR-RASYID

0 comments
HARUN AR-RASYID
(Rayy, Muharram 149/Februari 766 atau Zulhijah 145/Maret 763 – Tus, Khurasan, 3 Jumadil Akhir 193/24 Maret 809). Khalifah kelima Dinasti *Abbasiyyah yang terkemuka, terkenal dermawan dan juga penyair. Ia memerintah selama 23 tahun (786 – 809) dan membuat Dinasti ini mencapai kemajuan dan kejayaan di bidang ekonomi, perdagangan, wilayah kekuasaan dan politik, ilmu pengetahuan, dan peradaban Islam. Ia menjadi figur yng legendaris karena cerita-cerita tentang dirinya dalam kitab Alf Lailah wa Lailah (Seribu Satu Malam). Ayahnya adalah al-Mahdi bin Abu Ja’far al-Mansur (memerintah 159 – 169 H/775 – 785 M), khalifah ketiga. Ibunya bernama Khaizuran, seorang wanita sahaya dari Yaman yang dimerdekakan dan di nikahi oleh al-Mahdi pada tahun 159 H/775 M. Ia amat berpengaruh dan berperan dalam pemerintahan suaminya dan putranya. Harun al-Rasyid naik tahta menggantikan Khalifah Musa al-Hadi (memerintah 785 – 786).
Harun al-Rasyid memperoleh pendidikan di istana, baik pendidikan agama maupun pemerintahan. Ia banyak mendapat pendidikan dari Yahya bin Khalid (w. 805; salah seorang menteri pada masa pemerintahan Harun al-Rasyid), keluarga Barmak yang berpern dalam masa pemerintahan Bani Abbas, sehingga ia menjadi terpelajar. Ia seorang yang cerdas, fasih berbicara, dan mempunyai kepribadian yang kuat.
Sejak terlibat dalam urusan pemerintahan dalam usia muda dan selama menjadi Khalifah, Harun al-Rasyid menjalin hubungan yang akrab dengan para ulama, ahli hukum, hakim, qari, penulis, dan seniman. Ia sering mengundang mereka ke istana untuk mendiskusikan berbagai masalah. Ia sangat menghargai setiap orang yang berhadapan denganya dan menempatkanya pada kedudukan yang tinggi. Karenanya, ia dikagumi oleh semua orang, baik dari golongan masyarakat tertentu maupun masyarakatt umum. Ia gemar beribadah, setiap hari ia melakukan salat sunah seratus rakaat; melakukan ibadah haji umrah dua kali setahun dengan berjalan kaki dari Baghdad ke Mekah. Bila ia pergi beribadah haji, para ulama dan anaknya menyerainya. Bila ia tidka pergi, ia mengahajikan tiga ratus orang dengan biaya penuh dari istana. Keamnan dan kesejahteraan rakyat ia perhatikan. Untuk ini ia sangat teguh dalam menghadapi pemberontakan yang timbul di berbagai wilayah, tidak menyia-nyiakan rakyat yang berbuat baik, tidak melambakan pembayaran upah,dan sangat pemurah.
Selama masa pemerintahan ayahnya, al-Mahdi, Harun al-Rasyid dipercayakan dua kali memimpin ekspedisi militer untuk menyerang Bizantium (779 -780 dan 781 – 782) sampai ke pantai Bosporus. Ia didampingi oleh para pejabat tinggi dan jenderl veteran. Ia memangku jabatan Gubernur selama du kali, di as-Saifah pada tahun 163 H/779 M dan di Magrib pada tahun 164 H/780 M. Pada tahun 166 H/782 M, Khalifah al-Mahdi mengukuhkanya menjadi putra mahkota untuk menjadi khalifah sesudah saudaranya, al-Hadi. Empat tahun kemudian, 15 Rabiulawal 170/14 September 786, Harun al-Rasyid memproklmasikan diri menjadi khalifah untuk menggantikan saudaranya yang meninggal pada tahun 170 H/786 M.
Setelah Harun al-Rasyid menduduki tahta khilafah (kekhalifahan), ia mengangkat Yahya bin Khalid sebgai wazir (perdana menteri) untuk menjalankan pemerintahan dengan kekuaasaan tidak terbatas. Harun al-Rasyid berkata kepada Yahya: “Sungguh aku serahkan kepadamu urusan rakyat, tetapkanlah segala sesuatu menurut pendapaatmu, pecat orang yang patut dipecat, pekerjakanlah orang yang pantas menurut kamu, dan jalankanlah segala urusan menurut pendapatmu. “Kelurga al-Barmak adalah orang non-Arab pertama yang mendapat kekusaan tertinggi dalam urusan pemerintahan Bani Abbas. Keluarga ini menguasai urusan pemerintahan sejak tahun 786 – 803. kebijakan keuangan berada di tangan keluarga ini. Pengangakatan wali (gubernur) dan pejabat-pejabat lain ditetapkan atas usul dan saran keluarga ini kepada khalifah. Keluarga ini juga ikut menentukan urusan rumah tangga istana. Setelah Yahya, jabatan wazir dipegang oleh anaknya, Ja’far. Kejayaan keluarga ini berakhir ketika Harun al-Rasyid menghancurkanya pada tahun 803. Ja’far dihukum mati; ayahnya, dan saudaarnya, Fadl, dipenjarkan. Tindakan in diambil oleh Harun al-Rasyid setelah menerim laporan dari pihak lain bahwa keluarga ini menyalahgunakan keprcayaan yang diberikan khalifah dengan memperkaya diri sendiri dari harta dan keuangan negara sehingga kemewhanya menyamai kemewahan kelurga khalifah, dan kelurga ini ering mengadakan pertemuan rhaasia ketika khalifah mengadakan kunjungan ke daerah dengan menyamar (incognito). Harta kekayaan keluarga ini yang berjumlah sekitar 30.676.000 dinar dirampa untuk negara.
Untuk kepentingan kesejahteraan negara dan raakyat, Harun al-Rasyid memajukan ekonomi, perdagangan, daan pertanian dengan sistem irigsi. Kemajuan dalam sektor-sektor ini menjadikan Baghdad, ibukota pemerintahan Bani Abbas sebagai pusat perdagangan terbesar dan teramai di dunia saat itu dengan pertukaran barang-barang dan valuta dari berbagai penjuru. Negara memperoleh pemsukn yang besar dari kegiatan dagang tersebut, ditambah pula perolehan dari pajak perdagangan dan pajak penghasilan bumi, sehingga negara mampu membiayai pembangunan sektor-sektor lain, seperti pembangunan kota Baghdad dengan gedung-gedungnya yang megah, pembangunan sarana-sarana peribadatan, pendidikan, kesehatan, dan perdagangan serta membiayai pembangunan ilmu pengetahuan di bidang penerjemahan dan penelitian. Negara mampu memberi gaji yang tinggi kepada para ulama dan ilmuwan. Di samping gaji yang mereka peroleh setiap bulan, mereka juga dibayar mahal oleh negara untuk setiap tulisan dana karya serta penemuan mereka. Mereka ditempatkan pada status sosial yang tinggi. Khalifah Harun al-Rasyid dan pejabat-pejabat negara dapat memperoleh dan menikmati segala kemewahan menurut ukuran zaman itu.kehidupan rakyat juga makmur.
Harun al-Rasyid yang berperwakan tinggi, berkulit putih, gemuk dan tampan, mempunyai kekuasaan wilayah yang luas, terbentang dari daerah-daerah Laut Tengah di sebelah barat sampai ke India di sebelah timur. Selama masa pemerintahanya, ia banyak menghadpi pemberontakan, seperti pemberontakan kaum Khawarij pimpinan Walid bin Tahrif (794), Musa al-Kazim (799), dan Yahya bin Abdullah bin Abi Taglib (792). Idris, saudara Yahya, berhasil melrikn diri ke Magrib dan berhsil mendirikan kerajaan *Idrisiah di Maroko (789). Pemberontakan Rafi’ al-Lais baru dapat dipadamkan pada masa *al-Ma’mun (813 – 833). Untuk mengatur kedan di Afrika Utara, ar-Rasyid mengangkat Ibrahim bin Aglab sebagai gubernur turun temurun (800), yang kemudian menjadi dinasti Aglabiah. Ia juga mengdakan hubungan dengan negeri-negeri non-Islam. Menurut sumber Barat, ia pernah mengadakan tukar-menukar duta besar dengan Karel Agung (742 – 814). Menurut sumber Cina, ia pernah mengirim utusan ke Cina.
Usaha terpenting Harun ar-Rasyid yang membwa namanya ke puncak kemasyhuran adalah perhatianya yang tinggi terhadap pengembangan ilmu pengethuan dan perdaban Islam dengan mencapai taraf yang belum pernah dicapai sebelumnya. Ia mendirikan *Baitulhikmah sebagai lembaga penerjemah. Pada masa putranya, al-Ma’mun, fungsinya diperluas menjadi lembaga perguruan tinggi, perpustakaan dan, penelitian. Lembaga ini memiliki beribu-ribu buku ilmu pengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu. Ia juga mendirikan majelis al-manakarah, lembaga pengkajian masalah-masalah keagamaan yang diselenggarakan di rumah-rumah, masjid-masjid, dan istana khalifah. Lembaga ini menglami perkembangan pesat pada masa khalifah al-Ma’mun. Di berbagai masjid di kota-kota besar Islam dibuat ruangan baca dan perpustakaan. Ia juga menaruh perhatian terhdap ilmu kedokteran. Pendidikan dokter diaglakkan, rumah-rumah sakit dan farmasi didirikan, sehingga pada saat itu kota Baghdad saja memiliki 800 dokter.
Puncak kejayaan pemerintahan Bani Abbas berada pada masa khalifah Harun ar-Rasyid dan putranya, khalifah al-Ma’mun, yang disebut masa keemasan Islam “(The Golden Age Of Islam)” . Pada tahun 800 Baghdad elah menjadi kota metropolitan dan kota utama bagi dunia Islam, yakni sebagai pusat pendidikan, ilmu pengetahuan, pemikiran dan perdaban Islam, serta pusat perdagangan, ekonomi, dan politik, dan telah berpenduduk lebih dari satu juta jiwa.
Harun ar-Rasyid adalah seorang raja besar Islam di zaman itu dan hanya Karel Agung (742 – 814) di Eropa yang dapat menjadi bandinganya. Jasanya di bidang ilmu pengetahuan dan pemikirn masih dapat dinikmati sampai sekarang, yaitu buku-buku dalam berbagai cabang ilmu karya para ulama dan sarjana yang dikembangkan dan di hasilkan ketika itu atas dorongan, rekayasa, dan biaya Harun ar-Rasyid. Setelah meninggal, ia digantikan oleh putranya, al-Amin (194 – 198 H/809 – 813 M) dan kemudian al-M’mun.

0 comments:

Post a Comment

Copyright 2011 Share and Care.
Blogger Template by Noct. Free Download Blogger Template