HASAN BIN ALI BIN ABI TALIB

0 comments
HASAN BIN ALI BIN ABI TALIB
(Madinah, 3 H/624 M – 49 H/670 M). Cucu Nabi Muhammad SAW dari putrinya, *Fatimah az-Zahra. Menurut pandangan *Syi’ah, ia adalah *imam kedua setelah ayahnya, *Ali bin Abi Talib.
Nama Hasan diberikan oleh kakeknya, Ali semula memberi nama Harb. Ia tinggal bersama Rasulullah SAW sampai usia 7 tahun, yaitu sampai kakeknya itu wafat. Ia masih sempat menyimpan kenangan bersama sang kakek, misalnya ketika Rasulullah SAW membuang makanan yang sudah hampir dimasukkan ke mulutnya sesudah Rasulullah SAW mengetahui bahwa makanan itu dari sedekah.
Kecintaan Raulullah SAW kepada Hasan dan adiknya, *Husen bin Ali bin Abi Talib, digambarkan dalam beberapa riwayat. Diantaranya, suatu hari, ketika sedang berpidato, Rasulullah turun dari mimbar untuk menolong Hasan yang jatuh karena menggelayut pada jubahnya. Ketika itu Rasulullah SAW hanya berkata kepada sahabat-sahabat, “Biarlah, kekayaan dan anak-anakmu memang menjadi penggoda.” Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW membiarkan cucunya itu menaiki punggungnya ketika ia sedang sujud dalam salat.
Kecintaan Rasulullah SAW kepada cucu-cucunya itu juga tergambar pada hadis yang menyatakan, “Hasan dan Husein memberi rasa harum bagiku di dunia.”
Hasan pernah ikut pada ekspedisi penaklukan ke Afrika Utara dan Tabaristan di masa Khalifah *Usman bin Affan, ikut melindungi khalifah itu dari serangan pemberontak yang kemudian menewaskanya, ikut dalam perang Jamal dan Siffin bersama ayahnya, dan ikut menjadi staf penasihat ayahnya ketika menjadi khalifah.
Dalam pandangan Syiah, Hasan adalah imam kedua, yang memiliki ilmu batin, dan penunjukanya adalah atas wasiat imam pertama, Ali bin Abi Talib.
Sepeninggal Khalifah Ali bin Abi Talib, sebagian masyrakat Arabia, Irak, dan Persia membaiat Hasan sebagai khalifah kelima. Tetapi Hasan tidak berambisi untuk menduduki jabatan itu. Tiga bulan sesudah dibaiat, ia menyerahkan kekuasaanya kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dengan syarat-syarat: Mu’awiyah tidak menerima dendam kepada orang-orang Irak dan bekas pendukungnya, menjamin keamanan dan memaafkan kesalahan-kesalahan mereka; pajak dari Ahwaz, salah satu distrik di Persia, diperuntukkan bagi Hasan; Mu’awiyah membayar uang kompensasi sebesar 5 juta dirham setiap tahun dan pemberian untuk sudaranya, Husein, sebesar 2 Juta dirham.
Mu’awiyah menyetujui permintaan Hasan itu dan pada tahun 41 H/661 M Mua’wiyah datang ke Kufah untuk menerima penyerahan. Maka tahun itu disebut “Tahun Perstuan” (‘Am al-Jama’ah), karena hanya ada satu Khalifah, yaitu Mu’awiyah.
Ketika para pendukungnya mengecam penyerahan kukusaan kepada Mu’awiyah, Hasan menjawab bahwa ia tidk rela menyksikan umat saling membunuh untuk memperebutkan kekuasaan. Dia berkata, “Inti kekuasaan bangsa Arab ada ditanganku dewasa ini. Meraka rala damai dan mereka siap berperang jika aku ingin. Tetapi aku tidak ingin pertumpahan darah.”
Dalam literatur Syiah dikatakan bahwa Mu’wiyah selalu berusaha membunuh Hasan, agar beban pembayaran kompensasi tidak terus dipikulnya terus-menerus. Tercatat 70 kali orang-orang suruhan Mu’awiyah mencoba meracun Hasan, tetapi senantiasa gagal, kecuali usaha yang dilakukan melalui istrinya, al-Ja’dah binti Asy’as binti Qays al-Yamani. Akhirnya, Hasan wafat karena memakan makanan yang sudah dibubuhi racun oleh istrinya. Dalam literatur Syiah juga dikemukakan bahwa orang-orang Mu’awiyah sempat menncapkan 70 panah ke tubuh Hasan sebelum dikuburkan.
Semasa hidupnya, Hasan berkeinginan dikuburkan disamping kuburan kakeknya, Nabi Muhmmad SAW. akan tetapi karena ditentang Siti *Aisyah binti Abu Bakar dan *Marwan bin Hakam, akhirnya jasad Hasan dikuburkan di pekuburn Baqi’ (dekat masjid madinah).
Isri-istri Hasan antara lain Haulah binti Manzur al-Fujjariyah yang menurunkan anak Hasan bin Hasan, Ummu Ishaq binti Thalhah bin Ubaidullah yang menurunkan Zaid bin Hasan, Ja’dah binti Asy’as bin Qays, Hind binti Suhail bin Umar, dan Hafsah binti Abdurrahman bin Abu Bakar. Hasan juga mengawini wanita Bani Kalb, anak Amr bin Ahtam, wanita Saqif yang melahirkan Amr bin Ahtam, wanita Saqif yang melahirkan Amr, anak perempuan Al-qamah binti zararah, dan wanita bani Syaiban dari keluarga bangsaawan Hammah bin Murrah yang karena memiliki paham *Khawarij segera ditalaknya.
Anak-anak Hasan ada sebelas, yaitu: Zaid al-Hasan, al-Qasim, Abu Bakar, Abdullah, Amru, Abdurrhman, al-Husein yang digelari asy-Syaram, Muhammad, Ya’qub, dan Ismail.

0 comments:

Post a Comment

Copyright 2011 Share and Care.
Blogger Template by Noct. Free Download Blogger Template