HUSEIN BIN ALI BIN ABI TALIB

HUSEIN BIN ALI BIN ABI TALIB
(Madinah, 5 Syakban 4/Januari 626 – Karbala, 10 Muharram 61/10 Oktober 680). Imam ketiga sekte *Syiah setelah *Ali bin Abi Talib dan *Hasan bin Ali. Cucu Nabi SAW dari putrinya, *Fatimah.
Ketika kakeknya, *Rasulullah SAW, wafat (11 H), Husein masih kecil. Ia sangat mirip dengan kakeknya, sehingga Fatimah menggubah syair: Inna bunayya syibhu an-Nabi, laisa syabihan bi ‘Ali (sesungguhnya anakku, Husein, mirip Nabi SAW, tidak mirip Ali). Kecintaan Nabi SAW kepada cucunya terlihat pada hadis, diataranya sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Majah: “Husein dari aku, dan aku dari Husein. Semoga Allah mencintai orag yang mencintainya.” Husein adalah cucu yang paling kucintai.” Hasan dan Husein memberi rasa harum kepadaku di dunia.” “Siapa yang ingin melihat laki-laki ahli surga lihatlah Husein.” Suatu ketika Nabi SAW menggendong Husein di pundaknya dan berdoa: “Ya Allah, aku sangat mencintainya. Cintailah ia, ya Allah.”
Istri Husein adalah seorang putri Khosru Yazdajird III, Raja terakhir dari Dinasti Sasanid di Persia (Iran) yang dibawa ke Madinah setelah Khalifah *Umar bin Khattab menaklukkan Persia. Husein mempunyai putra yaitu: Ali al-Akbar, meninggal dalam tragedi *Karbala bersama ayahandanya; Ali al-Ausat, yaitu Ali bin Husein Zaenal Abidin yang luput dari maut pada tragedi Karbala, menjadi Imam keempat dan menurunkan Imam-imam seterusnya bagi sekte Syiah; Ali al-Ashghar dan Abdullah (terbunuh di Karbala); Ja’far wafat ketika bapaknya masih hidup. Husein juga mempunyai tiga putri, yaitu Zaenab, Sakinah, dan Fatimah.
Sepeninggal ayahnya, siakp husein terhadap *Mu’awiyah bin Abu Sufyan dianggap tidak tegas. Di satu pihak ia mencela saudaranya, Hasan yang menyerahkan kekuasaan politik di Madinah kepada Mu’awiyah (dikenal dengan peristiwa ‘Am al-Jama’ah [Tahun Persatuan]). Tetapi dilain pihak, ia sendiri tunduk pada perundingan dan mau menerima tunjangan dari Mu’awiyah sebesar satu atau dua juta dirham. Ia sendiri sering ke Damascus untuk menerima tunjangan itu.
Sebelum Hasan wafat, para pendukung keluarga Ali bin Abi Talib mendesak Husein untuk mengadakan pemberontakan terhadap Mu’awiyah. Ia menolak dan berkata, “Selama Mu’awiyah masih hidup tak ada yang bisa diperbuat.” Husein memperhitungkan pembalasan yang akan diperolehnya kalau ia memberontak. Mu’awiyah sendiri tidak merasa terancam ketika diberi tahu oleh gubernur Hedjaz, *Marwan bin Hakam, tentang desakan kaum Syiah terhadap Husein itu. Bahkan secara bijaksana Mu’awiyah memberi arahan kepada Marwan agar berbaik-baik dengan Husein dan menghindari konflik terbuka dengannya.
Permusuhan husein dengan keluarga Bani *Umayyah itu mulai tampak ketika Mu’awiyah bin Abu Sufyan mengangkat Yazid bin Mu’awiyah sebagai putra mahkota. Husein beserta tiga sahabat yang berpengaruh, Abdullah bin Umar bin Khattab, Abdur Rahman bin Abu Bakar, dan Abdullah bin Zubair, menolak memberikan *baiat atas pengankatan Yazid tersebut.
Ketika Yazid naik tahta, baiat datang dari Afrika Utara, Mesir, Suriah, Palestina. Sedangkan penduduk wilayah Timur seperti Persia, Khurasan, dan Irak belum mengeluarkan pernyataan apakah membaiat atau menolak. Sementara penduduk Hedjaz dan Mekah, karena pengaruh empat orang tadi menolak memberikan baiat. *Marwan bin Hakam gubernur Hedzjaz, diperintahkan untuk menekan penduduk agar memberikan baiat. Husein bin Ali dan Abdullah bin Zubair tetap menolak dengan keras untuk memberikan baiat. Mereka beserta pengikutnya hijrah ke Mekah bahkan Abdullah bin Zubair memproklamasikan diri sebagai khalifah.
Sementara itu datang utusan dari penduduk Kufah menawarkan agar Husein bin Ali datang kesana untuk diangkat menjadi khalifah. Husein setuju dan mengirim utusan yang dipimpin oleh Muslim bin Uqail bin Talib, sepupunya. Di Kufah Muslim menerima baiat dari 30.000 orang yang mengikat janji akan membela dan mempertahankan Khalifah Husein. Baiat itu mendorong husein untuk datang sendiri ke Irak. Tokoh-tokoh sesepuh Mekah, diantaranya Abdullah bin Umar bin Khattab, dan *Abdullah bin Abbas, mencegah kepergian Husein. Mereka khawatir akan keselamatannya, mengingat pada masa Ali bin Abi Talib penduduk Irak tidak pernah konsisten pada pendirian mereka. Akan tetapi, Husein tetap memutuskan untuk berangkat ke Irak.
Pada tahun 61 H/680 M Husein beserta keluarganya berangkat menuju Irak diiringi oleh rombongan besar. Situasi di Irak dan Mekah ini diketahui oleh Yazid di Damascus. Khalifah Yazid kemudian memecat Nu’man bin Basyir, gubernur Irak yang berkedudukan di Kufah, serta menggabungkan wilayah Irak di bawah kekuasaan Gubernur Persia, Abdullah bin Ziyad, yang berkedudukan di Basra, juga memerintahkannya untuk menangkap Husein bin Ali. Pasukan Abdullah bin Ziyad datang lebih dulu ke Kufah dari pasukan Husein dan berhasil menangkap dan menghukum mati Muslim bin Uqail, utusan Husein.
Husein bin Ali menerima laporan penyerangan Abdullah bin Ziyad atas Kufah dan hukuman mati Muslim bin Uqail. Dia bertekad untuk pergi ke Kufah, sekalipun ia sadar akan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Ia berkata kepada para pengikutnya: “Situasi di Kufah sangat gawat, barang siapa yang ingin kembali ke Mekah kembalilah.” Para pengikutnya berkeras juga ingin mendampingi Husein betapapun gawatnya keadaan. Namun Husein meyakinkan mereka, dengan rombongan yang sedikit ia akan lebih mampu meyakinkan penduduk Irak bahwa kedatanganya itu untuk maksud damai. Sementara itu, diantara peserta rombongan banyak yang menasihatkan agar Husein kembali saja ke Mekah, dan jika situasinya tidak memungkinkan, langsung ke Yaman. Akan tetapi, Husein tetap memutuskan untuk pergi ke Irak.
Akhirnya, sebagian besar peserta rombongan kembali ke Mekah, yang tinggal lebih kurang 32 orang menunggang kuda dan 40 orang berjalan kaki. Semuanya berkeras ingin menemani Husein. Sedangkan keluarga Husein menunggangi beberapa ekor unta.
Di suatu daratan yang bernama Sirraf, rombongan Husein bertemu dengan 2.000 orang yang diperintahkan untuk menghadang. Mereka dipimpin oleh Hurrbin Yazid at-Tamimi, seorang yang pernah memberikan baiat kepada Husein dihadapan Muslim bin Uqail pada pertemuan in tidak terjadi kontak senjata, bahkan Hurr bin Yazid hari itu sempat menunaikan salat dua rakaat yang diimami oleh Husain. Husain berkata kepada Hurr bahwa kedatangannya untuk memenuhi undangan warga Irak dan mengajak Hurr untuk bergabung dengannya. Hurr menghadapi situasi dilematis, hati nurani ingin membela Husein tetapi besarnya pasukan Ibnu Ziyad di Irak membuatnya menjadi bingung. Sementara itu, datang perintah untukknya dari Gubernur Ibnu Ziyad agar ia mendesak rombongan Husain. Akhirnya rombongan Husein ke satu dataran kering dan gersang bernama Karbala. Ini terjadi pada tanggal 2 Muharram 61.
Gubernur Abdullah bin Ziyad masih tetap menyangka bahwa rombongan kecil Husein itu merupakan rombongan pendahuluan, dibelakangannya masih ada pasukan yang lebih besar. Oleh sebab itu Ibnu Ziyad mengirim lagi pasukan berkekuatan 4.000 orang dibawah pimpinan Umar bin Sa’ad.
Di pagi hari, 10 Muharram 61, melihat pasukan Umar bin Sa’ad demikian besar dan dalam keadaan siaga, Husein mengatur posisi para pengawalnya. Zuhayr bin Kayn berjaga-jaga disebelah kanan perkemahan, sementara Habib bin Muzahir di sebelah kiri. Hari itu pasukan Husein sempat melakukan salat Zuhur (menurut sebagian sumber, salat khauf). Pada sore hari itulah terjadi pertempuran yang sangat tidak seimbang. Yang mula-mula terbunuh dala peristiwa itu ialah Ali al-Akbar bin Husein, anak Uqail bin Muslim, dan Abdullah bin Ja’far, kemudian Kasim bin Hasan, keponakan Husein.
Syahid Husein sangat tragis, yakni ketika sepsukan kecil pimpinan Syammar bin Ziljausan menyerangnya. Saat itu Husein bangkit dari keletihannya dan bersiap untuk bertempur kembali. Ketika itu ia sadar bahwa usianya sudah melebihi 55 tahun dan dalam keadaan sakit. Pada saat itu ada seorang anak muda dengan gagah berani berdiri melindungi Husein. Ia tidak menghiraukan lagi panggilan Zainab (anak perempuan Husein) agar kembali karena bahaya mengancam dirinya. Karena tebasan pedang pasukan Syamir, tangan anak itu putus. Sementara itu Husein menghiburnya bahwa kelak dia akan bertemu dengan para neneknya di Surga. Suasana panas, haus, dan letih membuat Husein lengah. Akhirnya Ibnu Syariq dari pihak Syamir menebas lengannya, Sinnan bin Anis menusuk dadanya, Syammar bin Ziljausan memenggal lehernya, lalu memamerkan kepala Husein bin Ali pada ujung tombaknya.
Dalam suasana mengenaskan itu, Zainab berkata kepada Umar bin Sa’ad: “Hai Umar bin Sa’ad! Bagaimana perasaanmu ketika Abu Abdillah (nama panggilan Husein) terbunuh di depan matamu?” Air mata Umar bin Sa’ad berlinang mendengar ucapan Zainab itu. Akhirnya, kepala Husein beserta wanita-wanita dan putra Husein di bawa ke kota Kufah untuk dipersembahkan kepada Gubernur Abdullah bin Ziyad, kemudian dikirim dengan suatu perutusan kepada Khalifah Yazid di Damascus.
Tatkala Khalifah Yazid menyaksikan kepala Husein diatas baki yang diserahkan oleh perutusan itu, airmatanya berlinang dan berkata, “Aku tidak memerintahkan untuk membunuh Husein. Terkutuklah kau anak Marjanah (ibu Ibnu Ziyad). Seandainya aku berada disitu, pasti aku akan memberikan pengampunan kepadanya.”
Tubuh Husein bin Ali dimakamkan di Karbala (sekarang terletak di nagara Irak menjadi kota suci bagi kaum Syiah). Sedangkan kepalanya, atas perintah Khalifah Yazid, dikuburkan dengan penuh penghormatan di Madinah di sisi makam ibunda dan saudaranya, Hasan bin Ali.

About the Author

RIZAL RIZLA

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Post a Comment


iklan

 

Copyright © Berbagi Menuju Lebih Baik. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com