IBNU HAITAM

IBNU HAITAM
(Basra, 354 H/965 M – Cairo, 430 H/1039 M). Seorang ahli fisika abad pertengahan. Ia juga dikenal sebgai ahli matematika, ahli astronomi, filsuf, dan tokoh besar optika. Nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Hasan bin al-Hasan bin al-Haitam al-Basri al-Misri. Dibarat ia dikenal dengan beberapa nama, yaitu Alhazen, Avennathan, dan Avenetan; tetapi yang paling terkenal diantaranya adalah Alhazen. Dia dibesarkan di Basra serta belajar matematika dan ilmu-ilmu lainnya di sana. Ketika di Basra ini, dia sudah menjadi orang yang terkenal dengan ketinggian ilmunya. Kemsyhurannya itulah yang membuat penguasa Bani Fatimiah di Mesir waktu itu, yaitu al-Hakim bin Amirillah (386 – 411 H/996 – 1021 M), mengundangnya ke Mesir. Maksud undangan Dinasti Fatimiah itu adalah memanfaatkan keluasan ilmu yang dimiliki oleh Ibnu Haitam. Dia diharapkan mampu mengatur banjir Sungai Nil yang kerap kali menggenangi lahan pertanian rakyat.
Dia menerima tugas yang diberikan kepadanya dan datang ke Mesir. Ia disambut di sana dengan kebesaran. Tetapi dia gagal mengajukan rencana yang menurutnya sangat sulit dikerjakan dan merupakan hal yang sia-sia itu. Untuk melindungi dirinya dari dari kemurkaan penguasa, dia kemudian meninggalakan pekerjaan itu dengan berpura-pura sakit ingatan. Tidak diketahui kehidupannya setelah itu, yang jelas pada tahun-tahun terakhir hidupnya ia kembali ke Cairo dan bekerja sebagai ahli matematika. Sering untuk mendapatkan nafkahnya ia menyalin naskah matematika. Sisa usianya itu dilaluinya dengan tenang dan meninggal dunia di Cairo.
Ibnu Haitam meninggalkan hampir dua ratus karya tulis dalam berbagai cabang ilmu: matematika, fisika, astronomi, ilmu medis, dan juga filsafat. Melalui tlisan-tulisannya itu dapat diketahui bahwa ia sangat mendalami segala macam pemikiran ilmuwan-ilmuwan Yunani, terutama karena tulisan-tulisannya itu banyak yang merupakan bahasan dan kritiknya terhadap pemikiran ilmuwan tersebut. Di antara tulisan-tulisannya adalah: Maqalah fi Istikhraj Samt al-Qiblah (dalam buku ini ia menyusun teorema kota); Maqalah fi Hayat al-‘Alam (mengulas astronomi); Kitab fi al-manasit (sebuah kamus optika); Fi al-Maraya al-Muhriqah bi al-Dawa’ir (tentang cermin yang dapat membakar); Maqalah fi Daw’ al-Qamar (membahas cahaya dan gerak-gerik langit); fi Surah al-Kusuf (mengenai penggunaan camera obscura [kamar gelap] pada pengamatan gerhana matahari); Zawahir al-Hasaq (tentang gejala senja); Fi Kayfiyat al-Izlal; Fi al-Asrar allazi fi al-Qamar, fi ad-Daw’, Fi al-Makan; Fi al-Ma’lumat; Fi Misahat al-Mujassamah (al-Jism) al-Mukafi; Fi Irtifa’ al-Qutb, semuanya tentang fisika dan astronomi. Tulisan-tulisan tersebut di atas yang berhubungan dengan disiplin ilmu fisika dan matematika, disiplin yang sangat dikuasainya, hampir seluruhnya diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Eropa.
Dalam bidang astronomi Ibnu Haitam melanjutkan pendapat ilmuwan Yunani tentang proses pengubahan langit abstrak menjadi benda-benda padat. Dalam karya astronominya, dia juga melukiskan gerak planet-planet, tidak hanya dalam terma eksentrik dan episiklus, tetapi juga dalam satu model fisik. Pendapatnya ini banyak berpengaruh terhadap pemikiran dunia Kristen hingga masa Kepler. Karyanya tentang astronomi ini tiga abad kemudian diturunkan dalam bentuk ikhtisar oleh astronom muslim terkenal lain, yaitu Nasiruddin at-Tusi.
Ia memberikan temuan baru dalam studi gerak, yaitu prinsip inersia/kekekalan. Jasanya yang lain adalah bahwa ia membuat studi optika menjadi sains yang baru. Dasar studi optika itu di ubahnya dan studi itu dijadikannya disiplin yang teratur dan terumuskan secara baik. Jasanya ialah mengombinasikan penanganan secara matematis yang rumit dengan model fisik dan eksperimen yang teliti sehingga mudah dimengerti. Dalam hal ini ia dapat dikatakan sebagai ahli fisika teoritis dan eksperimental. Ia mengadakan eksperimen untuk menentukan gerak rektilinier cahaya, sifat bayangan, penggunaan lensa, camera obscura, dan banyak fenomena optika lainnya. Ia mempunyai mesin bubut untuk membuat lensa dan cermin lengkung.
Dia juga telah menemukan bentuk lengkung yang ditempuh cahaya ketika berjalan di udara. Berdasarkan temuannya itu, dia menetapkan bahwa kita melihat cahaya bulan dan matahari sebelum keduanya betul-betul tampak di cakrawala, sebaliknya kita masih melihatnya di barat setelah keduanya terbanam sejurus lamanya.
Temuannya yang lain adalah keberhasilannya dalam mengawinkan cermin-cermin bulat dan parabola sehingga ditemukan suatu metode untuk mendapatkan fokus. Semua sinar dikonsentrasikan pada sebuah titik sehingga merupakan sebuah cermin pembakaran yang terbaik. Temuan ilmiahnya yang terbaik ialah pendapatnya bahwa sinar cahaya bergerak mulai dari objek dan berjalan menuju ke mata. Benda akan terlihat karena ia memantulkan sinar kepada mata. Retina mata adalah tempat penglihatan dan bukan yang mengeluarkan cahaya. Pendapat ini adalah kebalikan dari apa yang pernah dijelaskan oleh Euclides Ptolemaeus, pemikir Yunani yang berpendapat bahwa benda terlihat karena mata memancarkan sinar kepada benda.
Dalam bidang fisika, banyak temuanya mendahului dan diikuti oleh Francis Bacon, Leonardo da Vinci, dan Johannes Kepler. Sementara dalam bidang optika, Ibnu Haitam merupakan tokoh besar antara Claudius Ptolemaeus dan Witelo.

About the Author

RIZAL RIZLA

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Post a Comment


iklan

 

Copyright © Berbagi Menuju Lebih Baik. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com