IBNU KASIR

IBNU KASIR
(Bosyra, 700 H/1300 M – Damascus, Syakban 774/Februari 1373). Nama lengkapnya adalah Imaduddin Ismail bin Umar bin Kasir. Ia seorang ulama terkenal dalam ilmu tafsir, hadis, sejarah, dan juga fikih. Ia mendengar hadis dari ulama-ulama Hedzjaz dan mendapat ijazah dari al-Wani sera mendapat asuahan dari ahli ilmu hadis terkenal di Suriah, Jamaluddin al-Mizzi (w. 742 H/1342 M), mertuanya sendiri. Ayahnya meninggal pada waktu ia masih berusia 6 tahun. Oleh karena itu, sejak tahun 706 H/1306 M ia hidup bersama kakaknya di Damascus. Di sanalah ia mulai belajar. Guru pertamanya adalah Burhanuddin al-Fazari (660 – 729 H/1261 – 1328 M) yang menganut mazhab *Syafi’i. Tidak lama setelah itu, ia ada di bawah pengaruh *Ibnu Taimiyah (w. 728 H/1328 M). Untuk jangka waktu yang cukup panjang, ia hidup di Suriah sebagai orang sederhana dan tidak populer. Popularitasnya dimulai ketika ia terlibat dalam penelitian untuk menetapkan hukum terhadap seorang *zindik yang didakwa menganut faham *hulul (ingkarnasi). Penelitian itu diprakarsai oleh Gubernur Suriah Altunbuga an-Nasiri di akhir tahun 741 H/1341 M.
Sejak itu berbagai jabatan penting didudukinya sesuai dengan bidang keahlian yang dimilikinya. Dalam bidang ilmu hadis, pada tahun 748 H/1348 M ia menggantikan gurunya az-Zahabi (Muhammad bin Muhammad; 1284 – 1348) sebagai guru di Turba Umm Salih (Lembaga Pendidikan), dan pada tahun 756 H/1355 M ia diangkat menjadi kepala Dar al-Hadis al-Asyrafiyah (Lembaga Pendidikan Hadis), setelah Hakim Taqiuddin as-Subki (683 – 756 H/1284 – 1355 M) meninggal dunia. Ia memang banyak berkarya dalam ilmu hadis. Karyanya yang terpenting dalam ilmu hadis antara lain adalah:
(1) Kitab Jami’ al-Masanid wa as-Sunan (Kitab Penghimpun Musnad dan Sunan), sebanyak delapan jilid, yang berisi nama-nama sahabat yang meriwayatkan hadis-hadis yang terdapat dalam musnad (Kitab yang memuata segala macam hadis) Imam *Hanbali;
(2) al-Kutub as-Sittah (Kitab-Kitab Hadis yang Enam), suatu karya hadis;
(3) at-Takmilah fi Makrifat as-Sigat wa ad-Dhua’afa’ wa al-Mujahal (Pelengkap dalam mengetahui Rawi-Rawi yang Siqat/Dipercaya, Lemah dan Kurang Dikenal), yang berisi Riwayat Rawi-Rawi Hadis sebanyak lima jilid;
(4) al-Mukhtashar (Ringkasan), yang merupakan ringkasan dari Muqaddimah Ibnu Salah (w. 642 H/1246 M); dan dikatakan bahwa ia juga menulis buku yang berisi tafsiran terhadap hadis-hadis dari Sahih al-Bukhari (Imam *Bukhari) dan karya hadisnya lainnya;
(5) Adillah at-Tanbih li ‘Ulum al-Hadis (Buku tentang ilmu hadis) yang lebih dikenal dengan nama al-Ba’is al-Hadis.
Dalam bidang tafsir, pda tahun 1366 ia diangkat menjadi guru besar oleh Gubernur Mankali Bugha di Masjid Umayyah Damascus. Dalam ilmu tafsir, ia mempunyai metode tersendiri. Menurutnya tafsir yang paling benar adalah:
(1) tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an sendiri;
(2) bila penafsiran Al-Qur’an dengan Al-Qur’an tidak didapatkan,
maka Al-Qur’an harus ditafsirkan dengan hadis Nabi; menurut Al-Qur’an sendiri, Nabi SAW memang diperintahkan untuk menerangkan isi Al-Qur’an itu ;
(3) kalau yang kedua tidak didapatkan, maka Al-Qur’an harus ditafsirkan oleh pendapat-pendapat para sahabat, karena merekalah orang yang peling mengetahui konteks sosial turunnya Al-Qur’an; dan
(4) jika yang ketiga juga tidak didapatkan, pendapat tabi’in perlu diambil.
Karyanya dlam bidang Tafsir ini adalah Tafsir Al-Qur’an al-Karim dalam sepuluh jilid. Pengaruh kitab tafsir ini sangat besar daan sampai sekarang masih banyak digunkan sebagai rujukan. Ia juga menulis buku berjudul Fada’il al-Qur’an (Keutamaan Al-Qur’an) yang berisi ringkasan sejarah Al-Qur’an.
Dalam bidang Ilmu Sejarah Paling tidak ada tiga buku yng ditulisnya:
(1) al-Bidayah wa an-Nihayah (Permulaan dan Akhir), 14 jilid;
(2) al-Fusul fi Sirah ar-Rasul (Uraian Mengenai Sejarah Rasul); dan
(3) Tabaqat asy-Syafi’iyyah (Peringkat-Peringkat Ulama Mazhab Syafi’i).
Yang pertama aadalah kitab sejarhnya terpenting dan terbesar. Sejarah dalam kitab ini dapat dibagi menjadi dua bagian besar: pertama, ejarah kuno yang menuturkna mulai dari riwayat penciptaan sampai sampai masa kenabian Muhammad SAW, dan kedua, sejarah Islam mulai dari periode dakwah Nabi SAW di Mekah sampai pertengahan abad ke-8 H. Kejadian-kejadian setelah *hijrah disusun berdsarkan kejadian itu. Metode yang terakhir ini dikenal dengan metode at-Tarikh ‘ala as-Sinin (analitic form). Kitab al-Bidayah wa an-Nihayah merupakan sumber primer terutama untuk sejarah Dinasti *Mamluk di Mesir. Oleh karena itu, kitab ini sering dijadikan rujukan utama dalam penulisan sejarah Islam.
Dalam bidang fikih, ia dijadikan tempat berkonsultasi oleh para penguasa dalam persoalan-persoalan hukum, seperti dalam pengesahan keputusan yang berhubungan dengan korupsi (1358) dan untuk mewujudkan rekonsiliasi dan perdamaian setelah terjadinya perang saudara atau Pemberontakan Bydamur (1361), serta dalam menyerukan jihad (1368 – 1369). Dalam hal yang terakhir ini, ia menulis sebuah kitab berjudul al-Ijtihad fi Talab al-Jihad (Ijtihad dalam mencari Jihad). Ia juga menulis kitab fikih yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Hadis. Akan tetapi kitab ini tidak selesai, hanya pada sampai pada bab Haji dalam bagian Ibadah. Berkenaan dengan persolan jihad, ia banyak memperoleh inspirasi dari kitab Ibnu Taimiyah as-Siyasah as-Sar’iyyah (Politik Hukum).
Ia wafat beberapa tahun setelah ia menyusun kitab al-Ijtihad fi Talab al-Jihad tersebut di atas, dan dikebumikan di pemakaman sufi, di samping makam gurunya Ibnu Taimiyah.

About the Author

RIZAL RIZLA

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Post a Comment


iklan

 

Copyright © Berbagi Menuju Lebih Baik. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com