IBNU SINA

IBNU SINA,
Abu Ali al-Husain bin Abdullah (Afsyanah, Bukhara, 370 H/980 M – Hamdan, 428 H/1037 M). Dokter dan filsuf Islam termsyhur. Di Barat terkenal dengan nama Avicenna. Ayahnya seorang pegawai tinggi pada Dinasti Samaniah (204 – 395 H/819 – 1005 M). Sejak kecil Ibnu Sina belajar menghafal Al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama. Kemudian mempelajari matematika, logika, fisika, geometri, astronomi, hukum Islam, teologi, kedokteran, dan metafisika. Dengan demikian dia menguasai bermacam-macam ilmu pengetahuan. Profesinya di bidang kedokteran dimulai sejak umur 17 tahun. Kepopuleranya sebagai dokter bermula ketika ia berhasil menyembuhkan Nuh bin Mansur (976 – 997), salah seorang penguasa Dinasti Samaniah. Dia dua kali menjabat sebagai menteri pada Dinasti Hamdani (293 – 394 H/905 – 1004 M). Karena terlibat persoalan politik, ia dipenjarakan dan dipecat dari kedudukannya sebagai menteri. Kebesaran nama Ibnu Sina terlihat dari beberapa gelar yang diberikan orang kepadanya, seperti asy-Syaikh ar-Ra’is (Guru Para Raja) di bidang filafat dan Pangeran Para Dokter dibidang kedokteran. Dia banyak meninggalkan karya tulis, semuanya tidak kurang dari 200 buah, termasuk buku saku dan kumpulan suatnya, kebanyakan berbahasa Arab, selainnya berbahasa Persia. Bukunya yang terkenal, antara lain, asy-Sifa’ (Penyembuhan), al-Qanun fi at-Tibb (Peraturan-Perturan dalam Kedokteran) yang selama lima abad menjaadi literatur penting bagi fakultas-fakultas kedokteran di Eropa, al-Isyarah wa at-Tanbihat (Isyarat dan Penjelasan), Mantiq al-Masyriqiyyin (Logika Timur), dan ‘Uyun al-Hikmah (Mata Air Hikmah).
Ibnu Sina memiliki pemikiran keagamaan yang mendalam. Pemahmannya mempengruhi pandangan filsafatnya. Ketajaman pemikirannya dan kedalaman keyakinan keagamaanya secara simultan mewarnai alam pikirannya. *Ibnu Rusyd menyebutnya sebagai seorang yang agamis dalam berfilsfat, sementra al-*Gazali menjulukinya sebagai filsuf yang terlalu banyak berpikir.
Mengikuti pendahulunya, al-*Farabi, ia mengakui bahwa alam ini diciptakn dengan jalan emanasi (memancar dari Tuhan). Tuhan adalah wujud pertama yang immateri dan dari-nya-lah memancar segala yang ada. Tuhan sebagai al-Wujudul al-Awwal berpikir tentang diri-Nya, lalu dari pemikiran itu timbullah wujud kedua yang disebut akal pertama. Akal pertama in mempunyai tiga objek pemikiran, yaitu Tuhan, dirinya sebagai wajib al-wujud, dan dirinya sebagai mumkin al-wujud. Pemikirn akal pertama tentang Tuhan melahirkan akal-akal berikutnya sampai kepada akal ke sepuluh. Pemikiran akal pertama tentang dirinya sebagai wajib al-wujud memancarkan jiwa-jiwa dan pemikiran akal tentang dirinyaa sebagai mumkin al-wujud melahirkan semua langit. Demikianlah seterusnya, setiap akal yang jumlahnya sepuluh itu mempunyai tiga objek pemikiran dan dari pemikiran akal inilah kemudian memancar alam ini. Karena itu, ia tidak menerima konsep penciptan alam dari tiada menjadi ada (creatio ex nihilio) seperti yang dipahami oleh kebanyakan teolog Islam. Baginya alam ini qadim (tidak mempunyai permulaaan dari segi waktu). Antara Tuhan dan terjadinya alam tidak terdapat kesenjangan waktu. Pendapaat ini mendapat tantangan keras dari al-Gazali dalam bukunya Tahafut al-Falasifah (Kekacauan Para Filsuf).
Pemikiraan filsafaatnya yang lain ialah tentang konsep an-Nafs (jiwa). Baginya, jiwa itu terbagi tiga: jiwa tumbuhan, jiwa binatang, dan jiwa manusia. Jiwa tumbuhan memiliki tiga daya: makan, tumbuh, dan berkembang biak. Jiwa binatang memiliki dua daya: daya bergerak dan daya menngkap. Daya bergerak dapat berbentuk marah, syahwat, dan berpindah tempat. Adapun daya menngkap terbagi dua: daya menangkap dari luar mengguanakan indera-indera luar yang lazim disebut pancaindera, terdiri atas: penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaaan lidah, dan perasaan tubuh; dan daya menangkap dari dalam melalui pancaindera batin, yaitu indera bersama (al-hiss al-musytarak), indera penggambar (al-khayal), indera pereka (al-mutakhayyilah), indera penganggap (al-wahamiah), dan indera pengingat (al-haafizah). Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang, jiwa manusia hanya mempunyai satu daya, yaitu daya pikir yang disebut akal. Akal terbagi dua: akal praktis (‘amilah) yang berhubungan dengan hal-hal yang konkret dan akal teoritis yang berhubungan dengan hal-hal yang sifatnya abstrak. Akal teoritis mempunyai empat tingkatan, yaitu (1) akal materiil, yang baru merupakan potensi, untuk menangkap arti-arti murni, arti-arti yang tak pernah berada dalam materi, (2) akal bakat, yaitu akal yang kesanggupannya berpikir secara murni abstrak telah mulai nampak, (3) akal aktual, yaitu akal yang telah terlatih untuk menangkap arti-arti murni, dan (4) akal perolehan, yaitu tingkat akal yang tertinggi dan terkuat dayanya, yaitu akal yang di dalamnya arti-arti abstrak tersebut selamanya sedia untuk dikeluarkan dengan mudah. Akal serupa inilah yang sanggup menerima limpahan ilmu pengetahuan dari akal aktif (akal kesepuluh). Menurut penjelaasan Ibnu Sina, akal aktif itu adalah Jibril.
Ia menjelaskanbhwa sifat seseorang bergantung pada jiwa mana dari ketiga jiwa itu yang berpengaruh pada dirinya. Jika jiwa binatang dan tumbuh-tumbuhan yang berkuasa pada dirinya, maka orang itu dekat menyerupai sifat-sifat binatang, sebaiknya jika jiwa manusia yang dominan berpengaruh, maka orang itu dekat menyerupai sifat-sifat malaikat dan dekat pada kesempurnaan. Jiwa manusia berlainan dengan jiwa binatang dan tumbuh-tumbuhan, ia bersifat kekal. Jika jiwa manusia telah mempunyai kesempurnaan sebelum ia berpisah dengan badan, maka ia akan memperoleh kesenangan abadi di akhirat. Sebaliknya, jika ia berpisah dengan badan dalam keadaan tidak sempurna akibat terpengaruh oleh godaan hawa nafsu, maka ia akan sengsara selama-lamanya di akhirat.
Dalam filsafatnya tentang wahyu dan nabi, Ibnu Sina menjelaskan bahwa akal manusia yang telah mencapai derajat akal perolehan dapat mengadakan hubungan dengan Jibril. Komunikasi itu bisa terjadi karena akal perolehan telah begitu terlatih dan begitu kuat daya tangkapnya sehingga sanggup menngkap hal-hal yang abstrak murni. Akan tetapi, komunikasi antara seorang nabi dan Tuhan dilakukan bukan melalui akal dalam derajat perolehan, melainkan akal dalam derajat materiil. Seorang nabi, menurut pendapatnya, dianugerahi Tuhan dengan akal materiil yang meskipun lebih rendah deraajatnya dari akal perolehan namun mempunyai daya tangkap yang luar biasa sehingga tanpa latihan ia dapat mengadakan komunikasi langsung dengan Jibril. Akal demikian mempunyai kekuatan suci. Tidak ada yang lebih kuat dari akal demikian dan hanya dimiliki oleh para nabi. Filsuf mempunyai akal perolehan lebih rendah dari nabi yang mempunyai akal materiil. Dengan perkataan lain, filsuf tidak bisa menjadi nabi. Nabi tetap orang pilihan Tuhan. Filsuf hanya dapat menerima ilham, sedangkan wahyu hanya diberikan kepada para nabi.
Bukan hanya dalam filsafat dan kedokteran saja Ibnu Sina memberikan andil dan pemikirannya, ia juga turut serta ambil bagian dan memberikan andil kepada berbagai ilmu pengethuan pada zamannya, diantaranya yang menonjol adalah ilmu astronomi. Ibnu Sina menambahkan dalam bukunya al-Magest (Buku tentang Astronomi) berbagai problem yang belum dibahas, mengajukan beberapa keberatan terhadap Euclides, meragukan pandangan Aristoteles tentang kesamaan bintang-bintang tak bergerak, kesamaan kesatuan jaraknya, dan sebagainya. Untuk itu dalam buku asy-Syifa’ ia menguraikan bahwa bintang-bintang yang tak bergerak tidak berada pada satu globe. Ibnu Sina juga banyak membuat rumusan-rumusan tentang pembentukan gunung-gunung, barang-barang tambang, di samping menghimpun berbagai analisis tentang fenomena atmosfer, seperti angin, awan, dan pelangi, semantara orang yang sezaman dengannya tidak mampu menambahkan sesuatu ke dalam bidang penelitian mereka.
Ibnu Sina juga mendalami masalah-masalah fikih yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an untuk mendukung pandangan-pandangan filsafatnya.

About the Author

RIZAL RIZLA

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Post a Comment


iklan

 

Copyright © Berbagi Menuju Lebih Baik. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com