IQBAL SIR MUHAMMAD

IQBAL SIR MUHAMMAD
(Saolkot, Punjab, 22 Februari 1873 – Lahore 21 April 1938). Seorang penyair, filsuf, dan pembaharu pemikiran dalam Islam pada awal abad ke-20. ia berasal dari keturunan Brahmana Ksahmir yang telah memeluk agama Islam sekitar tiga abad sebelum ia lahir. Ayahnya, Nur Muhammad, adalah seorang muslim yang saleh dan seorang sufi yang telah mendorong Iqbal untuk menghafal Al-Qur’an secara teratur. Keadaan orang tuanya yang memiliki jiwa keagamaan yang teguh dan kecenderungan-kecenderungan spiritual berpengauh terhadap prilaku Iqbal secara menyeluruh. Ia salah seorang intelektual muslim yang sangat berperan di Anak Benua India, terutama dalam memprakarsai berdirinya negara Pakistan.
Muhammad Iqbal memperoleh pendidikan pertama di Murray College, Sailkot. Di sini ia bertemu dengan seorang ulama besar, Sayid Mir Hasan, guru dan sahabat karib orang-tuanya. Guru yang bijaksana itu segera mengetahui kecerdasan Iqbal dan menyarankan agar ia terus menuntut ilmu. Pendidikan dari ayah dan gurunya inilah yang sangat berkesan di hati Iqbal. Hal itu telah mengantarkannya menjadi seorang tokoh yang memiliki komitmen terhadap Islam secara utuh. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Sialkot, ia melanjutkan studinya di Government College, Lahore, dan memperoleh gelar Master Of Art (MA). Di kota inilah ia berkenalan dengan Sir Thomas Arnold, seorang orientalis, pengarang The Preaching of Islam (Penyiaran Islam; 1896). Atas saran Thomas Arnold, ia berangkat ke Eropa pada tahun 1905 untuk melanjutkan studinya dalam bidang filsafat barat di Trinity College, Universitas Cabridge. Di samping itu, ia juga mengikuti kuliah-kuliah hukum di Lincoln’s Inn, London. Dua tahun kemudian ia pindah ke Munchen, Jerman, untuk lebih memperdalam studi filsafatnya di Universitas Munchen Jerman. Di Universitas inilah ia memperoleh gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) setelah mempertahankan disertasi doktoralnya yang berjudul The Development of Metaphysics in Persia (Perkembangan Metafisika di Persia). Selama belajar di Eropa, ia banyak mengkaji buku-buku ilmiah di perpustakaan Cambridge, London, dan Berlin. Di samping itu ia juga mempelajari watak dan karakteristik orang-orang Eropa. Dari hasil pengkajiannya itu, ia berkesimpulan bahwa terjadinya berbagai macam kesulitan dan pertentangan di sebabkan oleh sifat-sifat individualistis dan egoistis yang berlebihan serta pndangan nasionalisme yang sempit. Meskipun demikian, ia juga mengagumi sifat dinamika bangsa-bangsa Eropa yang tidak mengenal puas dan putus asa. Sifat inilah yang kelak membentuk Iqbal menjadi seorang pembaharu yang mengembangkan dinamika Islam.
Selama berada di Eropa, ia sempat mengajar Bahasa Arab di Universitas London selama enam bulan. Pada tahun 1908 ia kembali ke Lahore dan bekerja sebagai pengacara, disamping dosen filsafat dan sastra Inggris di Government di College, Lahore. Pada tahun 1922, ia dianugerahi gelar Sirr oleh pemerintah Inggris, karena jasanya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, terutama sastra inggris dan filsafat. Pada akhir tahun 1928 dan awal tahun 1929, ia mengadakan perjalanan ke India selatan dan memberikan ceramah di Hyderabad, Madras, dan Aligarh. Kumpulan ceramah yang ia sampaikan itu kemudian disusun dalam satu buku yang berjudul The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam). Buku ini pada mulanya berjudul Six Lectures on The Reconstruction of Religious Thoght in Islam. Dalam buku ini Iqbal mencoba membangun kembali filsafat keagamaan dari Islam dengan memperhatikan tradisi-tradisi filosofis dari agama itu dan perkembangan-perkembangan terakhir dalam berbagai bidang pengetahuan manusia. Pada tahun 1930 Iqbal memasuki bidang politik dan terpilih sebagai *Liga Muslim India. Pada tahun 1931 dan 1932 ia dua kali berturut-turut menghdiri Perundingan Meja Bundar di London. Dalam kunungan ini ia berkesempatan ke Paris dan bertemu dengan filsuf Perancis, Henri Bergson. Dalam perjalanan pulang, ia mengunjungi Spanyol untuk menyaksikan peninggalan sejarah umat Islam di sana. Ia juga telah berkunjung ke Baitulmakdis (Yerusalem) untuk menghadir konferensi Islam. Pada tahun 1933 ia diundng ke Afganistan untuk membicarakan pembentukan Universitas Kabul.
Menurut pengamatan Iqbal, kemunduran umat Islam disebabkan tiga faktor. Faktor pertama dan utama ialah hancurnya Baghdad yang pernah menjadi pusat politik, kebudayaan, dan pusat kemajuan pemikiran umat Islam pada pertengahan abad ke 13. akibatnya, pemikiran ulama pada masa itu hanya tertumpu pada ketertiban sosial. Mereka mnolak pembaharuan di bidang hukum dan pintu *ijtihad mereka tutup. Hal ini menyebabkan hilangnya dinamika berpikir umat Islam. Faktor Kedua adalah timbulnya paham fatalisme yang menyebabkan umat Islam pasrah pada nasib enggan bekerja keras. Pengaruh *zuhud yang terdapat dalam ajaran tasawuf yang dipahami secara berlebihan dan salah menyebabkan umat Islam tidak mementingkan soal kemasyarakatan. Faktor Ketiga adalah sifat Jumud (statis) dalam pemikiran umat Islam. Hukum dalam Islam telah sampai pada keadaan statis. Kaum konservatif menganggap bahwa kaum rasional (*Muktazilah) telah menyebabkan disintergrasi yang mengancam kstabilan umat. Oleh karena itu kaum konservatif hanya memilih tempat yang aman dengan bertaklid kepada imam-imam mazhab.
Untuk memajukan umat Islam India, Muhammad Iqbal mengetengahkan pemikiran-pemikiran berikut. Pertama, umat Islam India perlu mengembangkan konsep ijtihad dan paham dinamisme Islam. Hukum Islam menurut Iqbal tidak bersifat statis tetapi dapat berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu pintu ijtihad tidak pernah tertutup. Ijtihad menurut Iqbal berarti upaya mencurahkan segenap kemampuan intelektual. Hal ini berarti menempatkan akal pada kedudukan yang tinggi. Dalam konsep ijtihad terdapat aspek perubahan dan dengan adanya perubahan itu terkandung di dalamnya dinamika kehidupan umat manusia, bahkan alam semesta. Paham dinamisme Islam yang ditonjolkan inilah yang membuat Iqbal mempunyai kedudukan penting dalam pembaharuan di India. Dalam syair-syairnya ia mendorong umat Islam supaya bergerak dan jangan tinggal diam. Intisari hidup adalah gerak. Oleh karena itu, Iqbal berseru agar umat Islam bangun dan menciptakan dunia baru. Kedua, perluny negara tersendiri bagi umat Islam India, terpisah dari negara Hindu. Tujuan pembentukan negara tersendiri ini ditegaskan oleh Iqbal dalam rapat Liga Muslimin pada tahun 1930 yang mendapat dukungan dari para anggotanya. Sejak saat itulah ide dan tujuan pembentukan negara tersendiridiumumkan secara resmi dan kemudian menjadi tujuan perjuangan nasional umat Islam India. Karena idenya itu, Iqbal dijuluki Bapak Pakistan. Daerah-daerah yang diajukan oleh Iqbal menjadi satu negara bagi umat Islam India adalah Punjab, daerah Perbatasan Utara, Sind, dan Balukhistan.
Obsesi Iqbal mengenai terbentuknya negara sendiri bagi komunitas muslim tidaklah bertentangan dengan paham Pan-Islamisme. Ia menyatakan bahwa Islam bukan nasionalisme dan bukan pula imperialisme, melainkan liga bangsa-bangsa yang mengakui batas-batas suatu daerah dan menerima perbedaan bangsa untuk mempermudah hubungan sesama mereka, bukan untuk membatasi cakrawala sosial para anggotanya. Pemikirannya inilah yang menyebabkan Iqbal dipandang sebagai seorang penganut paham Pan-Islamisme. Perubahan pemikiran Iqbal dari seorang Nasionalisme India ke Pan-Islamisme terjadi setelah ia kembali dari Eropa, karena ia melihat bahwa dalam nasionalisme Eropa terdapat bibit-bibit materialisme dan ateisme yang merupakan ancaman besar bagi perikemanusiaan. Di samping itu, ia curiga bahwa dibalik nasionalisme India terletak konsep Hinduisme dalam bentuk baru.
Meskipun Muhammad Iqbal banyak memperoleh pendidikan di Barat, Barat baginya bukanlah model dalam melaksanakan pembaharuannya. Kapitalisme dan Imperialisme Barat tidak diterimanya. Barat menurut penilaiannya banyak dipengaruhi materialisme dan telah meninggalkan agama. Umat Islam harus mengambil dari Barat hanyalah ilmu penegtahuannya. Sementara itu, sosialisme dapat ia terima dan ia bersikap simpati terhadap gerakan sosialisme di Barat dan Rusia.
Pemikiran-pemikiran Muhammad Iqbal di atas mempengaruhi dunia Islam pada umumnya, terutama dalam pembaharuan di India. Ia menimbulkan paham dinamisme di kalangan umat Islam India dan menunjukkan jalan yang harus mereka tempuh untuk masa depan, agar umat Islam yang minoritas di anak benua itu dapat hidup bebas dari tekanan-tekanan luar.
Syair-syair dan karya tulis Iqbal telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, seperti bahasa Jerman, Perancis, Inggris, Arab, Rusia, Italia, Indonesia, dan bahasa-bahasa lainnya. Karya-karya Muhammad Iqbal sendiri ditulis dlam tiga bahasa, yaitu Persia, Urdu, dan Inggris. Karya Iqbal yang berbahasa Persia adalah Asrar-i-Khudi, Rumuz-i-Bekhudi, Payam-i-Masyriq, Zabur-i-Ajam, Jawid Namah, Pas Ceh Baid Aye Aqwam-i-Syaraq, dan Lala-i-Thur. Yang berbahasa Urdu adalah ‘Ilmu al-Iqtishad (Ilmu Ekonomi), Bang-i-Dara, Bal-i-Jibril, Zarb-i-Kalim, Armghan-i-Hijaz, Iblis ki Majlis-i-Syura, Iqbal Namah, Makatib Iqbal, dan Baqiyat-i-Iqbal. Yang berbahasa Inggris adalah Development of Metephisics in Persia: A Contribution to The History of Muslim Philosophy (Perkembangan Metefisika Persia: suatu sumbangan untuk Sejarah Filsafat Islam) dan The Recontruction of Religious Thoght in Islam (Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam).

About the Author

RIZAL RIZLA

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Post a Comment


iklan

 

Copyright © Berbagi Menuju Lebih Baik. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com