JA’FAR AS-SADIQ, IMAM

JA’FAR AS-SADIQ, IMAM
(Madinah, Arab Saudi, 80 H/699 M – Madinah, 25 Syawal 148/765 M). Nama lengkapnya adalah Muhammad Abu Ja’far bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Talib. Imam *Syiah ke-6; terkenal sebagai ahli tafsir, hadis, fikih, kalam, filsafat, dan fisika. Mengenai kelahiran dan wafatnya, ada yang menyebutkan bahwa ia lahir pada tanggal 17 Rabiulawal 82/701 M dan wafat pada bulan Rajab 148/765 M. Ibunya Ummu Farwah binti Qasim bin Muhammad, adalah putri *Abu Bakar as-Siddiq. Sedangkan ayahnya, Imam Muhammad al-Baqir, adalah keturunan *Ali bin Abi Talib dan *Fatimah az-Zahra.
Ja’far as-Sadiq dibesarkan dalam kelarga yang saleh dan berpendidikan. Ayahnya adalah ulama besar dan imam ke-5 yang dipercayai oleh pengikut Syiah Imamiah. Ibunya adalah seorang wanita mulia, berilmu, bijaksana, dan takwa. Selama 15 tahun Ja’far dididik langsung oleh kakeknya, Imam Zaenal Abidin. Setelah kakeknya wafat, ia dididik dan diajar oleh ayahnya.
Ja’far as-Siddiq mengalami masa pemerintahan Bani Umayyah dan *Abbasiyah. Dari Bani Umayyah ada pemerintahan delapan khalifah yang dialaminya secara langsung, yaitu Abdul Malik bin Marwan, al-Walid bin Abdul Malik, Sulaiman bin Abdul Malik, *Umar bin Abdul Aziz, Yazid bin Abdul Malik, Hisyam bin Abdul Malik, al-Walid bin Yazid, dan Yazid bin Abdul Malik. Ia juga mengalami masa-masa kehancuran Dinasti Umayyah. Sedangkan pada zaman daulat Bani Abbasiyah, ulama besar ini mengalami masa pemerintahan *Abu Abbas as-Saffah dan *al-Mansur.
Kehidupan politik yang senantiasa menghambat aktivitas politik kaum Syiah membuat Ja’far as-Sadiq tenggelam dalam dunia ilmu. Setelah ayahnya wafat, ia melanjutkan belajar mengajar di perguruan ayahnya di Masjid Nabawi. Rumahnya juga digunakan sebagai tempat mengajar.
Di dunia Islam, perguruan Ja’far as-Sadiq merupakan lembaga pertama yang mengajarkan ilmu filsafat. Kepiawaian dan kealimannya terbukti dengan banyaknya ulama yang pernah berguru kepadanya, diantaranya ialah Yahya bin Sa’id al-Ansari, Ibnu Jarih, *Malik bin Anas, *Sufyan as-Sauri, Ibnu Uyainah, Abu Hanifah, (Imam *Hanaafi), Syu’bah, dan Ayyub as-Sijistani. Fisikawan muslim terkenal, Abu Musa Jabir bin Hayyan, juga pernah berguru kepdanya. Para murid dan ulama yang belajar kepada as-Siddiq tidak hanya terbatas pada golongan Syiah.
Dalam transformasi ilmu, ada beberapa hal yang amat diekankannya pada murid-muridnya, seperti “belajarlah kejujuran terlebih dahulu sebelum belajar hadis”; hidup harus diisi, setidak-tidaknya dengan belajar atau mengajar”; hendaklah berlaku rendah hati kepada orang yang belajar atau mengajar ilmu”; dan janganlah menjadi orang yang sombong, janganlah menuntut ilmu untuk tujuan memamerkan dan membenggakan diri atau untuk berdebat, janganlah menuntut ilmu karena tiga sebab, yaitu merasa tidak membutuhkan ilmu, supaya tetap tidak mengerti, atau malu kepada orang lain”.
Bagi pengikut Ali (Alawiyyin) ada suatu kepercayaan bahwa imam itu harus keturunan Ali dan Fatimah. Menurut kaum Syiah, imam sebenarnya berfungsi menjalankan kegiatan administrasi pemerintahan serta politik dan sekaligus menjalankan fungsi religi. Oleh karena itu, para imam sejak masa Ali sampai periode keimaman beberapa masa sesudahnya senantiasa menuntut kekuasaan politik. Inilah yang menyebabkan para penguasa-baik pada zaman daulat Bani Umayyah maupun zaman Bani Abbasiyah, senantiasa mencurigai kelompok Syiah.
Pemunculan Ja’far as-Sadiq dengan interpretsi baru tentang konsep imamah menimbulkan suatu perkembangan baru pada kaum Syiah. Ja’far as-Sadiq mengatakan bahwa imamah itu terpisah dari khilafah (kekhalifahan). Menurutnya, imam mendapatkan otoritas eksklusifnya bukan dari klaim politik, tetapi dari *nas yang ditunjuk secara eksplisit oleh imam sebelumnya. Imam itu memperoleh “ilmu khusus” atau ilmu ilhami yang diturunkan dalam keluarga dari generasi ke generasi berikutnya. Wilayah imam adalah bidang religius dan tuntutan spiritual masyarakat. Imam sejati tidak perlu memadukan kekusaan duniawi dalam dirinya dan menuntut otoritas politik jika keadaan tidak memungkinkan. Konsep imamah Ja’far as-Sadiq tersebut telah menyelamatkan dan membersihkan pengikutnya dari kecenderungan yang ekstrem.
Di samping itu Ja’far as-Sadiq telah meletakkan dua landasan penting bagi keimanan. (1) Nas, yaitu kepercayaan yang menyatakan bahwa imamah adalah hak prerogatif Allah SWT yang dilimpahkan kepada orang pilihan-Nya dari keluarga Rasulullah SAW dan anak keturunannya melalui pengangkatan eksplisit. (2) Ilmu, yaitu seorang imam harus memiliki pengetahuan agama yang diterimanya secara ilahiah dan hanya dapat dipindahkan kepada imam berikutnya sebelum kematiannya. Ilmu khusus yang dimiliki imam itu meliputi ilmu lahir dan ilmu batin.
Ja’far as-Sadiq juga mengatakan bahwa imam itu diturunkan kepada anak laki-laki, tetapi tidak mesti anak sulung. Seorang imam harus menunjuk putranya yang benar-benar layak untuk menggantikannya. Dalam kenyataannya, ada dua macam imam, yakni imam yang aktual atau imam natiq dan imam yang hanya “diam” dan tidak mengetahui keduaukannya yang tinggi itu sampai ayahnya meninggal.
Menurut Ja’far as-Sadiq imam adalah *hujah Allah SWT di bumi. Imamah merupakan perjanjian antara Allah SWT dan manusia. Imam adalah apilar keesaan Allah SWT. Imam bersih dari kesalahan dan kesesatan. Kata-kata Imam adalah kata-kata Allah SWT, perintahnya adalah perintah Allah SWT, dan membangkang kepadanya berarti membangkang kepada Allah SWT.
Ja’far as-Sadiq berpendapat bahwa Ali bin Abi Talib adalah orang pertama yang memiliki kepemimpinan spiritual umat sebagai wakil Rasulullah SAW yang dipilih Allah SWT. Setelah itu dilanjutkan oleh *Hasan bin Ali, *Husein bin Ali, Zaenal Abidin bin Husein, dan Muhammad al-Baqir bin Zaenal Abidin.
Pada masa hidupnya, Ja’far as-Sadiq telah memperkuat konsep taqiyah (menyembunyikan kepercayaan dari orang yang tidak sealiran) yang telah diperkenalkan oleh ayahnya. Kemunculan konsep ini tidak terlepas dari keadaan sosial dan politik yang berlaku pada masa itu sebagai suatu keharusan dan keterpaksaan yang dilakukannya untuk melindungi diri dalam situasi yang rumit.
Para pengikut Syiah berpendapat-yang juga dibenarkan oleh beberapa penulis *Suni-bahwa Ja’far as-Sadiq meninggal karena racun yang diduga dimasukkan ke dalam makanannya atas perintah Khalifah al-Mansur. Adapun motif pembunuhan itu adalah kekhawatiran penguasa akan pengaruh as-Sadiq yang besar. Sebelumnya usaha pembunuhan terhadap dirinya telah berulang kali.
Ja’far as-Sadiq dimakamkan di pekuburan Baqi’. Makamnya berdekatan dengan kuburan ayah dan kakeknya serta Hasan bin Ali.
Menurut sebagian pengikut Ja’far as-Sadiq (Ja’fariyah), orang yang menggantikan posisinya sebagai imam ialah Isma’il, anak tertuanya yang wafat ketika ia masih hidup. Sebagian lainnya berpendapat bahwa yang akan menggantikannya adalah Musa al-Kazim. Pengikut Isma’il dikenal dengan nama Isma’iliyah atau Syiah Tujuh Imam dan pengikut Musa al-Kazim nantinya menjadi Syiah Dua Belas.

About the Author

RIZAL RIZLA

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Post a Comment


iklan

 

Copyright © Berbagi Menuju Lebih Baik. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com