JEHAN, SYAH

JEHAN, SYAH
(1592 – Agra, 2 Januari 1666). Raja ke-5 Dinasti *Mogul di India, memerintah antara tahun 1627 – 1658, membangun *Taj Mahal (1631 – 1648) di Agra yang merupakan salah satu bangunan terindah di Dunia. Nama kecil Syah Jehan adalah Khurram. Ayahnya bernama Jahangir (memerintah 1605 – 1627), Raja ke-4 Dinasti Mogul dengan gelar Nuruddin Muhammad al-Ghazi. Ibunya bernama Nur Jahan, seorang permaisuri cantik dan cerdas, mempunyai pengaruh besar dalam pemerintahan sehingga kekuasaan Raja Jahangir dikendalaikan oleh Nur Jahan, dan baru berakhir setelah kematian Jahnagir.
Jahangir digantikan oleh anaknya yang ketiga, Khurram, yang kemudian begelar Syah Jehan, atau Jehan Syah. Nur Jahan menginginkan agar Syahriar-lah (anak Jahangir yang lain) yang menjadi Raja. Maka Syahriar, dengan bantuan Nur-Jahan, mengadakan pemberontakan terhadap Syah Jehan; tetapi pemberontak itu dapat dikalahkan oleh Syah Jehan. Syah Jehan berhasil memperluas wilayah kekuasaannya dengan mengalahkan Raja Jhujhar Singh Bundela (Penguasa Hindu di dekat Delhi) dan Khan Johan Lody (995 – 1040 H/1587 – 1631 M), bekas gubernur Deccan pada tahun 1631. Syah Jehan juga berhaasil mengalahkan tentara Portugis di Hughli, di wilayah Bengal (Bangladesh sekarang).
Raja-raja di kerajaan Mogul menganut agama Islam meskipun agama Islam merupakan minorita di kerajaan tersebut. Mayoritas penduduknya menganut agama Hindu. Di samping itu ada juga penganut agama lain, seperti Budha, Sikh, dan Kristen yang dibawa oleh orang Portugis dan Inggris. Untuk menjaga stabilitas dan kerukunan umat beragama, Syah Jehan melanjutkan kebijakan yang telah dicanangkan kakeknya, Akbar Syah I (raja ke-3 memerintah 1556 – 1605), yaitu Din Ilahi, yang menganggap bahwa semua agama sama dan diperlakukan secara sama dalam pemerinahannya. Dengan kebijakan ini, ada raja yang berpermaisurikan orang Hindu. Pegawai dan pembesar istana pun ada yang beragama selain Islam. Cukai yang dulu harus dibayar oleh orang Hindu yang akan melaksanakan upacara suci di S. Gangga dihapuskan. Jizyah (pajak) untuk orang non Muslim dihapuskan. Kegiatan di Ibadat Khannah (semacam balai pertemuan), tempat bertemunya semua tokoh agama-agama untuk membicarakan masalah agama, dihidupkan terus.
Wilayah kerajaan Mogul ketika itu dibagi menjadi beberapa propinsi (subah) yang dipimpin oleh seorang gubernur (subandar). Setiap propinsi dibagi-bagi lagi menjadi bagian-bagian yang disebut zillas, dan daerah ini dibagi lagi menjadi kampung-kampung (pergannah). Dengan sistem pembagian seperti itu pemerintah pusat mudah mengadakan kontrol. Syah Jehan dikenal sebagai raja yang tegas dalam menghukum pegawainya yang tidak jujur. Syah Jehan diceritakan memelihara ular berbisa yang dijaga oleh petugas khusus. Jika ada pegawainya yang tidk jujur, ular itu dilepas ke arah pegawai yang tidak jujur agar memtuknya. Tindakan tegas Syah Jehan ini telah membuat para pegawainya bertindak jujur. Di bawah pemerintahan Syah Jehan, kerajaan Mogul mencapai puncak kejayaanya. Masjid, sekolah, tempat ibadah untuk agama lain, dan panti-panti orang miskin dibangun.
Syah Jehan mempunyai Permaisuri yang cantik jelita yang bernama Arjuman Banu Begum (w.1631; *Taj Mahal) dan terkenal dengan Mumtaz Mahal. Ia bukan hanya cantik, tetapi juga mempunyai budi pekerti yang luhur, halus, dan dermawan. Atas inisiatif permaisuri ini banyak dibangun masjid, tempat ibadah agama lain, sekolah dan panti-panti orang miskin. Kedermwnannya tidak hanya terbatas pada oraang muslim, tetapi juga kepada semua pemeluk agama tanpa pandang bulu. Banu Begum wafat pada tahun 1631 ketika melahirkan. Untuk mengenang istri yang sangat dicintainya itu, Syah Jehan mendirikan sebuah mausoleum (bangunan berkubah untuk kuburan) yang sangat indah, benama Taj Mahal.
Akhir hayat Syah Jehan berlangsung dengan tragis. Di hari tuanya, di kala masih memerintah, Syah Jehan mengangkat anak sulungnya sebagai putra mahkota yang bernama Dara Siqah (1024 – 1069 H/1615 – 1659 M). Akan tetapi anaknya yang lain, yang bernama Aurangzeb (Alamgir I; memerintah 1658 – 1707), menghendaki pula takhta kerajaan. Aurangzeb membunuh Dara Siqah pada tahun 1658 memenjarakan ayahnya, Raja Syah Jehan, hingga wafat di penjara pada tahun 1666.
Setelah Syah Jehan dipenjarakan, Aurangzeb naik takhta pada tahun 1658. ia menghapuskan kebijakan politik liberal, khususnya dalam bidang agama (Din Ilahi) yang dicanangkan oleh Akabar Syah I, Jahangir, hingga bapaknya, Syah Jehan. Aurangzeb menganut Islam ortodoks. Namun demikian ia masih mampu mempertahankan keutuhan wilayah dinasti Mogul sebagaimana ditinggalkan bapaknya, yang meliputi seluruh anak benua India, kecuali sebagian kecil di ujung selatan. Raja Mogul setelah Aurangzeb lemah sehingga kejayaan dinasti ini mulai pudar. Dinasti Mogul dihancurkan oleh Inggris pada tahun 1857, ketika Raja Bahadur Syah II memerintah (1837 – 1858).

0 Response to "JEHAN, SYAH"

Post a Comment