KEKUATAN DAN KENDALA PESANTREN

Tamu Perspektif Baru kita adalah Masdar Farid Mas’udi, seorang aktivis yang sekarang aktif juga di Komisi Oumbudsman Nasional, dan anggota Syuriah PBNU. Selain itu Masdar juga pengajar dalam bidang Islamologi pada Institut Filosofi atau Falsafat Driyarkara, juga sebagai Direktur Eksekutif di P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat).
Masdar menghabiskan sekolahnya di Pesantren, lalu melanjutkan ke IAIN, dan Pasca Sarjana UI. Karena itu sangat menarik untuk mengetahui pandangannya mengenai bagaimana adaptasi, sumbangan, atau kesulitan kebudayaan dan pendidikan pesantren dalam menghadapi tantangan dunia modern, dimana sekarang banyak orang yang dengan latar belakang pesantren, berlatar belakang NU yang duduk dipucuk pimpinan negara dan bagian-bagian masyarakat lainnya.
Bahkan dimasa-masa sulit begini, banyak juga keluhan yang diajukan oleh persepsi akan tidak adanya kecocokan antara gaya manajemen pimpinan Gus Dur misalnya dengan konsep-konsep demokrasi, konsep-konsep pertanggung jawaban, accountability, dan banyak orang mikir "apakah ini memang Gus Dur yang begitu, atau memang kebudayaan atau pendidikan pesantren yang membuatnya begitu".
Dari pada kita menebak-nebak, kita akan bicara dengan ahlinya dan berikut ini adalah pembicaraan Masdar Mas’udi dengan pemandu Perspektif Baru Wimar Witoelar.
Dewasa ini banyak perhatian masyarakat terhadap proses-proses, terutama pendidikan yang terjadi di pesantren. Barangkali karena adanya kekecewaan terhadap pendidikan yang konvensional, barangkali juga karena suksesnya umat Islam memasangkan diri dalam mainstream kegiatan masyarakat politik di Indonesia, khususnya bagi NU yang berhasil mendapatkan kepercayaan melalui Gus Dur, melalui orang-orang yang tampil dalam gerakan reformasi sehingga respek terhadap pendidikan pesantren tumbuh.
Sejauh mana pendidikan di pesantren itu bisa diadaptasikan terhadap tuntutan-tuntutan diluar dunia tradisional ? Sebetulnya esensi pendidikan pesantren yang bisa dianggap paling mendasar dan paling berbeda dengan pendidikan konvensional itu apa?
Pendidikan pesantren sekarang memang mendapat perhatian dari kalangan masyarakat, terutama dari para orang tua ketika mereka melihat pendidikan umum atau pendidikan sekuler sering disorot sebagai "menyimpan kegagalan" dalam membina perilaku anak didik, terutama ketika disorot dari aspek kenakalan remaja yang di mana-mana terjadi tawuran pelajar, narkoba, dan lainnya. Hal ini yang membuat masyarakat terutama kalangan orang tua untuk kemudian melihat pesantren sebagai alternatif untuk mendidik anak-anak mereka supaya tumbuh sebagai anak yang saleh. Saya sering ketemu dengan sejumlah orang dari kalangan kota, dari kelas menengah ke atas, mungkin mereka punya latar belakang keagamaan, dimana bagi mereka yang paling penting adalah bila anaknya tidak terkena penyakit modern yang berkaitan dengan narkoba, itu sudah sangat beruntung. Disamping mereka bisa dibantu didalam menjaga anaknya untuk tidak terkena hal-hal seperti itu, sekaligus untuk memperoleh pengetahuan yang dibutuhkan untuk intelektualitas mereka dikemudian hari. Inilah saya kira yang membuat pesantren tumbuh di mana-mana termasuk di kota-kota dan disekitar kota yang diminati masyarakat kota.
Selain menghasilkan narkoba dan penyakit sosial, masyarakat modern juga melahirkan internet, perdagangan internasional, perbankan dan perbagai perangkat dunia modern. Apakah bagi orang yang berpendidikan pesantren memerlukan perlengkapan khusus untuk menghadapi dunia modern, ataukah itu sudah diintegrasikan dalam dunia pendidikan pesantren?
Sekarang ini tumbuh fenomena pesantren dengan pendidikan umum, SMP dan SMU yang mereka sebut bahkan sebagai harapan untuk memberikan output yang unggul. Banyak juga pesantren yang menyelenggarakan SMP dan SMU unggul. Dalam hal ini yang diberikan pada anak didik adalah selain pengetahuan umum dengan penambahan perhatian pada bidang-bidang science misalnya matematika, fisika, kimia dan biologi, di luar jam sekolah ada pembinaan keagamaan yang lebih intensif dibanding dengan yang di luar pesantren. Misalnya sholat berjamaah lima waktu, bahkan pada malam-malam tertentu seperti malam JumÆat mereka diajak sholat tahajud bersama. Saya kira ini yang bisa disebut sebagai nilai tambah dari pesantren. Jadi di samping menyiapkan anak didik untuk bisa mendapat akses yang bagus bagi pendidikan mereka di kemudian hari, karena ada pemberian mata pelajaran science yang lebih, sehingga diharapkan bila mereka selesai SMU bisa mengakses perguruan tinggi yang terbaik. Itu juga saya kira salah satu upaya masyarakat pasantren sendiri untuk menyiapkan anak didik di samping secara keagaaman diharapkan ada kesalehan tertentu yang diharapkan, juga ada kemampuan akademis dan intelektualitas untuk menyongsong masa depan.
Apakah ada konsep-konsep tertentu yang dipesantren lebih ditekankan daripada di luar, misalnya katakanlah konsep patrimonial atau penekanan pada "nurut" kepada yang lebih senior atau atasan. Bagaimana hubungannya dalam konsep demokrasi yang kelihatannya sangat didukung oleh warga NU atau orang-orang yang berpendidikan pesantren dalam masyarakat?
Pesantren pernah disebut juga oleh Gus Dur sebagai sub culture, artinya sebuah komunitas dengan tata nilai dan norma-norma kehidupannya sendiri yang relatif otonom atau berbeda dan terpisah dari masyarakat di sekitarnya. Mungkin statement ini benar pada level tertentu. Tapi saya kira memang kalau kita lihat kehidupan pesantren dengan tata nilai dan pandangan hidupnya serta aturan-aturan intern di pesantren, ada hal-hal yang bisa membedakan dengan masyarakat di luarnya. Salah satu diantaranya adalah bahwa pola hubungan di pesantren terutama antara guru dan murid, antara Santri dan Kyai, bisa disebut sebagai pola hubungan yang paternalistik. Itu saya kira benar. Dalam pandangan masyarakat pesantren, penghormatan pada guru itu memang sedemikian rupa. Ada sebuah kitab yang secara turun temurun diajarkan dan ini semacam warisan tata nilai bagaimana hubungan guru-murid ini dilaksanakan. Kitab itu Ta’alim Muta’alim, di situ dikutip sebuah ungkapan dari Sayyidina Ali yang mengatakan bahwa saya adalah abdi seseorang atau hamba seseorang yang pernah mengajar saya meskipun hanya satu huruf. Jadi seseorang yang telah mendapatkan ilmu dari orang lain meskipun hanya satu huruf, itu sikapnya akan seperti seorang abdi kepada tuannya. Ini bisa dilihat secara jelas ketika kita masuk ke lingkungan pesantren. Dengan demikian hubungan yang paling mengikat adalah hubungan guru dengan murid. Di beberapa pesantren yang bisa dikatakan jauh dari pengaruh luar, Santri kalau melihat Kyainya berjalan, mereka akan segera berdiri tegap untuk menghormat. Jangankan melihat Kyainya, melihat mobil Kyainya lewat saja mereka berhenti. Ini bisa kita lihat di beberapa pesantren terutama di Jawa Timur. Maka kalau kita mau mengatakan ada paternalisme yang hidup di pesantren, saya kira itu memang tidak salah. Apakah hal ini akan mempengaruhi hubungan masyarakat yang semakin terbuka dan demokratis? Saya pikir ini bisa dipilah, yang mungkin agak sedikit musykil, ketika kita lihat hubungan Santri dan Kyai, hubungannya sangat hirarkis dan paternalistik. Tapi ketika hubungannya ke samping, horisontal, dengan kawan, sikap mereka sebenarnya sangat liberal. Itu bisa kita lihat ketika hubungan antar sesama Kyai, kalau tidak ada hubungan "keguruan" hanya hubungan seorang teman, bisa dikatakan saling otonom, saling independent. Ini salah satu penjelasan kenapa tingkat konsensus diantara Kyai dalam organisasi NU bisa dikatakan rendah. Sehingga antara Kyai satu dengan lainnya, ibarat raja dengan raja. Tidak ada yang mengungguli satu sama lain, hubungannya benar-benar setara. Kedua, ketika kita lihat hubungan Kyai dengan umaroh atau penguasa. Ada perasaan yang kuat di kalangan Kyai untuk bersikap egaliter atau setara dengan pihak penguasa. Ini tidak diketemukan dalam hubungan masyarakat tradisional misalnya Jawa, yang pada umumnya hubungan masyarakat pada penguasa itu justru sifatnya hirarkis dan paternalistik. Dalam hubungan pesantren, paternalisme tidak berlaku untuk hubungan rakyat dengan penguasa. Itu hanya berlaku untuk hubungan Santri dengan Kyainya. Maka untuk mendorong proses demokratisasi di pesantren saya kira tidak sulit. Meskipun pada segi tertentu ketika kita melihat hubungan Santri dan Kyai ada hubungan paternalisme yang kental.
Selain soal paternalisme, persoalan accountability misalnya pertanggungjawaban keuangan dan hal-hal yang disorot dalam good governance, barangkali kalau anda melihat suatu sistem itu paternalistik, maka check and control dalam accountability itu akan tidak begitu penting karena dilandaskan atas kepercayaan. Apakah terlalu sederhana kalau dikatakan orang yang menggunakan latar belakang manajemen pesantren akan cenderung lebih susah untuk menghayati konsep-konsep pertanggung jawaban yang tegas terhadap soal-soal keuangan misalnya yang bentuknya accountability?
Saya kira betul, public accountability dalam tradisi pesantren masih merupakan barang baru. Kenapa ? Karena kalau kita telusur pada sejarah keberadaan lembaga pesantren itu sendiri, itu biasanya dimulai dari seseorang yang kemudian tumbuh sebagai Kyai, lalu mendapatkan "wakaf" dari masyarakat sekitar, atau biasanya juga didukung oleh harta kekayaannya sendiri, kemudian membangun asrama, masjid, punya Santri dan seterusnya berkembang. Sehingga pesantrennya itu dari sudut materialnya, fisiknya, bisa dikatakan milik Kyainya. Begitu juga ketika Santri datang ke Kyainya, orang tua selalu memasrahkan anaknya dengan mengatakan "kami ke sini dengan anak kami yang akan kami pasrahkan kepada Kyai, dan terserah pak Kyai untuk membentuk anak kami, yang penting bagi kami anak ini bisa menjadi anak yang soleh". Kepasrahan ini sedemikian rupa dan memang kekuasaan Kyai hampir bisa dikatakan mutlak di mata Santri dan di mata masyarakat yang mendukung pesantren itu sendiri. Maka yang kita lihat dalam manajemen modern ada proses institusionalisasi. Jadi depersonalisasi tidak berjalan di pesantren, semua personalize pada pribadi Kyai. Di samping karena faktor keilmuannya yang dianggap istimewa, juga biasanya karena kesalehan, perilakunya, sehingga hubungan antara Santri dan Kyai, atau masyarakat dengan Kyai hubungannya itu berdasarkan kepercayaan. Kepercayaan ini bukan kepada lembaga pesantrennya tapi kepada Kyai sebagai pribadi. Inilah yang membedakan pesantren dengan lembaga-lembaga pendidikan umum. Pada umumnya pemimpin lembaga pendidikan umum seperti Rektor dan Direktur SMU adalah bagian dari part of institusion, tapi kalau pesantren justru menjadi bagian dari Kyainya. NU sekarang adalah suatu kelompok mayoritas, tidak dalam angka tapi dalam pengaruh, dalam tanggung jaqwab, kedudukan yang paling disorot, dan sebagainya. Banyak sekali manajemen negara ini yang dijalankan oleh orang-orang NU dan kebetulan juga negaranya susah diurus karena baru keluar dari jaman Suharto dan Habibie.
Jadi dengan sendirinya banyak pandangan kritis terhadap manajemen yang dilakukan oleh sementara kalangan NU. Apa tanggapan anda terhadap kritik itu dan apakah itu ada hubungannya dengan masalah adaptasi dari latar belakang manajemen tradisional pada tanggung jawab kenegaraan yang modern dan formal?
Saya pikir bisa dimaklumi jika masyarakat sekarang menyorot manajemen pesantren dalam kaitannya dengan manajemen nasional, karena presiden kita sekarang ini hampir seratus persen kelahiran dan hasil didikan pesantren. Sebenarnya manajemen pesantren bisa dikatakan berbeda dengan manajemen modern, pertama seperti yang saya katakan tadi dasarnya adalah kepercayaan. Sehingga kepasrahan kepada seorang pemimpin menjadi sedemikian penting. Ketika seseorang sudah pasrah, dia tidak lagi akan mengontrol. Kontrol itu dipandang sebagai kecurigaan dan prasangka buruk. Kepercayaan dan prasangka buruk ini dua hal yang bertentangan. Kedua, ada daya dukung yang sifatnya empirik kenapa kepercayaan bisa berjalan di kalangan pesantren. Mungkin tidak seluruh Kyaic bisa dikategorikan pada kelompok ini, tapi pada umumnya pola ini masih menjadi mainstream. Maksud saya begini, ketika tidak ada kontrol terhadap soal pekerjaan, keuangan, terhadap Kyai yang ada di pesantren, itu sebenarnya bukan otomatis terjadi penyelewengan. Sebab sering kali misalnya bantuan-bantuan dari masyarakat yang diserahkan pada Kyai dengan niat yang bermacam-macam, apakah niatnya untuk wakaf, hibah, atau sebagainya. Tapi pada umumnya masyarakat memang ingin menyerahkan bantuannya kepada Kyai itu kepada pribadi Kyai itu sendiri bukan pada manajemen pesantren. Ini yang perlu dipahami. Sehingga kalau kemudian pertanggung jawabannya itu personal bisa ditelusuri awal mulanya. Seseorang memberi bantuan pada pesantren itu pasti lebih pada Kyainya, ingin diserahkan langsung pada Kyai dan ingin diterima langsung oleh tangan Kyai.
Sekarang bagaimana? aturan-aturan kenegaraan apalagi dalam konteks internasional itu dititikberatkan pada institusinya. Bagaimana cara penyesuaiannya, tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab institusi?
Tentu saja sekarang ini seorang tokoh pesantren pindah ke sebuah habitat yang berbeda dengan aslinya. Saya kira tidak terlalu realistik memboyong negara ke alam pesantren. Lebih baik memboyong budaya dan perilaku seorang yang tadinya dari habitat pesantren kepada perilaku dan tata cara kenegegaraan. Saya kira lebih simple itu. Dengan demikian saya kira siapapun dari kalangan pesantren ketika masuk ke sebuah lingkungan yang memang memiliki norma-norma, aturan-aturan main yang berbeda dengan aslinya, harus menyesuaikan.
Termasuk Gus Dur, apakah Gus Dur telah atau akan melakukan penyesuaian itu?
Seharusnya itu terjadi dan proses perubahan perilaku ini saya kira tidak bisa hanya dilemparkan tanggung jawabnya hanya kepada Gus Dur. Itu tidaklah cukup, tapi harus ada mekanisme yang ditegakkan secara konsisten oleh orang yang menjadi penanggung jawab perjalanan manajemen kenegaraan itu sendiri. Dan manajemen kenegaraan harus diambil tanggung jawabnya oleh lembaga-lembaga kontrol yang harus bertindak lebih tegas. Sehingga ada dua pihak, dari pihak Gus Dur katakanlah harus menyesuaikan dengan tata cara dan manajemen kenegaraan modern, dan lembaga-lembaga kenegaraan modern juga harus membantu untuk proses perubahan ini agar terjadi pada Gus Dur.
Gus Dur adalah orang luar biasa, bagi saya luar biasanya adalah karena dia sangat terliberasi pikirannya, orang yang sangat pluralistik, juga toleran secara etnis dan religious. Apa dia typical dari budaya pesantren atau dia saja yang aneh dan luar biasa?
Saya kira di mata pesantrenpun Gus Dur tetap merupakan tokoh atau pribadi yang istimewa. Toleransi di pesantren memang dikenal lebih baik dibandingkan dengan komunitas-komunitas ke-Islaman kental yang lain, yang biasanya lebih dekat dengan hardline atau garis keras. Sementara pesantren memang dalam tradisi keilmuan dan keagamaannya sejak awal sudah diperkenalkan dengan perbedaan pendapat yang merata, banyak isu-isu itu sudah biasa. Ketika misalnya membahas isu ini dan itu selalu ada dua pendapat, ada beberapa pendapat, itu sudah biasa. Sehingga toleransi dan pluralisme pemikiran itu bukan merupakan barang asing. Tapi sampai pada tingkat pluralisme yang dihayati oleh Gus Dur itu tetap diatas rata-rata pluralisme dan toleransi masyarakat.
Apa Gus Dur dan kawan-kawan sudah siap akan melakukan penyesuaian atau masyarakat yang harus menyesuaikan diri seperti yang anda sebutkan tadi yang mana yang sekarang yang menjadi kunci?
Saya kira dua-duanya yang harus maju bareng, dari pihak masyarakat sendiri sangat berguna apabila mereka juga menyuarakan pandangan-pandangannya, kritiknya, kontrolnya. Begitu juga lembaga-lembaga resmi yang memang tugasnya adalah untuk mengontrol.
Sejauh mana Gus Dur bisa dikontrol, diubah? Dia akan bilang ‘anda yang pilih saya, saya memang begini’?
Saya kira itu memang gayanya Gus Dur. Sejak awal independensinya atau cueknya itu sangat tinggi sekali. Kita selalu menyebut Gus Dur itu tidak pernah butuh pada orang lain, justeru orang lain yang kadang-kadang butuh sama dia. Kenyataannya ketika beliau jadi presidenpun begitu. Tapi saya kira hal ini kita garis bawahi sebagai satu kekayaan dari kita dan dari pribadi Gus Dur untuk memiliki rasa percaya diri yang begitu besar, tapi sikap ini bila tidak didukung oleh sistem pengambilan keputusan ataupun sistem kontrol, sistem manajemen yang tidak memadai untuk kehidupan bernegara, saya kira juga akan merepotkan diri sendiri.
Kelanjutan dari pemerintahan Gus Dur ini akan didasarkan pada loyalitas berdasarkan kedekatan pada NU dan tradisinya, atau akan berkembang menurut pembagian-pembagian dukungan politik yang lain?
Dukungan dari NU sendiri bagi Gus Dur tidak merupakan hal yang terlalu essensial. Misalnya sekarang ini sejak Gus Dur menjadi presiden, hubungan dengan NU secara organisatoris atau secara perorangan dengan tokoh-tokohnya sebenarnya menjadi renggang. Ini di kalangan para Kyai sendiri yang dulunya sering dikunjungi atau bisa mengunjungi setiap saat, justeru mereka merasa kehilangan. Pada tingkat organisasi juga bisa dikatakan tidak istimewa, bahkan sampai sekarang PBNU belum diterima audiensinya oleh presiden. Kita mengajukan surat itu sudah lama. Itu yang pertama. Mungkin orang pada umumnya mempunyai kesan yang sebaliknya bahwa segalanya serba NU, itu sama sekali tidak benar. Kedua, saya yakin sebenarnya Gus Dur ingin membangun basis dukungan itu bukan dari dukungan tradisional NU tapi ingin mencari basis dukungan secara luas dari semua lapisan masyarakat. Misalnya isu yang paling mencolok, soal pencabutan Tap MPR tahun 66. Bagi warga NU, bagi para Kyai, itu sesuatu yang sangat tidak mungkin bagi mereka. Ini menimbulkan pertanyaan yang agak ‘was-was’ pada Gus Dur ini. Jadi bisa dikatakan kalau dari sudut kepentingan Gus Dur merebut simpati NU, para Kyai khususnya, dengan isu 66 ini sebetulnya rugi. Karena justeru orang bertanya-tanya. Meskipun demikian kita yakin bahwa apapun yang diputuskan Gus Dur, para Kyai tetap saja masih mendukungnya walaupun dengan susah payah untuk memahami. Jadi justeru dengan isu Tap MPR tahun 66 dari sudut politic canon sebetulnya merugikan, tapi mungkin hal itu untuk mencari dukungan dari masyarakat secara keseluruhan. Itu yang saya lihat.

About the Author

RIZAL RIZLA

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Post a Comment


iklan

 

Copyright © Berbagi Menuju Lebih Baik. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com