TASAWUF DI ERA MODERN

A. Pendahuluan
Tasawuf merupakan salah satu aspek esoteris (rahasia) Islam, sebagai perwujudan dari ihsan yang berarti kesadaran adanya komunikasi dan dialog langsung seorang hamba dengan Tuhan. Sebagai ilmu keislaman tasawuf adalah hasil kebudayaan Islam sebagaimana ilmu-ilmu keislaman lainnya, seperti Fiqh dan Ilmu Tauhid. Pada masa Rasulullah SAW belum dikenal istilah tasawuf, yang dikenal pada masa itu hanyalah sebutan sahabat Nabi SAW.
Pada dasarnya tasawuf itu adalah suatu faham yang mengajarkan kepada kita tentang etika, moral, tingkah laku atau perangai sehari-hari, dimana kita dituntut untuk berintegrasi dan prihatin dengan kondisi social masyarakat disekitar kita. Tetapi pada pelaksanaannya ternyata faham tasawuf telah disalahartikan. Dalam pandangan mereka (baca: sufisme) tasawuf itu adalah memisahkan diri dari dunia nyata dengan cara melulu ibadah kepada Tuhan melalui zikir, sholat atau lain-lainnya karena terobsesi oleh janji tentang surga yang ada di kehidupan akhirat nanti.
Padahal di dalam al-Qur’an telah diperintahkan kepada kita untuk tidak meninggalkan dunia, bahkan kita diwajibkan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan dunia dan kebutuhan akhirat. Bahkan Nabi SAW sendiri telah wanti-wanti kepada umatnya untuk tidak mengesampingkan kehidupan dunia, sebab dunia merupakan perantara menuju akhirat nanti.
Oleh karena itu hendaklah kita mesti menginterpretasi kembali makna tasawuf yang sebenarnya itu, yaitu suatu bentuk tasawuf yang sesuai dengan tatanan masyarakat Islam, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dengan tanpa meninggalkan kehidupan dunia atau mengesampingkannya. Seiring dengan kebutuhan terhadap tasawuf semakin kuat, maka muncullah apa yang dinamakan dengan “Tasawuf Modern” atau dalam istilah kerennya “Neo Sufisme”, sebagaimana yang dicetuskan oleh seorang ulama kharismatik Indonesia yaitu Hamka.

B. Pengertian Tasawuf Modern
Sebelum kita menjelaskan apa sebenarnya tasawuf modern itu, ada baiknya terlebih dahulu kita merujuk ke-apa sebenarnya tasawuf itu sendiri. Arti tasawuf dan asal katanya secara etimologis menjadi perdebatan para ulama ahli bahasa. Sebagian mengatakan bahwa tasawuf itu diambil dari kata shafa artinya suci bersih. Sebagian lagi mengatakan bahwa kata tasawuf itu berasal dari kata shuf yang artinya bulu binatang domba, karena orang-orang yang memasuki dunia tasawuf pada zaman dahulu sering memakai pakaian dari bulu domba, dan ada juga yang mengatakan asal katanya dari shuffah yaitu sahabat-sahabat Nabi yang tinggal disalah satu ruang masjid Nabawi yang bernama sufah, ada pula yang mengatakan berasal dari shaf yang artinya barisan (pertama) dalam sholat, karena sufi selalu memaksimalkan perbuatan kesempurnaan disetiap ibadah (sholat). Bahkan ada pula yang mengatakan bahwa tasawuf itu berasal dari bahasa Yunani yaitu shofia yang artinya hikmah kebijaksanaan.
Tetapi dari sekian banyak pengertian dari asal kata tasawuf secara etimologis, yang kami anggap paling mendekati adalah kata shuf yang artinya bulu domba tadi. Ada beberapa alasan mengapa penulis menganggap kata tersebut lebih mendekati yaitu: pertama, karena ada seorang sahabat dari ahli sufi yang bernama Hasan al-Basri pernah meriwayatkan bahwasanya dia telah bertemu tujuh puluh pasukan Badar yang semuanya mengenakan pakaian dari bulu domba. Kedua, diriwayatkan bahwasanya Khalifah Umar RA pernah mimpi bertemu Rasulullah yang sedang memakai pakaian dari bulu domba. Ketiga, karena orang yang memakai jubah dari bulu domba pada masa dulu, biasa dipanggil dengan sufi.
Sedangkan secara terminologis, para ulama juga berbeda pendapat, menurut Ibnu Khaldun, tasawuf itu adalah semacam ilmu syar’iyah yang timbul kemudian dalam agama. Ada juga yang berpendapat bahwa tasawuf itu adalah ilmu yang mengkaji segala upaya/uasaha mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam rangka mencari keridloan Allah SWT atau segala bentuk ibadah yang bertujuan mencari keridloan Allah SWT. Tasawuf merupakan suatu system latihan dengan penuh kesungguhan untuk membersihkan, mempertinggi dan memperdalam nilai-nilai kerohanian dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, sehingga dengan cara itu, segala konsentrasi seseorang hanya tertuju kepada-Nya. Oleh karena itulah maka al-Suhrawardi mengatakan bahwa semua tindakan yang mulia adalah tasawuf.
Kalau kita menilik dari pengertian tasawuf tadi, sesungguhnya tasawuf modern itu tidak jauh berbeda dari makna tasawuf itu sendiri, hanya mungkin pada tasawuf modern ini, lebih dipentingkan adalah bagaimana kita mengaplikasikan ajaran-ajaran al-Qur’an dalam kehidupan kita sehari-hari serta bagaimana kita bertingkah laku dalam kehidupan ini sehingga tidak adanya kesenjangan social dalam tatanan social masyarakat. Sebenarnya tasawuf modern itu hanya merupakan kelanjutan dari tasawuf klasik, tapi mungkin sudah mendapat polesan revisi disana-sini, sehingga kesannya tidak lagi eksklusif terhadap dunia, bahkan menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
Jadi bisa juga kita artikan tasawuf modern itu dengan meninggalkan segala praktek tasawuf yang memisahkan diri dari kehidupan dunia dan menggantikannya dengan praktek tasawuf yang tidak memisahkan diri dari tatanan social kemasyarakatan, sebabkita adalah makhluk social yang tentunya akan saling membutuhkan satu sam lainnya, atau bisa juga kita artikan dengan keluar dari budi, perangai yang tercela dan masuk kepada budi, perangai yang terpuji sebagaimana yang dikatakan oleh seorang ahli sufi yaitu al-Junaid.
Oleh karena itu kami kira tasawuf modern ini lebih sesuai dengan makna tasawuf yang sebenarnya, sebab dalam tasawuf modern kita diajarkan untuk lebih memperhatikan sesama dalam social kemasyarakatan, selain itu juga lebih ditekankan untuk membangkitkan semangat Islam yang selama ini seolah-olah terkebiri, sebab semangat Islam adalah semangat berjuang, semangat berkurban, bekerja, bukan semangat malas, lemah dan melempem.
Tasawuf pada mula-mula timbulnya adalah suci maksudnya, yaitu hendak memperbaiki budi pekerti, sebagaimana yang dikatakan oleh al-Juanid tadi. Ketika mula-mula timbulnya semua orang bisa menjadi sufi, tidak perlu memakai pakaian tertentu, atau bendera tertentu, atau berkhalwat mengasingkan diri dari khalayak ramai atau mengadu kening dengan kening guru, sebab semua itu tidak lebih hanya merupakan kesalahan pemahaman kita tentang makna tasawuf itu sendiri.
Dengan melihat segala keterangan tadi, bisa kita katakana bahwa sesungguhnya tasawuf modern itu adalah tasawuf dalam arti yang sebenarnya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya, tanpa meninggalkan kesenangan duniawi, bahkan sebaliknya, kita diwajibkan untuk membangun dunia ini, karena kita adalah “khalifah dimuka bumi” yang mempunyai tanggung jawab untuk memakmurkan bumi ini dan membebaskannya dari tangan-tangan jahat yang mencoba untuk merusak bumi ini, serta menghancurkan segala bentuk penindasan terhadap kaum dhu’afa sekaligus menolong para dzalimin dari budi pekerti yang buruk untuk hijrah kebudi pekerti yang baik dan sholeh.

SELENGKAPNYA

About the Author

RIZAL RIZLA

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Post a Comment


iklan

 

Copyright © Berbagi Menuju Lebih Baik. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com