PANDANGAN ORIENTALIS TERHADAP AKAL DAN WAHYU DALAM HUKUM ISLAM

0 comments
A. Pendahuluan.
Kita maklumi bersama bahwa dalam catatan sejarah hukum Islam, akal dan wahyu ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa di pisahkan. Artinya adalah Hukum Islam sebagai bentuk tranformasi dari nilai-nilai ajaran islam, tidak lepas dari adanya wahyu dan akal. Wahyu diartikan sebagi firman Allah SWT yang disampaikan kepada rasulnya melalui malaikat, wahyu tersebut supaya disampaikan ummatnya. Atau juga wahyu di artikan sebagai kumpulan teori, teori ajaran islam yang terangkum dalam sebauah kitab suci yaitu Al-Qur'an.
Sedangkan akal merupakan alat atau katakanlah kunci yang memiliki peran besar dalam menyingkap atau mengkaji wahyu ( Al-Quran ) tersebut. Akal merupakan alat vital dalam memecahkan poblem-poblem, baik itu secara realitas atau idealitas atau antara teori hukum islam dengan implementasi hukum islam itu sendiri.
Kemudian yang menjadi fokus kajian atau sorotan dalam makalah ini adalah tentang pandangan para orientalis dalam memahami hukum islam dengan melihat relasi antara peran akal dah wahyu.
Secara universal, kaum orientalis mengakui bahwa syari'at islam atau hukum islam itu bersifat universal dan dinamis serta cendrung mengarah pada hal-hal kemanusian atau nilai-nilai universal kemanusiaan, sehingga mereka mengatakan bahwa hukum islam itu hukum tuhan yang humanis. Namun sebaliknya ketika mereka melihat kepada realita yang terjadi dikalangan ummat islam, kaum orientalis menilai dan menyimpulkan bahwa seolah-olah telah terjadi benturan antara idealitas dan realitas atau dalam istilah teori hukum itu di kenal dengan sebutan " das sein dan das sollen", apa yang seharusnya dan senyatanya berbeda. Dan menurut mereka hal ini telah memunculkan masalah baru, sehingga muncul pendapat dari sejumlah orientalis yang berpendapat bahwa syari'at islam atau hukum islam dengan berbagai sumber-sumber hukumnya baik Al-Qur'an, sunnah dan ijtihad adalah hasil kreasi manusia seluruhnya. Mereka mencampur adukkan sumber-sumber keTuhan-an yang refrentatif sebagai wahyu tuhan dengan prinsip-prinsip positif istik dan teologi-telogi reflektif manusiawi, bahkan muncul pendapat yang lebih ekstrim radikal dari para orientalis yang mengatakan bahwa fiqh islam dan sumber-sumber syari'at islam itu di bangun diatas prinsip-prinsip dasar hukum romawi. Kemudian yang jadi pertanyaan disini adalah bagaimana pandangan para orientalis dalam memahami realitas empirit (Ummat Islam) dengan paradigma hukum islam?
Itulah dua pertanyaan pokok serta mendasar dalam makalah ini, dan di jadikan materi pokok dalam bahasan berikutnya. Insa Allah.

B. Pembahasan.
1. Deskripsi pandangan orientalis
Disini kami mencoba mengambil dua pendapat dari dua orang orientalis terkemuka, yang mengkaji secara mendalam tentang hukum islam. Para orientalis itu adalah H.A.R Gibb dan Coulson. Dua pendapat ini sebagai bahan comparatif bagi kita terhadap pola fikir dan pemahaman mereka dalam memahami huum islam, yang menurut mereka bahwa dalam hukum islam telah terjadi konflik.
H.A.R Gibb menulis, hukum islam memiliki jangkauan paling jauh dan alat efektif dalam membentuk tatanan sosial dan kehidupan masyarakat islam. Otoritas moral hukum islam membentuk struktur sosial islam yang rapi dan aman melalui semua fluktuasi keberuntungan politis. Hukum Islam memiliki norma-norma etika baik dan buruk dimana masyarakat secara edial harus menyesuaikan diri dengannya. Karenanya hukum ini mempengaruhi semua aspek kehidupan.
Sementara Coulson menulis, Yurisprudensi islam adalah seluruh proses aktivitas intelektual yang memastikan dan menemukan ketentuan-ketentuan kehendak Tuhan dan mentransformasikannya ke dalam sistem hak dan kewajiban yang secara hukum dapat dilaksanakan. Tetapi proses ini tidak menjadi hukum dan tidak pula berlaku sebagai presiden yang harus diikuti dan untuk melaksanakan hak dan kewajiban kecuali jika ia benar sejalan dengan nash. Coulson memahami hukum islam sebagai produk tuhan dan produk manusia ( fuqaha ), hukum islam merupakan cerminan hukum tuhan dan manusia.
Disini kita cermati dua pandangan orientalis tersebut, ternyata mereka memiliki pandangan yang berbeda dalam memahami hukum islam. Gibb menilai hukum islam secara positif dan seolah-olah tidak ada konlik, sementara Coulson menilai lain, dia memiliki penilaian yang ambigu terhadap hukum islam dan beranggapan bahwa dalam hukum islam telah terjadinya konfli.
Dalam makalah ini tidak akan menguraikan kedua pandangan itu, namun akan mengambil satu pandangan saja. Kami akan mencoba menyoroti pandangan Coulson yang menurut kami patut untuk di cermati dikaji dan dikritisi.
Sekali lagi hukum islam menurut Coulson merupakan hukum tuhan dan hukum manusia, nampaknya deskripsi statement yang kontradiksi ini mengilhami ketegangan pokok yang ada dalam sistem antara wahyu tuhan dan akal ( pikiran ) para pakar islam.
Coulson menilai bahwa antara akal dan wahyu, masing-masing memiliki peran dan fungsi, namun ketika dihadapan pada realitas yang ada, Coulson menilai lain, dia memahami realitas empirk ( Ummat Islam ) dengan paradigma hukum islam secara parsial-atomistik. Di samping itu dia melihat realitas ummat islam dengan pendekatan sosiologis-historis yang kurang objektif bahkan cenderung subjektif, berbeda dengan Gibb yang melihat realitas ummat islam secara objektif.
Kemudian dalam masalah wahyu dan akal, dia menilai bahwa keduanya memiliki peran yang sangat besar dalam proses pembentukan hukum islam. Wahyu dipahami sebagai sumber hukum tuhan sedangkan akal dipahami sebagai alat dalam proses aktivitas intelektual penggalian hukum ( ijtihad ) yang menjelma menjadi hukum manusia. Sedangkan relasi keduanya kurang begitu harmonis, ketika dihadapan pada realita yang sering terjadi benturan hukum dan sosial

SELENGKAPNYA

0 comments:

Post a Comment

Copyright 2011 Share and Care.
Blogger Template by Noct. Free Download Blogger Template