IDEALISME HEGEL


A.    PENDAHULUAN
Hegel merupakan puncak gerakan filsafat Jerman yang berawal dari Kant, walaupun ia sering mengkritik Kant, sistem filsafatnya tidak akan pernah muncul kalau tidak ada Kant. Pada akhir abad ke-19, para filosuf akademik terkemuka, baik di Amerika maupun di Britania Raya, sangat bercorak Hegelian. Di luar filsafat murni, banyak teolog Protestan mengadopsi doktrin-doktrinnya.
Filsafatnya tentang sejarah mempengaruhi teori politik secara mendalam. Marx, seperti yang kita ketahui, ialah murid Hegel. Semasa mudanya dan dalam sistem filsafatnya yang terakhir ia masih mempertahankan beberapa corak Hegelian. [1]

B.     PEMBAHASAN
I.                   Biografi Singkat Hegel
George Wilhem Frederich Hegel lahir pada tahun 1770 di Stutgart, dan mulai belajar teologi di Universitas Tubingen pada usia delapan belas tahun. Tahun 1791 ia memperoleh gelar doctor dalam bidang teologi. Oleh karena itu, karya Hegel yang mula-mula adalah mengenai agama Kristen, seperti The Life of Jesus dan Spirit of Christianity.[2]
Pada tahun 1799, dia bekerja dengan Schelling di Universitas Jena pada waktu Gerakan Romantik mengalami pertumbuhannya yang paling pesat. Setelah menjalani satu periode sebagai asisten profesor di Universitas Jena dia menjadi profesor di Universitas Heidelberg, pusat Romantisisme Nasional Jerman. Pada 1818 dia diangkat menjadi profesor di Berlin, tepat pada waktu kota tersebut menjadi pusat spiritual Eropa. Dia meninggal karena penyakit kolera pada 1831, setelah ‘Hegelianisme’ berhasil mendapatkan pengikut yang sangat besar di hampir universitas di Jerman.[3]

II.                Dasar Pemikiran Hegel
Idealisme di Jerman mencapai puncaknya pada masa Hegel. Ia termasuk salah satu filosuf barat yang menonjol. Inti filsafat Hegel adalah konsep Geitst (roh, spirit), suatu istilah yang diilhami oleh agamanya, ia berusaha menghubungkan Yang Mutlak itu dengan Yang tidak Mutlak. Yang Mutlak itu Roh (jiwa), menjelma pada alam dan dengan demikian sadarlah ia akan dirinya. Roh itu dalam intinya Idea. Artinya: berpikir. Dalam sejarah kemanusiaan sadarlah roh ini akan dirinya. Demikian kemanusiaan merupakan bagian pula dari Idea Mutlak. Idea yang berpikir itu sebenarnya adalah gerak yang menimbulkan tesis yang dengan sendirinya menimbulkan gerak yang bertentangan, anti tesis. Adanya tesis dan anti tesisnya itu menimbulkan sintesis dan ini merupakan tesis baru yang dengan sendirinya menimbulkan anti tesisnya dan muculnya sintesis baru pula. Demikianlah proses roh atau Idea yang disebut Hegel: Dialektika. Proses itulah yang menjadi keterangan untuk segala kejadian. Proses itu berlaku menurut hukum akal. Sebab itu yang menjadi aksioma Hegel : apa yang masuk akal (rasional) itu sungguh riil, dan apa yang sungguh itu masuk akal. [4]

III.             Kemunduran Filsafat Hegel
Seperti yang telah dikemukakan, Hegel merupakan puncak gerakan filsafat. Akan tetapi pandangan demikian itu dibatalkan oleh perkembangan zaman dan timbulnya kemajuan yang pesat sekali di bidang ilmu pengetahuan, baik di bidang ilmu pengetahuan alam maupun di bidang ilmu pengetahuan rohani. Hal ini dengan sendirinya memaksa adanya pemikiran ulang terhadap penyamarataan yang dikemukakan Hegel.
Perlawanan terhadap filsafat Hegel timbul dari pihak para ahli sejarah dan dari aliran Romantik. Pada zaman ini masih muncul juga aliran positivisme dan materialisme. Dengan demikian timbullah pangkal-pangkal pemikiran baru. Hal ini semuanya mengakibatkan adanya perpecahan di antara para pengikut Hegel. Timbullah sayap kanan yang lebih konservatif dan sayap kiri yang lebih progresif. Keduanya segera menjauhkan diri dari Hegel. [5]

C.    PENUTUP
Filsafat memeprlihatkan kepada kita apa yang hidup dalam diri manusia yang telah menjadi sadar. Filsafat itu menjelaskan kepada kita apa yang dicari orang pada zaman tertentu, apa yang hidup dan bergerak di dalam bagian terdalam hidup manusia pada suatu zaman. Ternyata bahwa tiap zaman memiliki filsafatnya sendiri, yang berusaha menurut keyakinan masing-masing untuk memperbaiki hidup manusia.
Barang siapa yang ingin mengenal orang-orang pada zamannya, ia harus tahu apa yang dipikirkan orang-orang pada zamannya itu. Mempelajari filsafat dapat menjadikan kita dapat mengerti apa sebab orang-orang berbuat begini atau begitu, dan dapat memberi petunjuk ke arah mana kita harus mencari pemecahan persoalan-persoalan yang dihadapi orang pada suatu zaman tertentu.

DAFTAR PUSTAKA

Gaarder, Jostein. 2000. Dunia Sophie. Bandung: Mizan.
Russell, Bertrand. 2002. Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Hadiwijono, Harun. 2000. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Kanisius
Syadali, Ahmad dan Mudzakir. 2004. Filsafat Umum. Bandung: Pustaka Setia
Partanto, Pius A. dan M. Dahlan Al-Barry. 1994. Kamus Ilmiah Pupuler. Surabaya: Arkola



[1]  Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002) hlm. 951
[2]  Ahmad Syadali dan Mudzakir, Filsafat Umum (Bandung: Pustaka Setia, Cet. II, 2004) hlm. 115
[3]  Jostein Gaarder, Dunia Sophie (Bandung: Mizan, Cet VIII, 2000) hlm. 391
[4] Ahmad Syadali dan Mudzakir, Filsafat Umum (Bandung: Pustaka Setia, Cet. II, 2004) hlm. 116
[5]  Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat .2 (Yogyakarta: Kanisius, Cet. XVI, 2000) hlm. 117

About the Author

RIZAL RIZLA

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Post a Comment


iklan

 

Copyright © Berbagi Menuju Lebih Baik. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com