PERSONAL TEACHER COMPETENCE

PERSONAL TEACHER COMPETENCE
Studies Critical Thinking On Khazanah Imam Al - Gazali
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam konteks globalisasi yang syarat akan doktrin global, pendidikan diharapkan bisa membawa bangsa ini mampu bersaing dengan negara-negara lain di tengah kelindan dan kompetisi globalisasi tanpa kehilangan identitas dan para lulusannya dapat berfungsi secara efektif dalam kehidupan masyarakat global tanpa menanggalkan nilai-nilai lokal dan ajaran agama.
Dalam homonisasi dan humanisasi ini guru merupakan faktor yang sangat menentukan. Guru merupakan ujung tombak. Mengenai hal ini Suyanto mengatakan ”berilah aku guru yang baik, yang dengan kurikulum yang tidak terlalu baik pun dapat menghasilkan lulusan yang baik”. Suksesnya belajar dan berhasilnya suatu pendidikan sangat (dominan) ditentukan oleh “Oemar Bakrie” , dalam hal ini guru di sekolah dan para dosen di Perguruan Tinggi. Dalam sebuah pepatah (adagium) Arab dikenal al-mudarris ahammu min al-maddah wa al-tarīqah (guru lebih penting dari pada materi dan metode).
Adapun faktor yang terpenting dari sosok seorang guru adalah kepribadiannya. Kepribadian itulah yang akan menentukan apakah dia menjadi pendidik, pembina dan pembimbing yang baik bagi anak didiknya, ataukah ia akan menjadi perusak atau penghancur masa depan anak didik, terutama bagi anak didik yang masih kecil (tingkat sekolah dasar) dan mereka yang sedang mengalami kegoncangan jiwa (tingkat menengah).
Dalam leksikon Jawa, guru umumnya ditafsirkan sebagai akronim dari ungkapan bisa digugu lan ditiru. Ini artinya bahwa sosok guru adalah orang yang dapat dipercaya atau dipegang teguh kebenaran ucapannya dan dapat diteladani tingkah lakunya. Di balik ungkapan itu, tersirat paham atau setidak-tidaknya asumsi bahwa apa yang dilakukan, dikatakan, dan diajarkan guru adalah benar. Guru sangat dipercaya sehingga jarang orang mempersoalkan ajarannya. Guru dianggap sebagai profesi yang mempunyai keutamaan moral.
Saat ini profesi guru mengalami distorsi yang begitu hebatnya, sehingga dampaknya pameo lama yang menyatakan “guru wajibe digugu lan dituru” (guru wajib dipercaya dan di contoh) berubah menjadi sinisme “guru iso digugu, ning ora perlu ditiru” (guru bisa dipercaya, tapi tidak perlu dicontoh). Pameo pertama mengandaikan guru sebagai personifikasi makhluk yang ideal, sehingga ucapan maupun tindakannya wajib dipercaya dan di contoh. Sedangkan yang kedua, guru merupakan personifikasi aktor/aktris yang pintar bersandiwara, sehingga ucapan maupun tindakannya patut diperhatikan tapi tidak harus dipercaya dan dicontoh.
Secara konstitusional pemerintah merumuskan kompetensi kepribadian yang harus dimiliki oleh setiap guru. Menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 guru harus memiliki kompetensi kepribadian yaitu kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik. Sedangkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru sebagaimana yang dimaksudkan pasal 10 ayat 2 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 guru sekurang-kurangnya harus memiliki kepribadian yang; beriman dan bertaqwa, berakhlak mulia, arif dan bijaksana, demokratis, mantap, berwibawa, stabil, dewasa, jujur, sportif, menjadi teladan, obyektif mengevaluasi kinerja sendiri dan mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.
Realitanya, guru banyak melakukan tindakan-tindakan asosial, amoral, kekerasan dan tindakan tidak terpuji lainnya. Hal itu dilakukan tak hanya di luar sekolah bahkan di sekolah. Kepribadian guru yang kurang mantap, kurang stabil dan kurang dewasa ini, sering kita dengar dari berbagai media baik elektronik maupun media massa. Misalnya pada tanggal 16 Januari 2009 di Probolinggo, Gozali, seorang guru tidak tetap menjewer siswanya hingga sobek sepanjang 3 centimeter karena dituduh membuat kegaduhan. Kekerasan guru terhadap siswa juga terungkap pada tanggal 18 Februari 2009 Di Pekanbaru Gultom, seorang guru SMA Santa Maria meninju dada William, salah satu muridnya. Kisah pilu juga terjadi di Tapanuli Tengah Sumatera Utara. Dua bocah yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar menjadi korban pencabulan oknum gurunya sendiri, Erwin Ronaldo Panjaitan, awal November 2008 lalu. Parahnya lagi, Erwin melampiaskan nafsu bejatnya itu di dalam ruang kelas, saat pelajaran berlangsung.
Dalam sejarah pemikiran ulama klasik masalah kepribadian menjadi prioritas utama dan perhatian yang besar. Sehingga banyak di antara mereka seperti Ibn Miskawih , al-Qābisī , al-Gazālī, al-Zarnūjī, Ibnu Khaldun dan ulama-ulama lain yang telah merumuskan beberapa kompetensi kepribadian yang harus dimiliki oleh seorang guru.
Al-Gazālī merupakan salah satu ulama klasik yang layak dikaji pemikirannya. Semasa hidupnya beliau pernah menjadi pendidik dan pembuat kebijakan pendidikan yaitu, ketika ia menjadi dosen dan rektor di universitas Nizāmiyyah. Dan pemikiran beliau banyak mempengaruhi tokoh-tokoh intelektual diantaranya Ibnu Khaldun , az-Zarnūjī dan telah mempengaruhi kehidupan masyarakat Islam.
Warisan intelektual muslim ini (al-Gazālī) penting dikaji ulang, karena ternyata pemikirannya tersebut mempunyai relevansi dengan konsepsi-konsepsi pendidikan modern di Indonesia dan bisa diterapkan pada praktik pendidikan sekarang mengingat pudarnya nilai-nilai akhlak, krisis yang begitu hebat di tubuh guru, merosotnya citra/martabat guru akibat kepribadian yang tidak mantap. Mengenai hal ini Nurcholis Madjid sebagaimana yang dikutip oleh Maragustam mengatakan, bahwa budaya dunia Islam klasik sedemikian kaya rayanya, sehingga akan merupakan sumber pemiskinan intelektual yang ironi jika sejarahnya yang telah berjalan lebih 14 abad itu diabaikan dan tidak dijadikan bahan pelajaran. Belajar dari sejarah merupakan perintah langsung dari Allah untuk memperhatikan sunatullah. Termasuk di sini ialah keharusan mempelajari secukupnya warisan kekayaan intelektual Islam.
Menurut al-Gazālī sosok Guru adalah orang yang bertanggung jawab dan bertugas mendidik anak menuju pendekatkan diri kepada Allah. Oleh karena itu, Guru disyaratkan memiliki kepribadian yang baik yaitu, guru memiliki sifat ikhlas; dalam mendidik anak guru hanya mengharapkan ridla Allah bukan supaya dipuji, mencari balasan apalagi berorientasi materi dalam menunaikan tugasnya. Guru mendidik anak hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dan guru juga harus memiliki sifat kasih sayang, lemah lembut dan sabar dalam menghadapi beragam kemampuan anak didik. Ia mengatakan guru adalah orang tua bagi anak didiknya. guru dan anak didik adalah musafir yang harus saling menyayangi.
Beliau juga mengisyaratkan bahwa seorang guru diwajibkan untuk memenuhi syarat, bukan hanya orang yang pandai tapi juga orang yang berbudi dan apa yang keluar dari lisannya sama dengan apa yang ada di dadanya, apa yang dilakukannya sama dengan apa yang telah dinasehatkan kepada muridnya.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat dikemukakan beberapa rumusan masalah sebagai berikut;
1. Bagaimana kompetensi personal guru menurut al-Gazālī?
2. Bagaimana relevansi kompetensi personal guru menurut al-Gazālī dengan kompetensi personal guru dalam UU No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen?







C. Tujuan Dan Kegunaan
1. Tujuan Penelitian
Tidak terlepas dari pokok permasalahan tersebut diatas, maka tujuan penulisan skripsi ini adalah :
a. Untuk mengetahui dan menambah wawasan dalam kerangka teoritik yaitu, tentang konsep pemikiran al-Gazālī mengenai konsep kompetensi personal guru.
b. Memperoleh gambaran tentang relevansi pemikiran al-Gazālī tentang kompetensi personal guru dengan UU No.14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen.
2. Kegunaan Penelitian
Sedangkan kegunaan yang hendak diperoleh dalam penulisan skripsi ini adalah:
Kegunaan Ilmiah (Akademik)
a. Dapat diperoleh pemahaman yang integral tentang guru, yang dikemukan oleh al-Gazālī yang berkaitan dengan konsep kompetensi personal guru.
b. Memperkaya khazanah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kompetensi personal guru
Kegunaan Praktis
a. Dapat diperoleh pemahaman tentang kompetensi personal guru dengan segala aspekya dan dapat dijadikan dasar bagi pembentukan kepribadian.
b. Memberikan kontribusi pemikiran bagi pemikir dan praktisi pendidikan
c. Menambah pengetahuan penulis mengenai konsep kompetensi personal
D. Kajian Pustaka
Kajian terhadap pemikiran al-Gazālī di berbagai bidang seperti pendidikan, tasawuf, akhlak dan lain sebagainya, sebetulnya sudah banyak dilakukan oleh sarjana Barat maupun sarjana Muslim sendiri. Berdasarkan kenyataan ini, tanpa bermaksud untuk mengecilkan kemampuan dan peran pemikir muslim lainnya, kiranya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa al-Gazālī merupakan tokoh sekaligus sebagai pemikir muslim yang banyak dikaji pemikirannya secara akademis.
Berikut ini, penulis memaparkan kajian hasil penelitian-penelitian yang dianggap relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis.
Karya ilmiah Imam Syafe’ie, mengupas tentang konsep guru menurut Al-Ghazali dari segi pendekatan filosofis-pedagogis. Beliau mengatakan bahwa guru adalah seorang yang mempunyai ilmu pengetahuan yang mengajarkan ilmunya hanya karena Allah swt, yang merupakan salah satu faktor penting dalam pendidikan serta besar peranannya dalam rangka penyempurnaan akhlak manusia .
Skripsi Dewi Khurun Aini yang berjudul Pemikiran Al-Ghazali Tentang Kompetensi Guru Pendidikan Akhlak (Studi Atas Kitab Ihya Ulumuddin). Dalam skripsi ini, penulis ingin membahas secara detail tentang kompetensi apa saja yang harus dimiliki oleh seorang guru ideal yang digunakan dalam pendidikan akhlak berdasarkan pemikiran Imam al-Gazālī yang terdapat dalam kitab Ihya’ Ulumuddin , yaitu kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki oleh guru dalam melakukan pembinaan akhlak murid seperti pemahaman terhadap peserta didik, mengembangkan sifat terpuji dan pemahaman dalam psikologi pendidikan.
Skripsi Lutfi Malihah yang berjudul Konsep Akhlak Guru dan siswa dalam Pendidikan Islam Telaah Pemikiran Syeh al-Zarnuji dalam kItab ta’alim muta’allim). Dalam skripsi ini, penulis lebih menekankan pembahasan mengenai konsep-konsep az-Zarnūjī mengenai akhlak yang harus dimiliki Guru dan siswa dalam pendidikan Islam. Mengenai Kompetensi apa saja yang harus dimiliki oleh Guru terutama guru PAI belum begitu disebutkan. Selain itu, sistem pembelajarannya bersifat Teacher Centered, sedangkan yang dituntut dalam pendidikan saat ini adalah adanya keaktifan dari kedua belah pihak baik guru maupun siswanya.
Karya ilmiah Abidin Ibnu Rusd yang diterbitkan oleh Pustaka Pelajar cetakan ke II tahun 2009 dengan judul Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan. Buku ini membahas tentang pandangan al-Gazālī tentang hakekat manusia dan ilmu pengetahuan, tujuan pendidikan, metode-metode pendidikan. Akan tetapi metode-metode pendidikan yang dibahasnya ditekankan pada metode ceramah, diskusi dan tanya jawab.
Dalam skripsi ini yang menjadi pokok pembahasan adalah penemuan konsep kompetensi personal dari pemikiran al-Gazālī. Sejauh yang diketahui penulis, belum ada penelitian atau skripsi yang mengkaji konseptual kompetensi personal guru. Kajian pustaka yang ada hanya membahas pemikiran pendidikan al-Gazālī, konsep guru secara garis besar saja, sifat, Peran, hak, kewajiban, tugas, kedudukan guru dan kode etik guru. Begitu juga dengan skripsi Lutfi Maliha berbeda dengan kajian ini dari segi obyek kajiannya. Sedangkan skripsi Dewi Khurun Aini meneliti Kompetensi apa saja yang harus dimiliki oleh guru pendidikan akhlak, dengan artian pembahasan kompetensi dalam skripsi itu masih luas belum ada spesifikasi/mendetail dan dibatasi dalam ruang lingkup pendidikan akhlak. Dengan demikian belum ada penelitian yang mengupas pemikiran al-Gazālī tentang kompetensi personal guru dengan pendekatan historis- filosofis baik berupa skripsi, atau pun yang lainnya.






E. Landasan Teori
1. Pengertian Guru
Menurut al-Gazālī guru adalah orang yang bertugas dan bertanggung jawab atas pendidikan seperti rasulullah. Guru adalah orang yang mengantarkan muridnya dan menjadikannya manusia terdidik yang mampu menjalankan tugas kemanusiaan dan ketuhanan Dalam pengertian lain pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya. Sedangkan menurut Suparlan guru adalah orang yang tugasnya terkait dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dalam semua aspeknya, baik spiritual dan emosional, intelektual, fiskal, maupun aspek yang lainnya. Sementara itu, Zakiyah Drajat menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional.
Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005, menyebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Kedua istilah (guru dan pendidik) memiliki arti yang sama bedanya hanya pada penggunaannya. Istilah guru seringkali dipakai di lingkungan pendidikan formal, sedangkan pendidik dipakai di lingkungan formal, informal maupun non formal. Dengan demikian guru dapat disebut pendidik dan begitu pula sebaliknya, pendidik dapat disebut guru.
2. Tugas Dan Kedudukan Guru
Mengenai tugas guru, ahli-ahli pendidikan Islam –juga ahli pendidikan barat-telah sepakat bahwa tugas guru adalah mendidik. Mendidik itu sebagian dilakukan dalam bentuk mengajar, sebagian dalam bentuk memberikan dorongan, memuji, menghukum, memberi contoh, membiasakan dan lain-lain . Sedangkan menurut al-Gazālī guru bertugas menyempurnakan, membersihkan, menyucikan dan membawakan peserta didik untuk mendekat kepada Allah.
Sehubungan dengan tugas guru tersebut al-Gazālī berkata:
“Makhluk yang paling mulia di muka bumi adalah manusia. Sedangkan yang paling mulia penampilannya adalah kalbunya. Guru atau pengajar selalu menyempurnakan, mengagungkan dan mensucikan kalbu itu serta menuntunnya untuk dekat kepada Allah...

Guru dalam Islam mendapat penghargaan tertinggi. Begitu tingginya penghargaan itu sehingga menempatkan kedudukan guru setingkat di bawah kedudukan nabi dan rasul. . Sebenarnya tingginya kedudukan guru dalam Islam merupakan realisasi ajaran Islam itu sendiri. Islam memuliakan pengetahuan; pengetahuan itu didapat dari belajar mengajar, yang mengajar adalah guru maka Islam maka pasti memuliakan guru yang memberikan ilmu pengetahuan
3. Kode Etik
Kode etik terdiri dari dua kata, yakni kode dan etik. Etik berasal dari bahasa yunani, ”ethos” yang berarti watak, adab atau cara hidup. Dan etik biasanya digunakan untuk pengkajian sistem nilai yang disebut kode. Jadi kode etik guru diartikan sebagai aturan tata kesusilaan keguruan. Kode etik guru ini merupakan ketentuan yang mengikat semua sikap dan perbuatan guru.
4. Kompetensi Personal (Kepribadian)
Kompetensi adalah kecakapan, kemampuan dan memiliki wewenang. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen dijelaskan bahwa “kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Guru yang dinyatakan Kompeten di bidang tertentu adalah guru yang menguasai kecakapan dan keahlian selaras dengan tuntutan bidang kerja yang bersangkutan.
Kompetensi guru merupakan perpaduan antara kemampuan personal, keilmuan, teknologi, sosial dan spiritual yang secara kaffah membentuk kompetensi standar guru yang mencakup penguasaan materi, pemahaman terhadap peserta didik, pembelajaran yang mendidik, pengembangan pribadi dan profesionalisme.
Dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 10 dikemukakan bahwa kompetensi guru itu mencakup kompetensi pedagogis, kompetensi kepribadian (personal), kompetensi sosial, dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.
Sedangkan istilah kepribadian digunakan dalam disiplin ilmu psikologi yang mempunyai pengertian sebagai ”sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang”. Kata kepribadian diambil dari terjemahan kata yang berasal dari bahasa Inggris, yaitu personality, yang mempunyai pengertian sebagai sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain.
Bagi Zakiah Drajat sesungguhnya kepripadian adalah sesuatu yang abstrak (ma’nawi) sukar dilihat dan diketahui secara nyata, yang dapat diketahui adalah penampilan atau bekasnya dalam segala segi dan aspek kehidupan. Misalnya dalam tindakan, ucapan, cara bergaul, berpakaian dan dalam menghadapi setiap persoalan atau masalah, baik yang ringan maupun yang berat.
Dalam penjelasan Peraturan Pemerintah RI No. 19 Tahun 2005, tentang Standar nasional pendidikan dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan Kompetensi Personal adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia . Dan dalam redaksi lain pemerintah juga merumuskan kompetensi tersebut dalam Peraturan Pemerintah RI No. 74 Tahun 2008 tentang guru, yaitu sekurang- kurangnya guru memiliki kepribadian yang:
a. Beriman dan bertaqwa
b. Berakhlak mulia
c. Arif dan bijaksana
d. Demokratis
e. Mantap
f. Berwibawa
g. Stabil
h. Dewasa
i. Jujur
j. Sportif
k. Menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat
l. Secara obyektif mengevaluasi kinerja sendiri
m. Mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan .
Menurut Syaiful sagala kompetensi kepribadian guru menunjukkan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian (1) Mantap dan stabil yaitu memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai norma hukum, norma sosial dan etika yang berlaku; (2) dewasa yang berarti mempunyai kemandirian untuk bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja sebagai guru; (3) arif dan bijaksana yaitu, tampilannya bermanfaat bagi peserta didik sekolah dan masyarakat dengan menunjukkan keterbukaan dalam berfikir dan bertindak; (4) berwibawa yaitu, perilaku guru yang disegani sehingga berpengaruh positif terhadap peserta didik, bertindak sesuai norma religius, jujur, ikhlas dan suka menolong. Berkenaan dengan wibawa; guru harus memiliki kelebihan dalam merealisasikan nilai spiritual, emosional, moral, sosial dan intelektual dalam pribadinya, serta memiliki kelebihan dalam pemahaman ilmu pengetahuan, teknologi dan seni sesuai dengan bidang yang dikembangkan.
Guru yang digugu lan ditiru adalah guru yang memiliki kepribadian yang mantap, stabil dan dewasa. Kepribadian erat kaitannya dengan sifat dan akhlak yang dimiliki oleh guru. Pribadi guru memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pendidikan, khususnya dalam kegiatan pembelajaran. Menurut al-Gazālī, sebagaimana yang dikutip oleh Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan agar guru berhasil melaksanakan tugasnya hendaknya guru memiliki akhlak yang baik. Hal ini disebabkan oleh anak didik itu akan selalu melihat kepadanya sebagai contoh yang harus selalu diikuti. Ini dapat dimaklumi karena manusia merupakan makhluk yang suka mencontoh, termasuk mencontoh pribadi gurunya dalam membentuk pribadinya. Al-Gazālī berkata mata anak didik selalu tertuju kepadanya, telinganya selalu menganggap baik berarti baik pula di sisi mereka dan apabila mereka menganggap jelek berarti jelek pula di sisi mereka”.
Umar bin Utbah berkata kepada guru anaknya ”..........mata mereka akan tertuju kepadamu, yang mereka anggap baik ialah apa yang kamu kerjakan dan yang mereka anggap jelek ialah apa yang kamu tinggalkan.

F. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Dilihat dari segi tempatnya, jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (Library Research), yakni penelitian yang pengumpulan datanya dilakukan dengan menghimpun data dari berbagai literatur. Literatur yang diteliti tidak terbatas pada buku-buku tetapi dapat juga berupa bahan-bahan dokumentasi, kitab, majalah, jurnal dan surat kabar.
2. Pendekatan Penelitian
Adapun pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan histories-filosofis. Di sini peneliti melakukan interpretasi. Pendekatan historis penulis pakai berdasarkan pertimbangan bahwa al-Gazālī ketika menulis kitab Ihyā’ ’Ulūmiddīn, Ayyuha al-Walad, Adāb fi al-Dīn dan Mīzān al-’Amal, beliau tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosio-kultural masyarakat saat itu. Pendekatan historis terfokus pada penelitian biografi, yaitu penelitian mengenai pendidikan seseorang, sifat-sifat, watak, pengaruh lingkungan maupun pemikiran dan ide dari subyek serta pembentukan watak tokoh .
Sedangkan pendekatan filosofis adalah sebuah pendekatan yang erat kaitannya dengan refleksi, dalam tulisan ini yang direfleksikan adalah segala sesuatu yang berkelindan dengan pemikiran al-Gazālī tentang konsep kompetensi personal/kepribadian guru.
3. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi yaitu mencari data-data yang mengandung pemikiran al-Gazālī khususnya tentang guru atau pendidik. Penelitan ini merupakan penelitian yang menjadikan literatur sebagai basis penelitiannya. Literatur yang diteliti tidak hanya terbatas pada kitab-kitab klasik, buku melainkan juga diperoleh dari majalah, jurnal, internet dan lain-lain.
Secara umum, sumber penelitian dikelompokkan menjadi dua, yaitu: sumber primer (primary sources) dan sumber sekunder (secondary sources)
a. Sumber data primer adalah sumber pokok permasalahan yang menyangkut landasan konseptual yang diambil dari karya al-Gazālī. Sebagian karangan yang ditulis al-Gazālī sendiri, terutama yang secara langsung berkaitan dengan tulisan ini antara lain: al-Gazālī, Ihyā’ ‘Ulūmiddin, Mīzān al-‘Amal yang kemudian diterjemahkan oleh Sulaiaman Al-Kumayi yang diberi judul Meraih Kebahagiaan Dunia & Akhirat, Al-Munqid min al-Dhalāl yang diterjemahkan oleh Achmad Khudori soleh dengan judul kegelisahan al-Gazālī: sebuah otobiografi intelektual, Adāb fi al-Dīn dan Ayyuha al-Walad.
b. Sumber data sekunder adalah sumber penunjang dalam pembahasan skripsi ini. sebagian karya ilmiah yang telah ada tentang pemikiran al-Ghazali di bidang ke-Islaman dan pendidikan, antara lain: Seluk Beluk Pendidikan dari al-Ghazali karya Zainudin dkk; Pemikiran al-Ghazali tentang Pendidikan karya Abidin Ibnu Rusd, Imam syafe’ie; Konsep Guru Menurut Al-Ghazali Pendekatan Filosofis-Pedagogis, karya Abuddin Nata; Perspektif Islam Pola Hubungan Guru-Murid; Studi Pemikiran Al-Ghazali, karya Fathiyah Hasan Sulaiman; Aliran- Aliran Dalam Pendidikan (Studi Tentang Aliran Pendidikan Menurut Al-Ghazali, Konsep Pendidikan Al-Ghazali dan lain-lain. Sedangkan di bidang sejarah; Riwayat Hidup Imam Al-Ghazali, karya Zainal Abidin Ahmad. Maka penulis dalam menggunakan sumber ini dengan cara menelaah terhadap sumber-sumber primer serta sumber sekunder dan karya lainnya yang mendukung bagi penulisan skripsi ini.
4. Metode Analisis Data
Analisa data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis data yang telah terkumpul untuk meningkatkan pemahaman penelitian tentang kasus yang diteliti dan mengkajinya sebagai temuan bagi orang lain. Dalam menganalisis data yang telah terkumpul, penulis menggunakan alur pemikiran deduktif, dan induktif, dengan mengedepankan pola pikir Reflektif, yaitu berfikir dalam proses mondar-mandir secara cepat antara induksi dan deduksi, antara abstraksi dan penyajian.
Penelitian ini menggunakan beberapa metode sebagai berikut:
a. Diskriptif-analisis
Dalam menganalisa pembahasan ini, penulis menggunakan metode diskiptif-analisys, dimana data-data yang terkumpul diuraikan, ditafsirkan, dibandingkan persamaan dan perbedaannya dengan fenomena tertentu yang diambil bentuk kesamaannya serta menarik kesimpulan. Dan lebih tepat jika dianalisa menurut dan sesuai dengan isi atau menggunakan metode Content Analysis (analisis isi) yaitu merupakan analisis ilmiah tentang isi pesan atau komunikasi yang ada. Untuk merealisasikan metode Content Analysis ini terkait dengan data-data. Maka data-data yang sudah ada baik diambil dari sumber data primer maupun skunder, kemudian dianalisis sesuai dengan isi materi yang dibahas, dan dapat meyakinkan serta menemukan data-data tersebut mendukung kajian Konsep al-Gazālī tentang Kompetensi Kepribadian.
b. Koherensi Internal
Metode koherensi internal ini digunakan dalam rangka membedah dan mengintrepertasikan pemikiran seorang tokoh, semua konsep dan segala aspek yang dilihat menurut kesalarasannya antara yang satu dengan yang lain. Metode ini bertujuan untuk mencari koherensi dan kesesuaian gagasan tentang konseptual kompetensi personal guru menurut Al-Gazālī dengan kompetensi personal dalam UU. No. 14 tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.


G. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan di dalam penyusunan skripsi ini dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu Bagian awal, bagian inti dan bagian akhir. Adapun bagian awal terdiri dari halaman judul, halaman surat pernyataan, halaman persetujuan pembimbing, halaman pengesahan, halaman motto, halaman persembahan, abstraksi, kata pengantar, daftar isi.
Bagian tengah berisi uraian penelitian mulai dari bagian pendahuluan sampai bagian penutup yang tertuang dalam bentuk bab-bab sebagai satu-kesatuan. Pada skripsi ini penulis menuangkan hasil penelitian dalam empat bab. Pada tiap bab terdapat sub-bab yang menjelaskan pokok bahasan dari bab yang bersangkutan. Bab I skripsi ini berisi gambaran umum penulisan skripsi yang meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, Kajian pustaka, Landasan teori, metode penelitian dan sistematika pembahasan.
Skripsi ini merupakan kajian pemikiran tokoh, maka sebelum mengkaji secara mendalam pemikiran sang hujjah al-Islam, al-Gazālī, perlu terlebih dahulu mengemukakan realita politik, sosio-ilmiah dan keagamaan yang mempengaruhi atau membentuk pemikirannya. Hal itu dituangkan dalam bab II. Dan dalam bagian ini juga menjelaskan dialektika al-Gazālī dengan beberapa golongan intelektual yang telah banyak membantu ia dalam mencari kebenaran hakiki. Pertemuan dengan beberapa golongan intelektual ini al-Gazālī mengalami perkembangan pemikiran. Hal ini membuat al-Gazālī memiliki corak pemikiran tersendiri, yang penting diutarakan dalam bab ini. Di sisi lain juga diungkapkan hasil karyanya yang mempengaruhi dunia Islam.
Setelah menjelaskan riwayat hidup dan hal-hal yang melatarbelakangi pemikiran al-Gazālī, pada bagian selanjutnya, yaitu bab III difokuskan kepada konsep kompetensi personal guru menurut al-Gazālī. Kemudian rumusan itu dilihat relevansi dengan konsep guru dewasa ini, yaitu menurut UU No. 14 tentang guru dan dosen tahun 2005, sehingga itu menjadi formulasi guru yang kontekstual untuk menjadikan sosok guru sebagai guru yang patut ditiru dan dipercaya ditengah gempuran globalisasi.
Adapun bagian terakhir dari bagian inti skripsi ini adalah bab IV. Bab ini merupakan penutup dari keseluruhan penelitian ini. Bab penutup ini mengutarakan simpulan dari hasil penelitian dalam mengkaji khasanah pemikiran al-Gazālī tentang kompetensi personal guru. Kemudian berdasarkan penemuan konsep kompetensi kepribadian penulis memaparkan saran-saran buat beberapa pihak dan di akhiri dengan kata penutup.
Akhirnya, pada bagian akhir dari skripsi ini terdiri dari daftar pustaka dan berbagai lampiran yang terkait dengan penelitian.

0 Response to "PERSONAL TEACHER COMPETENCE"

Post a Comment