Manusia Tauhid

Seluruh manusia diyakini terlahir ke dunia ini dalam keadaan fitrah, yakni bertauhid. Ia pada dasarnya memerlukan suatu bentuk kepercayaan kepada sesua-tu yang ghaib, sebab itulah disebut makhluk religius yaitu makhluk yang memi-liki bawaan primordialisme untuk beragama dan percaya kepada Allah. Atau, makhluk yang selalu mencari dan merindukan Allah, sang Ghaib tadi. Dengan ungkapan lain, gejala dan kecenderungan bertauhid adalah sebuah fenomena universal yang terdapat pada kehidupan semua manusia tanpa terkecuali.
Inilah fitrah manusia yang secara given memiliki potensi bertuhan sejak kelahirannya. Diriwatkan oleh Imam Muslim bahwa Nabi Saw.bersabda, "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (bertauhid). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, Nashrani atau Majusi". Rasulullah menegaskan sekalipun seorang itu terlahir fitrah, namun ia dapat saja berubah menjadi kafir. Sebab memang kenyataannya pilihan lebih lanjut keagamaan seseorang sangat di-pengaruhi oleh kondisi obyektif lingkungan di mana ia hidup dan berkembang.
Untaian kata-kata tauhid dalam Islam dinyatakan dalam kalimat laa ilaaha illallah, Allah sebagai satu-satunya Tuhan (The only God). Sebuah ungkapan al-nafyu kemudian al-istbat, menolak Tuhan kemudian meneguhkan-Nya (negasi ke-mudian konfirmasi). Timbul pertanyaan kenapa demikian?
Pernyataan negasi 'tiada Tuhan' adalah starting point proses liberasi (pem-bebasan) iman terlebih dahulu dari segala bentuk belenggu yang dapat merusak keimanan kepada Allah. Negasi sebelum konfirmasi ini mutlak dilakukan sebab problem utama menuju manusia bertauhid sebenarnya bukanlah ketidakpercayaan kepada Allah, sebab percaya pada-Nya adalah keadaan yang paling alamiah atau natural. Dalam konteks ini al-Quran memberikan ilustrasi bahwa sebab kekufuran orang-orang Mekkah Jahiliyah adalah bukan karena sikap ateis, akan tetapi karena kepercayaan lain yang membelenggu kepercayaan mereka kepada Allah, "Dan jika engkau (Muhammad) bertanya kepada mereka (kaum musyrik), siapa yang menciptakan langit dan bumi. Pastilah mereka akan menjawab: Allah. Maka bagaimana mereka dapat terpalingkan (akan kebenaran)" (Q.S az-Zukhruf/43:87)
Setelah negasi ini baru kemudian konfirmasi yaitu penetapan, illallah. Pe-netapan, peneguhan dan mengaktualisasikan fitrah bawaan yang mendasar tadi hanya tertuju kepada Allah tanpa sekutu, kesamaan, atau hal lain yang memiliki sifat ilahiyah, kecuali Allah semata. Dengan demikian iman memerlukan kemur-nian sejati tanpa reserve agar terhindar dari gejala syirik yang rentan mengganggu iman kita.
Kepercayaan kepada selain Allah menjadi belenggu dan penghalang menuju kebenaran iman. Sekaligus, penyebab gagalnya pencapaian kesempurnaan manusia sebagai makhluk Allah tertinggi (ahsanu taqwim). Sebagaimana ditegas-kan al-Quran, "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya" (Q.S at-Thin/95:4), manusia adalah puncak ciptaan-Nya atau mahkota ciptaan-Nya. Pandangan manusia sebagai puncak dan mahkota cip-taan Allah ini memunculkan doktrin taskhir, bahwa alam beserta isinya memiliki posisi lebih rendah atau di bawah manusia karena Allah telah menundukkan selu-ruh alam ini untuk mereka (Q.S al-Jatsiyah/45:13).
Sebagai sebaik-baik ciptaan Allah manusia hendaknya melihat seluruh cip-taan-Nya 'ke bawah' dengan tanpa menghina agar relasi antara manusia dengan a-lam sejalan dengan 'design' Allah. Yaitu alam diciptakan oleh-Nya agar dimamfa-atkan manusia seluas-luasnya, bukan untuk dijadikan segalanya, tujuan hidupnya, bukan pula untuk disembah atau dijadikan tuhan selain Allah. Maka perbuatan terjahat seorang manusia yang melawan martabatnya sendiri dan yang paling me-rusak iman adalah ketika ia menempatkan posisi alam dan fenomenanya lebih tinggi daripada dirinya sendiri, dengan jalan menempatkannya sama atau seban-ding dengan Allah. Suatu sikap yang menyalahi design Allah tadi. Dan hal itu berarti menjebloskan dirinya pada suatu kegagalan untuk menuju puncak atau mahkota citaan-Nya tadi. Pemahaman sebaliknya pernyataan ini adalah tidak ada perbuatan ma'ruf yang paling luhur nilainya, kecuali bertauhid dengan benar.
Konsep tauhid la illaha illallah tidaklah sekedar keyakinan mengesakan Allah seperti klaimnya kaum monoteis, namun mempercayainya dalam kwalitas-Nya sebagai pencipta seluruh alam, satu-satunya Dzat yang memiliki sifat ilahi-yah dan sama sekali tidak memandang adanya kwalitas lain yang serupa. Tauhid ini dalam bangunan keislaman digambarkan "seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menuju ke langit). Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan izin Allah" (Q.S Ibrahim/14:24-25).

0 Response to "Manusia Tauhid"

Post a Comment