MENGAPA HARUS ISLAM


 
“Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (Q.S Al-Maidah/5:3).

Agama Islam sebagai sistem kepercayaan (faith) mengandung ajaran yang bernada ajakan.  Sebagai ajakan Islam hanya menawarkan pilihan kepada umat manusia untuk mempercayai atau mengingkarinya, “... maka barangsipa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir (Q.S al-Kahfi/18:29). Islam tidak memuat ajaran yang memaksa, kecuali adanya konsekwensi bagi orang-orang yang mempercayai atau memeluk Islam se cara suka rela mengikrarkan diri (shahadat) menjadi penganut agama Islam. Sebaliknya terhadap orang yang mengingkari, Islam tidak memiliki hak kepatuhan apa pun yang berdimensi agama apalagi mempercayai ajaran agamanya, “tidak ada paksaan dalam agama (Islam)” (Q.S al-Baqarah/2:256).
Manusia dengan demikian diberikan Allah kebebasan secara penuh untuk mentati atau menolak petunjuk Islam. Sebab, yang dikehendaki Allah adalah ketulusan beragama dengan tidak membenarkan segala paksaan dalam bentuk nyata atau terselubung, besar atau sekecil-kecilnya yang justru akan menyebabkan ketidaktulusan dalam beragama, “Padahal manusia tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (dalam) menjalankan agama yang lurus (Q.S al-Bayyinah/98:5). Yang dijadikan ghayah oleh Islam adalah kehidupati manusia yang mashlahat. Allah sedemikian besarnya di mana rahmat-Nya pasti menyentuh seluruh makhluk-Nya, “Dia (Allah) telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang” (Q.S al-An’am/6:12). Allah bias jadi “mengalah” dan menganugerahkan hak-Nya tadi -kasih sayang, demi hasil karya seni-Nya yang paIing sempurna (Q.S at-ThiiiI95:4), yaitu manusia.

Beberapa Fondasi Islam
Sebagai orang yang secara suka rela telah mengikrarkan untuk menjadikan Islam sebagai way of live kita masih perlu mengajak diri kita semua mengajak kepada agama ini sekalipun telah menyatakan beragama Islam. Karena kenyataan yang ada sekarang ini kita belum bisa mengaplikasikan ajaran-ajaran Islam dan belum bisa berkomitmen terhadap ajaran Islam dalam kehidupan kita sehari-hari. Buktinya, mana Islam dalam kehidupan bernegara kita? Manakah Islam dalam etika bisnis dan politik kita? Mana Islam dalam wahana informasi kita? Mana Islam yang mencerminkan perilaku kita, baik yang berhubungan dengan individu maupun masyarakat? Mana Islam dalam tradisi dan budaya hidup kita? Pertanyaan-pertanyaan ini mendesak untuk dipikirkan bersama karena berlarut-larutnya kegamangan umat Islam sendiri dalam memahami agamanya.
            Islam adalah sebuah kata dalam bahasa Arab yang berarti pasrah, menyerah dan patuh (al-kudhu wa al-inqiyad). Dalam pengertian sebagai agama ini, Islam berarti pemasrahan diri dan kepatuhan sepenuhnya kepada Allah dalam semua perintah dan larangan-Nya. Arti lainnya adalah damai. Hal ini berarti, kebahagiaan dan kedamaian lahir maupun bathin hanya bisa dicapai melalui jalan Allah ini, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah” (Q.S ar-Ra‘d/13:28). Islam, karena totalitas pandangannya terhadap Allah disebut agama tauhid, sebagai inti dan ajaran-Nya (Amien Rais, Tauhid Sosial, 35). Seorang mufassir Allamah Thabathaba’i mengatakan bahwa tauhid apabila diuraikan akan menjadi keseluruhan Islam, dan Islam jika dirangkum akan diperoleh intinya yaitu tauhid.
Pesan di atas disampaikan oleh semua Rasul Allah dari zaman ke zaman, akan tetapi manusia tidak saja terus menerus menyeleweng dari ajaran Allah namun juga mereka merusak pedoman yang telah disampaikan ini. Karena itulah Rasul-rasul lainnya dikirim untuk untuk menempatkan kembali ajaran Allah itu pada rel semula di mana urutan silsilah terakhir adalah nabi Muhammad SAW. Beliau membawa pesan dalam bentuknya yang terakhir yang dikenal dengan Islam (al-islam), “... tetapi dia (Muhammad) adalah Rasulullah dan penutup para nabi” (Q.S al-Ahzah/33:40). Dari pembahasan singkat ini, seseorang menjadi penganut agama Islam dengan jalan beriman kepada Allah dan kerasulan Nabi Muhammad SAW. Yang dirumuskan dalam kalimah laa ilaaha illallah, Muhammad rasulullah.
Bagian kedua Muhammad rasulullah mengandung pengertian bahwa Allah tidaklah membiarkan manusia begitu saja tanpa pedoman untuk dijadikan indeks dan pijakan hidup mereka di dunia. Allah telah mewahyukan pedoman-Nya melalui para rasul di mana nabi Muhammad adalah utusan-Nya yang terakhir. Percaya kepada Rasul berarti juga keniscayaan untuk percaya kepada pesan yang disampaikainnya, menerima hukum dan mengikuti apa yang disampaikannya. Jadi dasar Islam yang kedua sesudah tauhid tadi adalah beriman kepada kerasulan Muhammad SAW., menerima agama yang dibawanya (Islam) dan mengikuti ajaran yang dibawanya baik al-Quran maupun sunnah beliau.
Nabi Muhammad adalah seorang utusan, tetapi juga manusia biasa (Q.S Ali Imran/3:144). Justru karena beliau itu sepenuhnya manusia, maka Nabi SAW merupakan model par-excellent bagi manusia untuk diteladani, “Dan pada diri Rasulullah itu terdapat teladan yang baik” (Q.S Al-Ahzab/33:21). Dan dalam penerimaan kerasulan beliau berarti percaya bahwa Nabi SAW adalah utusan Allah untuk mengajarkan ajaran-ajaran-Nya, mengikuti teladan beliau dalam berpikir dan tingkah laku, dan hukum halal-haram yang digariskan syariah. lnilah makna firman Allah surat an Nisa ayat 64, “Tiadalah Kami mengutus seorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah “.
Kenyataan mi menimbulkan beberapa pertanyaan; apakah orang yang mengikuti agarna Allah dan ajaran rasul-Nya memiliki derajat lebih tinggi dan yang menolak? Apa konsekwensi dan tingkah laku yang berbeda ini? Kedua persoalan ini membawa kita pada dasar kepercayaan Islam yang ketiga, yaitu percaya kepada kehidupan hari akhirat.
Dunia ini menurut Islam adalah tempat ujian yang akan berakhir. Manusia akan mempertanggungjawabkan kehidupan dunia di hadapan Allah kelak, dan memperoleh balasan baik atau buruk, memperoleh kebahagiaan atau malapetaka sesuai dengan amal perbuatannya di dunia, “Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat maka bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul beban orang lain” (Q.S aI-Isra/17:15).
Dengan demikian terdapat tiga ajaran Islam yang paling mendasar. Pertama, iman pada keesaan Allah SWT. Kedua, iman kepada kerasulan Muhammad serta wahyu dan segala isi yang dibawanya. Ketiga, iman pada kehidupan setelah mati serta pertanggung jawaban manusia di pengadilan Allah kelak.

0 Response to "MENGAPA HARUS ISLAM"

Post a Comment